123, Example Street, City 123@abc.com 123-456-7890 lasantha.wam

Writing is the most fun you can have by yourself. - Terry Pratchett

Showing posts with label Ibroh. Show all posts
Showing posts with label Ibroh. Show all posts

Sunday, October 29, 2017

Tahu Rasanya Mati?



Kamu terlihat sangat lelah. Mukamu kucel. Jilbabmu sudah jauh dari kata rapi. Sudah tidak seperti tadi pagi yang serba wangi. Tapi kamu tak peduli. Kamu terus berjalan melewati mereka. Lalu sempoyongan menaiki anak tangga. Tangan kananmu menenteng sebuah plastik kresek berisi makanan. Tangan kirimu juga membawa es kopi yang kamu beli di warung depan. Ditambah lagi beban dipunggungmu yang sedari pagi menggendong tas berisikan beberapa buku dan sebuah laptop. Tapi kamu bodo amat. Kamu tetap semangat menaiki anak tangga menuju lantai paling atas. Meski tersandung-sandung, kamu tak peduli. 

Sekarang kamu sudah sampai di tangga terakhir. Tersisa 3 anak tangga lagi untuk bisa melihat pintu kamar kosan. Dan akhirnya kamu sampai. Sekarang kamu berdiri beberapa meter dari pintu kamar kosmu. Hampir saja mau melangkahkan kaki, tapi tak jadi. 

Sesuatu membuatmu terkejut. Ada sosok misterius di samping pintu kamarmu. Wajahnya samar2. Silau. Entah terkena sinar lampu atau bagaimana. Yang jelas dia seorang lelaki berkopyah. Umurnya mungkin sudah 50 an. Tapi dia tidak melihatmu. Karena penasaran dan deg-degan, segera kau berbalik badan lalu kau sembunyikan badanmu yang kurus itu di balik dinding tangga. Kamu bersembunyi di situ sambil memantaunya dari jauh. Kamu gemeteran, tapi penasaran. Lelaki itu tersenyum, namun sesekali menghela napas panjang tapi tidak terdengar napasnya. Kau memantaunya terus, tanpa berkedip. Setelah beberapa menit berdiri, ia mulai menjauh. Ia berjalan menjauhi kamarmu dengan wajah menunduk. Jalannya cepat sekali. Kamu pun memutuskan untuk terus mengikutinya karena penasaran. 

Kamu berlari mengejarnya. Berlari hingga napasmu tersengal-sengal. Hingga akhirnya kamu tiba di padang pasir yang tandus dan sunyi. Tiada siapapun kecuali kau dan lelaki tadi yang kini berjalan beberapa meter di depanmu. Kamu mengamati sekeliling. Memang tidak ada siapa-siapa. Kamu terus mengikutinya. Tapi lama-lama jalannya menjadi semakin pelan. Sepertinya ia kelelahan. Tak beda jauh dengan ragamu yang akhirnya tertidur pulas di kasurmu yang penuh dengan kertas fotocopyan. 

Ia berhenti sebentar. Lalu duduk dan meluruskan kaki. Tak lama kemudian kamu melihat seorang anak kecil mendekatinya. Ia menggenggam sesuai. Lalu diberikan kepada lelaki paruh baya itu. “Assalamualaikum. Pak, saya punya 2 buah apel untuk bapak. Semoga dapat memberikan energi pada tubuh bapak.” Dengarmu samar-samar. Lelaki itu menerimanya. Lalu memegang tangan anak kecil itu dan berkata, “Terimakasih nak. Kalau boleh tahu, dari mana kamu mendapatkannya nak? Pandangannya beralih ke arah apel yang digenggamnya.
“Apel pertama dari istri bapak. Apel kedua dari putri kedua bapak. Kedua apel ini adalah wujud dari surat fathihah yang telah mereka bacakan kepada bapak. Barusaja mereka membacanya.” Lelaki itu tertegun. Lalu meneteskan air mata. Sepertinya ia terharu.
Setelah bicara ini itu, anak kecil itu pamit. Lelaki paruh baya itu pun lantas memakan kedua buah apel dari istri dan putri tercintanya. Sementara kamu sedari tadi hanya diam membisu. Namun tatapanmu masih tajam, tak henti-hentinya mengamati perilaku lelaki misterius itu. “Ahh kenapa wajahnya masih saja samar-samar? Tapi dari postur tubuhnya.. …” Kamu berhenti bergumam. Air matamu menetes. Mungkin kamu lelah. Atau teringat sesuatu?

Ya. Kamu teringat sesuatu. Kamu ingat sekarang. “Ini malam Jumat?” Kamu mulai mengingatnya. Kamu menangis sejadi-jadinya. Lalu berlari entah kemana. Ruhmu berlari kencang. Napasmu tersengal-sengal. Lalu jatuh. Ambruk. Tersandung kayu yang tergeletak di halaman depan rumah. Ya. Sekarang kamu berada di rumah. Rumah keluargamu yang sudah kau tinggal lama. Ternyata suasana rumahmu masih seperti biasanya. Tidak berubah. Masih sepi dan sunyi. Masih terdengar suara jangkrik yang bersaut-sautan. Malam di rumahmu memang selalu begitu. Tak jauh berbeda dengan suasana di padang pasir yang kau kunjungi beberapa menit lalu. 

“Buk? Ibuk? Aku pulang!” teriakmu sambil berlari ke dalam rumah. “Ibuk? Adek? Kalian di mana?” teriakmu lagi. Namun tidak ada balasan. Mereka tidak menjawab. Tapi kamu mendengar jelas suara itu. Suara mereka mengaji, entah di mana. Kamu berjalan cepat ke kamar depan. Tapi kau tak menemukannya. Lalu beralih ke kamar belakang. Tapi tak juga ada. Lalu kau beringsut ke ruangan di sebelahnya. Tepat. Ternyata mereka berdua sedang mengaji di ruang persholatan. Mereka tampak khusyu’ membaca al-Qur'an. “Hmmmmm.” Kamu menghela napas panjang. Hatimu lega. “Ibuk. Ibuk sudah baca Yasin kan? Ima kelupaan,” katamu sambil bersandar di dinding persholatan. Lalu kamu mendekat. Menyentuh pundak ibumu. Tapi ada yang aneh. Beliau tidak meresponmu. “Dek?” Kamu menyapa lagi sambil menepuk bahu adikmu. Tapi tetap saja, mereka tidak meresponmu. “Ibuk??????” Kamu jadi panik. “Ahh apa yang terjadi dengan diriku? Mereka tidak melihatku? Mereka tidak mendengarku??” gerutumu dalam hati. Air matamu menetes. Kamu menangis lagi. Lalu melangkah meninggalkan mereka. Kamu berjalan gontai menuju ruang tamu. Lalu duduk di kursinya. Kamu tertunduk. Diam. Lalu menghela napas panjang. “Huuuhhhhhhhhhh.” Dan seketika kamu berhenti menangis.
“Maafkan aku pak, dunia memperdayaiku,” katamu lirih sambil menatap tajam ke arah jendela.

Pikiranmu mengembara lagi. Menstimulasi kakimu untuk melangkah lari. Ya. Lagi-lagi kamu berlari kencang. Sang waktu seolah menyeretmu. Kamu merasa kesal, namun tak punya daya. Sepanjang jalan pikiranmu terbelah. Kamu memikirkan Ibumu Di rumah. Pun tugas ini-itu mu yang belum juga terselesaikan. Harusnya kamu tetap berada di rumah. Tapi kamu juga harus meneguk kopi agar kantukmu hilang dan bisa nugas lagi. Tapi hal-hal itu malah tak kau hirauan. Kau hanya memikirkannya namun tindakanmu berkebalikan. Kau makin menjauhi rumah. Pun tak mampu sedikitpun menggerakkan tangan kananmu untuk mengambil kopi. Ragamu terlalu lelap. Sementara ruhmu hampir frustasi. 

Kamu terus saja berlari. Di hantam angin dini hari, pun diserbu cemas yang tiada henti. Langkahmu benar-benar tidak bisa dihentikan. Kamu seperti disetir oleh intuisi. Disetir ke sebuah tempat yang sebenarnya ingin sekali kau kunjungi, tapi alam sadarmu tidak menyadari. Ya. Intuisi itu mengarahkan langkahmu. Dan sekarang kau sudah sampai.

Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya kau sampai di suatu tempat yang kau kunjungi diawal perjalananmu malam ini. Padang pasir. Ya. Kau sampai di padang pasir lagi. Tapi sekarang kau sendiri. Benar-benar sendiri. Rasa takut dan khawatir pun perlanan mencengkeram ruhmu. Bukan takut kegelapan, bukan. Bukan pula takut akan kesendirian. Tapi kamu takut, kamu tidak bisa lagi memantau perjalanan-nya; sosok lelaki misterius yang kini sudah kamu ketahui identitasnya. Kamu takut ia kelelahan. Kamu tidak tega bila ia sendirian. Lalu kamu memutuskan untuk tetap di situ. Kamu akan tetap tinggal di padang pasir itu, hingga kau bisa menemukannya dan mencium kedua tangannya. Tapi nampaknya lelaki paruh baya itu sudah pergi. Entah. Mungkin perjalanannya masih panjang. Mungkin juga sudah sampai tujuan. 

Dadamu mulai sesak. Lalu kamu mulai terisak. “Tunggu aku! Aku ingin menemanimu!” katamu lirih.
Lelah menangis, kamu akhirnya ambruk. Memeluk pasir. Hanyut ke dalam mimpi-mimpi. Seperti mimpimu malam ini. Ya. Kau sejatinya sedang bermimpi. Tak sadarkah kau?
“Ima Im.. Bangun nak! Bapak di sini!”
Tapi suara itu bukan mimpi. Sama sekali bukan mimpi. Kamu tahu persis itu benar-benar suara lelaki paruh baya yang sedang kau cari-cari. Lalu kau berusaha bangun. Kau kumpulkan ruhmu. Lalu menyapanya.
“Bapak? Bapak di sini?” Ia hanya menimpalinya dengan senyum. Lalu buru-buru pergi lagi. Ia melangkah cepat entah kemana. Seakan tidak mau kalau kamu ikut bersamanya. “Bapak!” teriakmu lagi. Kau coba mengejar, tapi kakimu teramat kaku. Kakimu tidak bisa digerakkan sama sekali. “Pak, tunggu!” Tubuhmu semakin kaku. Seperti diikat kuat, tidak bisa ke mana-mana. Lalu sekuat tenaga kau paksa kakimu melangkah. Kau memaksanya, dengan sisa kekuatan yang kau punya. “Bapakk tungguuuuu!!!!” Teriakanmu makin keras. Hingga akhirnya kau berhasil mendobrak pintu alam sadarmu. 


—BRAKKKKKK—– (Kamu terjun dari ranjang)

Matamu melotot. Lalu lompat ke atas ranjang. 
“Astagfirullah…. INI MALEM JUMAT???? KU BELOM BACA YASIN!! BELOM BACA APA-APA!!!!” 
Demikianlah keluhmu, mengakhiri perjalanan mimpi di malam ini.

***

Bapak memang begitu. Selalu saja menemuiku tiap kali aku nakal. Tapi sekarang tidak lagi. Entah. Sudah berbulan-bulan ia tidak menemuiku lagi. Padahal aku sedang nakal-nakalnya. Apa dia marah? 

Pak, tahu tidak? Mimpiku hampa tanpamu. Kapan alam bawah sadarku bisa menemani perjalananmu lagi? Aku ingin tahu rasanya mati. Biar aku tidak nakal lagi. (:


-theEnd-



Tembalangsweet, 18/10/17 | ©DFZ


  

#kelasmenulismediaberkarya
#kmmdk
#kmmdk03
#mediaberkarya
#dikerjakandalamtempoyangsesingkatsinfkatnya
#harapmaklum:v

Friday, May 19, 2017

Tidak Bisa Tidur

Sedari pagi, hingga pukul 22.30 tadi, saya baru bisa berdiam diri. Hari ini memang sesuatu sekali. Ditambah besok pagi2 sekali harus sudah siap berangkat lagi. Hmm..
Tapi bukan itu yg ingin saya utarakan. Sebenarnya saya cuma mau bilang, “Saya rindu seseorang.” Ya, saya mendadak rindu padanya. Ia; yg saya rindukan, adalah seorang lelaki yang tak bisa saya sentuh dengan jemari saya sendiri. Ia sosok berharga yg pernah saya miliki. Saya pernah berjanji untuk selalu membuatnya bahagia. Ia pun sama. Tapi bedanya, saya baru bisa membahagiakannya lewat lisan saja, sedangkan dia selalu membuktikannya dg tindakan. Ia memang begitu istimewa. Dan sekarang saya merindukannya.

Satu hal yang membuat saya rindu adalah ketika kita bisa ngobrol, berbincang2 membahas segala hal yg ada di sekitar kita, sambil makan singkong goreng bikinannya, berdua saja. Biasanya kita membahas berita2 yg sedang hangat2nya. Kadang kita berdiskusi, kadang pula saya cuma manggut2 dan banyak tanya karena nggak terlalu aware dg beritanya. Tak jarang pula dia cerita tentang masa depan. “Setelah ini mau lanjut kemana? Mau jadi apa?” begitu tanyanya. Lalu saya jawab begini, “Aku mau jadi dosen ajalah. Tapi nanti bikin2 buku jugaa.” “Oh, sudah nggak mau jadi kayak mbak Najwa Shihab lagi?” tanyanya lagi. “Jurnalis ya.. Aduh jadi bingung mau milih yg mana.. Kalo jadi dosen, nulis, sama jurnalis gitu jadi satu bisa nggak?” kata saya dengan muka polos. Ia pun tertawa sambil menepuk2 pundak saya. Itu perbincangan saya beberapa tahun silam. Sudah lumayan lama. Paling2 10 tahunan yang lalu. Dan anehnya masih saya rindukan hingga sekarang. Padahal kita sudah berpisah lama. Kira2 2 tahunan yg lalu, saat dia memutuskan untuk pergi. 


Well.. dia ini lelaki paling berharga di hidup saya. Dia mengajari saya banyak sekali pelajaran hidup. Salah satu pelajaran berharga yg selalu saya ingat hingga sekarang yaitu, pelajaran tentang cara kita memanusiakan manusia. Ia banyak mengajari saya tentang itu. Lewat perilakunya sehari2, juga nasihat2nya. Ia memang bukan orang yg ‘alim atau yg punya pengetahuan agama setinggi ustadz. Ia bukan pula sosok yg rajin sholat berjamaah ke masjid. Tapi bagi saya, ia begitu istimewa. Caranya memanusiakan manusialah yg membuat saya jatuh cinta. Manusia2 di sekelilingnya pun banyak yg jatuh hati padanya. Ia memang pandai sekali mencuri hati setiap insan di bumi Tuhan. Ia bahkan sering sekali membuat saya cemburu lantaran selalu menomorsatukan manusia2 di sekitarnya. 

Pernah suatu hari, saya baru pulang dari rantauan. Saat itu saya sangat rindu menghabiskan waktu dgnya. Saya pun mengajaknya jalan2 keliling kota. Kami menghabiskan perjalanan itu dg begitu bahagia. Saat saya sedang asik bercerita, tiba2 ia memutar setir, menepikan mobil, lalu berhenti. Saya kaget. “Loh, kenapa berhenti? Ada yg mau dibeli?” Lalu dia bilang, “Ayo turun! Kita makan di sini!” Saya pun turun dan manggut2 saja. Tapi belum sempat melangkahkan kaki, saya terkejut lagi. Ternyata ia membawa pasukan. “Kenapa mereka di sini juga?” tanya saya kesal. “Iya dek, kami mau ngomongin pekerjaan. Gpp kan?” “Lah, kenapa di tempat makan? Kan bisa nanti di rumah,” protes saya kesal. Omongan saya pun tak dihiraukan. Mereka jadi keasikan ngobrolin dunianya, sedangkan saya cuma diam, serasa makan sendirian. Ia memang sering begitu. Selalu ada waktu untuk berkumpul dan membahagiakan orang-orang kepercayaannya. Sedangkan saya, selalu ia nomor duakan. Hal2 seperti itulah yg membuat saya cemburu. Menurut saya, ia terlalu sibuk membahagiakan orang lain, dari pada keluarganya sendiri. Tapi itu dulu. Sebelum saya tahu makna yg tersirat di dalamnya. 

Kau tahu, apa yg berhasil ia dapatkan dari tindakannya itu? Sudah 2 tahun lalu ia pergi, meninggalkan dunia. Dan sampai sekarang, orang2 kepercayaannya tetap setia mendampingi keluarga yg ditinggalkannya. Ya, mereka yg dulu sempat saya cemburui, kini menjadi orang2 yg sangat peduli pada keluarga saya. Mereka adalah orang pertama yg selalu ada, selalu hadir tanpa diminta. Selalu meluangkan waktu untuk melakukan pekerjaan2 yg keluarga saya tidak mampu untuk melakukannya. Ia selalu ada. Untuk saya dan keluarga. Sudah 2 tahun lamanya sosok lelaki pencuri hati itu pergi. Tapi tangan kanan - tangan kanannya masih sangat setia mengorbankan peluhnya untuk keluarga saya. Pagi hingga petang, petang hingga malam, tak kenal lelah mereka bekerja. Untuk keluarganya, jg untuk keluarga saya. Ya, mereka menjadi sebab kebaikan bagi keluarga saya. 

Dan kini saya menyesal, mengapa dulu saya sempat cemburu. Mengapa dulu saya tidak melihat makna positif dari apa yg diperlihatkan lelaki yg kerap saya panggil ayah itu. Dulu saya terlalu cemburu karena saya merasa dinomorduakan. Saya merasa cemburu lantaran setiap kali saya pulang dari ma'had, saya hanya bisa memandangi rutinitas ayah yg terlalu sibuk dg mereka; yg kini sangat saya damba. Ya, saya sangat menyesal, pernah menjadi se-childish itu. Tapi kini, saya sangat memahami makna dibalik sikap ayah. Ternyata ia ingin mendidik saya. Dan sekarang ia berhasil. Ia berhasil mengajari saya tentang bermacam2 pelajaran hidup. Bukan hanya tentang cara memanusiakan manusia, tapi lebih dari itu. Banyak sekali. Banyak sekali. Dan kini saya sangat merindukannya. Rindu menggebu, yg entah dg cara apa bisa terluapkan. Mungkin akan abadi, hingga kelak, bila waktunya kami dipertemukan. 

Seandainya, malam ini saya dipertemukan dalam mimpi, saya cuma mau bilang satu hal. Satu hal saja. Saya cuma mau bilang,
“Ayah, terimakasih!”
Sudah, itu saja. Sepertinya sudah kepanjangan. Terimakasih sudah mendengarkan. Selamat malam. :) 


Semarang, 15 April 2017 | ©DFZ

Tuesday, February 7, 2017

The Main Point is "Acceptance"

"Baiklah. Kau kukuiklaskan. Kukembalikan pada Tuhan."

Nyatanya, untuk mengeluarkan ungkapan semacam itu, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh kesabaran, juga kerelaan. "Kudu ikhlas," kalau kata ustajah sih begitu. 



Well.. Actually, the main point is "Acceptance". Kamu akan mengetahui & merasakan sisi baikmu, apabila kamu telah *menerima sisi surammu. 
 
Anggaplah bahwa *move on (pindah ke lain hati)* adalah sisi baik, dan *mantan* adalah sisi suram. Dimana mereka bilang, berhasil move on adalah puncak dari kebahagiaan dan mengingat mantan adalah sumber dari sirnanya kebahagiaan. Lalu berkembanglah dogma bahwa cara paling ampuh untuk bisa move on adalah dg *menolak keberadaan Mantan*. Menutup rapat2 telinga, dan menghindar dari apa2 yg berbau mantan. Yaaa barangkali mereka beranggapan bahwa dg menghilangkan sisi suram dalam hidupnya, maka kebahagiaan akan mereka rasakan.
Benar begitu kan? Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa kunci dari kebahagiaan itu terletak pada sejauh mana mereka bisa menerima sisi2 suram yg ada dalam hidupnya. Bukan malah mengingkarinya. 

Anggaplah bahwa jatuh cinta itu salah satu hal yg bisa membuat orang bahagia, dan patah hati itu sebab dari hilangnya kebahagiaan itu sendiri. Lalu utk bisa jatuh cinta lagi, kamu melarikan diri dari hal2 yg bisa membuatmu patah hati. Menciptakan berbagai macam *penolakan* atas hal2 yg membuat memar ulu hati. Menolak keberadaan mantan, menghindari tempat2 bersejarah yg bila kau melewatinya hidungmu akan mencium bau mantan, dan lain sebagainya. Seakan-akan kau ingin melenyapkan sosok bernama mantan beserta embel2nya dari alam semesta. Dan apabila kamu dapat melakukannya, kamu akan merasa puas luar biasa. Sebab menurutmu itulah cara paling ampuh menuju bahagia.
Tapi lucunya, ketika kamu tidak sengaja berpapasan dg sisi surammu itu, hatimu kembali memar tak ketulungan. Air di pipimu mengucur begitu saja. Menangisi sisi suram bernama mantan yg katamu sudah kau bumihanguskan. Yuhu, pada akhirnya penolakanmu atas hal2 suram dalam hidupmu hanya akan membuatmu terus bergelayut pilu. Dan apabila tidak segera ditangani, akan melahirkan berbagai macam penyakit hati. Membenci mantan, memutuskan hub. persahabatan dg mantan, mengingkari keberadaan mantan di bumi Tuhan, itu termasuk dari jenis2 penyakit hati kan?
So, what should you do?
Kembali lagi pada kalimat awal,
Actually, the main point is Acceptance. Kamu akan mengetahui & merasakan sisi baikmu, apabila kamu telah *menerima sisi surammu. Yap. Kamu akan bisa merasakan kebahagiaan, apabila kamu telah *menerima* ketidakbahagiaanmu.

Anggap saja move on adalah sumber kebahagiaan, dan mantan adalah sumber dari sirnanya kebahagiaan. Maka terimalah kenyataan itu. Kenyataan bahwa mantanmu yg dulu selalu kau dambakan, bukanlah sosok terbaik yg dipilihkan Tuhan. Terima, nikmati, syukuri. Bahwa kebahagiaan itu ada ketika kau mampu menerima dan *mensyukuri apa2 yg tidak kau sukai.
Memang begitu, sekali2 kau memang perlu berbincang2 dg sisi surammu. Mengenalnya lebih dekat, menerimanya, lalu bersyukur sebanyak-banyaknya.
Bahwa tanpa adanya sisi suram, manusia tak akan pernah mengenal kebahagiaan.
Bahwa melalui sisi suram, Tuhan ingin mengajarimu banyak hal.
Benarkan? SekiaEnd. 

°
°
°

Oiya kelupaan.
Cuma mau bilang, btw tulisan ini saya buat sebagai respon dari kejenuhan saya akan banyaknya teror pertanyaan model begini, "Bu psikolog, caranya buat muvon gimana ya bu? Aku begini begene dan begono nih... then blablablablablaaaa"
Lalu aku cuma ketawa dan bilang, "Wakwak.. mantan? Dibuang sayang, ditimbun jadi sampah pikiran. Lalu mau kau apakan?"
Dan kami pun terbahak-bahak.
"Adoh bro..bro, coba aku tau caranya. Pasti sudah kuobati diriku sendiri jauh2 hari," kataku dalam hati. :v


Jpr, 7/2/17
~dfz~

Saturday, February 4, 2017

Belajar dari Patah Hati

"Apa? Kau pernah merasakan patah hati yg luar biasa sakitnya? Waw. Sama dong, aku juga. Ah tak usah malu begitu, itu *wajar2 saja kok. Apa lagi utk gadis yg sedang berada di masa penantian sepertimu. Kecuali kalau kau tak mengambil secuil pelajaran pun dari pengalaman itu, barulah kau wajib utk merasa malu. Btw, apa yg kau dapat dari patah hatimu itu? Kau mempelajari sesuatu?" kataku pada sorang sahabat.

"Okelah kalau kau masih belum mau cerita. Tak apa. Sekarang aku yg cerita ya..

Aku juga sama sepertimu. Pernah jatuh cinta, pernah patah hati pula. Lalu jatuh cinta lagi, dan patah hati lagi. Tapi setidaknya aku mengantongi banyak pemahaman dari pengalaman menyakitkan itu. Dan itu yg membuatku bersyukur. Bahwa melalui patah hati lah Tuhan mengajariku banyak hal. Salah satunya, Ia membuatku paham mengapa aku dipatah-hatikan. Ya, Ia membimbingku utk *mengintrospeksi diri. Apa yg salah dg diriku? Apa yg salah dg hatiku? Bukankah jatuh cinta adalah anugerah? Oh, atau barangkali caraku yg keliru? Iya, caraku keliru. Mungkin aku terlalu berlebihan. Mencintai scr berlebihan, melambungkan harapan scr berlebihan, pun menangisi dg berlebihan. Dan cara2 seperti itulah yg pada akhirnya membuatNya cemburu. Lalu Ia pun mengingatkan dg mengenalkanku pada kehilangan. Karna aku tak sanggup memaknai kehilangan, akhirnya aku teridap penyakit patah hati. Ya, aku patah hati, yang sebenarnya itu karena ulahku sendiri. Bukan karena dia atau Dia yg mematah-hatikan. Sebab seandainya cinta yg kutumbuhkan tidak terlalu dalam, pun harapan yg kusemogakan tidak terlalu berlebihan, pasti aku tak akan se-memar itu kan? Semuanya akan biasa saja. Mungkin memang terluka, tapi tak sampai membuatku harus menyeka air mata. Jadi ini salahku, yang telah mencintai dg cara yg berlebihan.

Yap. Begitulah aku memaknai kehilangan. Memaknai patah hati dg mengambil banyak pelajaran. Bahwa patah hati itu hal yg wajar. Yang tidak wajar adalah ketika kau membiarkan hatimu memar, sementara tak ada secuil makna pun  yang dapat kau jadikan pelajaran.

Memang begitu. Berada di masa2 penantian itu memang melelahkan. Mencintai orang yg salah, mengabaikan orang2 yang belum tentu salah, pun menerka-nerka "Apakah dia orangnya? Atau dia yg lain?" yg semua itu hanyalah pengandaian semu yg bila tidak dikondisikan akan membuat hatimu patah.

Maka dari itulah aku mulai mencoba berbenah.
Sekarang aku telah melupakan dia, yg karenanya hatiku patah. Lalu mengagumi dia yg lain, yg entah mengapa mengaguminya membuatku lebih bersemangat utk berbenah. Jadi kupasrahkan saja rasa kagum ini padaNya. Agar rasa ini hanya sebatas kagum saja, tanpa dibumbui oleh cinta (yg semoga hanya *belum pada waktunya). Moga saja dia orangnya ya.. Jangan dia atau diaa. Dia (yg kukagumi) saja. 
Tuhkan aku berandai lagi -.- :v

Yuhu.. Itulah risiko yg harus dihadapi di masa2 menanti, sobat! Masa2 dimana kita harus pandai menjaga diri pun hati. Berat memang. Orang bilang masa2 penjagaan diri memang berat. Makanya jangan dipikul sendiri. Sini curhat! Apa yg kau pelajari dari patah hatimu itu?

Iya, sekarang gantian kamu yg cerita. Apa yg kamu dapat dari patah hatimu itu? Apa kau mempelajari sesuatu?"

jelasku panjang lebar pada sorang sahabat yg kerap kupanggil, "kamu!" (Gak usah sebut nama ah, nanti orangnya malu :v)

Jpr, 3/2/17
-dfz-

Tuesday, January 24, 2017

Jadilah Sebab Kebaikan!

Malam ini ada serbuk kopi yg menempel di *pipi. Aku jd susah tidur. Kepikiran secuil kalimat. Satu kalimat dr ibu dosen yg sayangnya bukan dosen filsafat. Aku sering menyebutnya pesan. Alarm kehidupan lebih tepatnya. Dulu beliau selalu bilang, "Jadilah sebab kebaikan, nak!" Selalu diulang2, tiap kali pertemuan. "Jadilah sebab kebaikan!" Bahkan aku pun tak segan2 mengabadikan kalimat itu di beberapa halaman depan buku catatan. "JADILAH SEBAB KEBAIKAN!" Begitu aku menulisnya. Besar. Memakai huruf kapital. Tebal. Harapannya, agar aku bisa menjadikannya sbg alarm kehidupan. Bahwa hidup adalah untuk menjadi sebab kebaikan. Untuk keluarga, kerabat, orang terdekat, pun semesta. Bahwa menjadi pribadi baik adalah kewajiban. Dan menjadi sebab kebaikan adalah suatu keharusan. 

Dan malam ini, kalimat itu kembali mengusik pikiran. Aku telah lama melupakan satu hal. Entah lupa, atau barangkali baru menyadarinya sekarang. 

Bahwa sudah menjadi suatu keniscayaan bagi seorang anak untuk menjadi sebab kebaikan bagi kedua orang tuanya.

Bahwa sudah menjadi tugas kita (sebagai anak) untuk menata keluarga kita menjadi lebih baik. Lebih baik dari sebelum keberadaan kita di dunia. 

Bahwa menjadi sebab kebaikan adalah sebuah harapan yg selalu disemogakan orang tua manapun kepada buah hatinya. 

Bahwa sudah seharusnya,
aku menjadi sebab lebih baiknya keluargaku. Menjadikan orang tuaku pada khususnya dan saudara-saudariku pada umumnya sebagai pribadi yang lebih mengetahui & memahami banyak hal. Sebab aku ada, untuk menjadi sebab dari lebih baiknya mereka. 

Sebab seorang anak lahir ke dunia bukan semata2 untuk menjadi seorang murid sepanjang masa. Bukan. Kedua orang tuamu memang guru terbaikmu, tapi bukan berarti kewajiban membimbing hanya berlaku untuk keduanya saja. Aku, kamu, kita tak lupa kan? 

Bahwa sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk menularkan ilmu. Sebab bukan hanya buah hatimu kelak yg menantikan tularan ilmu darimu, tapi orangtuamu juga diam2 sangat mengharapkan.

Memang begitu. Sekali2 kamu memang perlu merangkap peran menjadi murid sekaligus guru bagi kedua orang tuamu, pun semesta yg rindu diajari olehmu.
Kamu tak lupakan? Ah moga saja cuma aku yg kelupaan.
Tuhan, makasih ya.. sudah diingatkan 

Bahwa aku punya kewajiban.

Yaitu "menjadi sebab kebaikan". 

 
Sudah malam. Sekian. :)



Jpr, 24/01/17
~DFZ

Saturday, January 14, 2017

Hujan, Terimakasih // shortstory


"Aku tidak takut!" 
 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjqWhHGRsB-bGR7WTWnbNWdmCoQVXVIupQkx-j7thDphJTwVNVVBBMcsexrpxQ8QOGhbqz4ZQRBC4o5igCGxNGHo1lprF-FnQXFva_2Y-tN5SG3e-5S01jxn2ghLI8OBQVgGiuKKpnHWvg/s1600/download%252520%2525281%252529.jpg
Teriakan hati milik mahasiswi psikologi itu terdengar begitu lantang. Ia memang ingin bertutur tegas kepada penduduk bumi yang kala itu sedang bersembunyi di bawah atap yang nyaman, pun di atas kasur yang empuk. Menegaskan bahwa guyuran hujan, teriakan petir, pun sambaran kilat, bukanlah misbehavior of earth yang layak untuk ditakuti. "Mereka turun ke bumi untuk menantang. Dan hanya jiwa-jiwa pemberanilah yang akan merasa tertantang," tegasnya pelan----di dalam benda kecil bernama hati.

"Aku tidak takut! Aku akan tetap pergi!" Gaungan hati milik perempuan ber-ransel hitam itu kembali menggelegar. Makin keras. Makin tegas. Ia memang keras kepala. Lagi-lagi ia ingin bertutur tegas kepada makhluk-makhluk yang pada saat itu sedang berselimut, bahwa derasnya hujan, kerasnya petir, pun bengasnya kilat, bukanlah alasan untuk tetap berteduh di balik selimutnya yang tebal dan empuk. Ya, sore kemarin, perempuan rantau itu kembali ber-ulah. Perempuan rantau itu, ... ah sebut saja dia, 'aku'.

Sore kemarin. Saat embusan angin senja memercikkan air langit yang hendak membasahi tanah Tembalang. Saat jiwa-jiwa sang perantau menelingkup di balik selimut tebal nan empuk, menyambut virus kantuk yang tiba-tiba menusuk sebab terang tak kunjung datang. Saat-saat itulah aku, si perempuan berjaket merah, ber-ransel hitam, penenteng tas cangkingan berisi beberapa buku (cerita roman :v), berdiri di depan pintu yang bertuliskan "kamar 304 Graha Larasati) dan berucap lantang, "Bu, kini kupenuhi janjiku. Aku pulang! Tak peduli, meski bumi sedang tak karuan."

Sekali lagi kulirik seisi kamar----memastikan tidak ada yang tertinggal, lalu mengunci pintu, dan turun menuju lantai dasar. Dug. Langkahku terhenti di suatu ruangan luas berisikan 17 kendaraan roda 2 berjenis matic. Tak selang lama, salah satu kendaraan bernama oiraV, berwarna merah merona, dan berbody ramping, melambaikan tangan ke arahku. Rupanya ia telah siap bertamasya ria dengan pemiliknya. Akupun segera mendekat. Membunyikan mesinnya, memberinya kesempatan untuk melakukan pemanasan semenit saja, lalu bergegas tancap gas. Ya, tepat pukul 05.30 pm aku meluncur ke jalanan. Berbaur bersama hujan. Asik kan? 

Musim penghujan memang menyebalkan bagi mereka yang hobinya motoran. Tapi tidak dengan perempuan pembuat onar ini (penulis mengajungkan tangan :v). Kau tahu? Dulu aku sempat dikeroyok habis-habisan oleh angin kencang, hujan lebat, pun gelap malam. Terlunta-lunta dijalanan karena satu-satunya jembatan pengantarku ke tujuan (rumah) tidak bisa dilewati. Para rider kebanjiran. Pun kebingungan mencari jalan agar sampai ke tujuan. Dan alhasil, sampai rumah aku jendindilan---(semacam penyakit tak butuh obat yang diakibatkan oleh kedinginan akut dan bisa sembuh kalau ada selimut :v). Dan kau tahu, dimana letak ke-onar-anku? Aku membuat semua orang kesakitan. Teridap penyakit khawatir yang tak ketulungan. Ahh barangkali mereka yang terlalu lebay memaknai kehilangan, atau aku yang kelewatan? Toh aku tak lantas hilang kan? Toh aku masih selamat sampai tujuan. Tak terbawa badai yang menghantui saat masih di jalanan. Hmmm
Dan kamu tahu? Sore kemarin, aku mengulanginya. Kembali pulang dengan hujan dan gelap malam. Berharap di tengah perjalanan langit akan terang benderang, sehingga banjir kala itu tak akan terulang. 

Haha. Aku suka. Sangat suka. Berkendara sendirian. Kala malam. Bersama hujan. Asik kan?

Butiran air langit yang menemaniku di awal perjalanan memang tidak terlalu deras. Hanya gerimis, yang sesekali lebat. Aku masih bisa menyetir santai sambil satu/dua kali melirik ke kanan dan kiri. Menikmati suasana Tembalang di kala senja, untuk terakhir kalinya---sebelum angka tahun bertambah usia. 

Di sepanjang jalan, sembari menonton apa-apa yang ada di jalanan, aku mencoba mengkondisikan pikiran agar tak tersangkut-sangkut. Tapi sialnya, usahaku menonton pikiran selalu saja gagal. Berkali-kali kucoba mengkondisikan pikiran-pikiran yang berdatangan layaknya iklan. Membiarkan mereka datang, mampir sebentar, lalu kembali pulang. Tapi usahaku sia-sia. Sebuah pikiran bernama was-was meraung-raung tak mau pulang. Ya, aku memang sedikit was-was. Kepikiran kalau di tengah perjalanan, hujan menjadi lebih lebat dari yang kubayangkan. Sedangkan aku hanya berbekal jaket angkatan warna merah yang tebalnya tak sampai satu senti. Jas hujan? Haha. Sempat terpikir dalam benak untuk  mampir ke toko, membelinya. Tapi karena uang lembaran di dompet tinggal beberapa biji
---habis untuk belanja di Gramed kemarin, jadi kuputuskan untuk tidak jadi beli. Haha. Tapi kewas-wasanku itu tidak berlangsung lama. Sebab tak lama dari itu, pikiran-pikiran baru  bermunculan, mendesak pikiran bernama was-was untuk keluar. Tepatnya, ketika terdengar suara merdu milik para muadzin---mengumandangkan adzan maghrib.  Bersaut-sautan antara surau satu dengan surau lainnya. Aku pun memperlambat laju kecepatan (agar tidak kualat saat di jalan ---EHH:v). 

Embusan angin senja yang terasa adem sekali, dibarengi lantunan suara merdu milik muadzin yang entah siapa, membuatku terbawa suasana. Suasana itu membawa pikiranku untuk mundur beberapa langkah kebelakang. Mengingat-ingat perbincangan hangat yang terjadi beberapa waktu lalu di suatu majelis ilmu. Pada perbincangan itu, aku dan beberapa anggota majelis lainnya mengikrarkan sebuah janji. Kami berjanji untuk membiasakan diri menikmati adzan. Kami berjanji untuk berhenti dari aktivitas apapun setiap kali mendengar suara adzan. Lalu meresapi setiap lantunannya, pun mengkondisikan diri untuk berada dalam keadaan mindfulness---{Kondisi dimana Anda memiliki kesadaran penuh dan atensi yang tinggi atas apa yang Anda alami, rasakan, pikirkan, pun hal-hal yang terjadi di sekeliling Anda, pada suatu waktu (Zahra, 2017).}
“Jika kalian mendengar mu-adzin, maka ucapkanlah sebagaimana yang ia ucapkan. Kemudian bershalawatlah untukku. Karena barangsiapa yang bershalawat untukku sekali, maka dengannya Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Kemudian mintalah al-wasilah kepada Allah untukku. Ia adalah sebuah tempat di Surga yang tak diraih kecuali oleh seorang hamba di antara hamba-hamba Allah. Dan aku berharap ia adalah aku. Barangsiapa memintakan untukku wasilah kepada Allah, maka dia layak mendapat syafa’atku.” -Rasul SAW
Setidaknya diperjalananku kali ini, bukan hanya dingin yg kudapatkan. Melainkan kesadaran bahwa ada yang lebih nikmat dari mendengarkan musik saat sedang dijatuhcintakan. Yaitu MENDENGARKAN & MENIKMATI ADZAN, saat berkendara, di kala senja, bersama hujan. Sungguh! Percayakan? :D

***

Aku suka. Sangat suka. Berkendara sendirian. Kala malam. Bersama hujan. Asik kan?

Berkendara di malam hari memang mengerikan bagi sebagian orang. Seperti suasana di jalan yang kulalui setelah seperlima perjalanan. Jalan itu memang bukan jalan raya. Pantas saja, jarang ada kendaraan roda 6 yang melaju di atasnya. Tapi suasana seperti itu sangat menguntungkanku. Aku jadi bisa lebih leluasa berkendara. Menambah laju kecepatan pun bisa dihukumi aman-aman saja. 

Sembari membiarkan roda motor bergelinding dengan laju yang sedikit lebih cepat, aku membiarkan pikiranku berkelana. Ia berkelana ke Taman Cinta. Tak jauh berbeda dengan tempat yang kukunjungi di perjalananku sebelumnya. Entah mengapa, tiap kali aku berkendara sendirian, pikiranku selalu saja melesat ke sebuah taman bernama Cinta. Padahal aku tahu persis,  pada akhirnya aku akan terluka. Sebab ada rindu di dalamnya. Rindu yang membuat memar ulu hati. Membuat nyeri tak kunjung berhenti. Tapi tetap saja, tiap kali aku berkendara, imajinasiku selalu saja tak pernah bosan mengunjunginya. Entahlah, mengapa. 

***

Tempat itu bernama Taman Cinta. Taman megah yang hanya dihuni oleh 2 manusia biasa. Seorang putri kecil manja dan seorang lelaki paruh baya yang bijaksana. Mereka memang hanya berdua saja. Tapi tawa putri kecil itu tak pernah ada habisnya. Rupanya, lelaki paruh baya itulah sumber bahagianya. 

Pernah suatu hari, sang putri kecil pergi meninggalkan taman. Ia pergi mengelilingi jagat raya untuk bertamasya, bersama teman-temannya. Bahagia luar biasa pun terpancar di parasnya. Pasalnya, itu kali pertama ia pergi dari istana seorang diri. Bukan hanya pergi ke seberang jalan, tapi ke beberapa kota nan jauh di sana. Tempat demi tempat ia kunjungi. Menyusuri desa, hingga kota. Menapaki jalan sempit menghimpit, hingga jalan raya yang luar biasa luasnya. Dan di perjalanan itu lah ia menyadari bahwa dirinya sudah beranjak dewasa. Bukan lagi menjadi gadis kecil nan manja. 

Setelah puas bertamasya, ia pun bertekad untuk menjadi pribadi mandiri. Ia memberanikan diri untuk meminta izin kembali ke taman seorang diri. Ia tidak ingin lelaki paruh baya itu kerepotan menjemputnya. Ia ingin pulang sendiri. Seorang diri. Akan tetapi permintaan izinnya tak diterima. Lelaki paruh baya yang setengah mati mencemaskannya itu, benar-benar tidak tega membiarkan sang putri kecil menempuh perjalanan jauh tanpa ada yang mendampingi. Ia takut putrinya kenapa-napa. Ia takut kalau putri kecil itu kedinginan di jalan, kelelahan, pun kalau-kalau tersesat dan tak tahu jalan pulang. Ya, lelaki paruh baya itu memang sangat mencintai sang putri kecil. Ia tetap saja menjadi bayang-bayang tiap kali putri kecilnya pergi, meski putri kecil itu berkali-kali bilang bahwa dirinya bukan anak kecil lagi. 

Sang putri kecil sudah beranjak dewasa. Tapi lelaki itu tetap saja mengikuti tiap langkahnya.

Atau barangkali itu yang namanya cinta?
Cinta dari laki-laki biasa untuk buah hatinya-kah?

Jikalau itu yang disebut cinta, cinta dari seorang laki-laki biasa, maka ketahuilah,
Cinta itu sungguh menguras kalbu. Menyulam hatiku dengan rindu. Rindu menggebu, kala si putri kecil tak bisa lagi bertemu (dengan lelaki paruh baya itu). Sungguh, cinta itu benar-benar menyuras hatiku.

Hatiku? Ya. Sebut saja putri kecil itu "aku". Dan lelaki paruh baya itu.. ... anggap saja dia, ayahku.
Ayahku yang sungguh menyayangiku. 

Ayahku, yang sangat benci melihat putri kecilnya kehujanan, sendirian, di kala malam.

***

Aku suka. Sangat suka. Berkendara sendirian. Kala malam. Bersama hujan. Asik kan?
Taman Cinta.
Itulah mengapa; aku suka berkendara saat hujan. 
Ya, aku sangat suka hujan. Hujan memberiku ruang untuk meluapkan rindu. Leluasa meluap, tanpa seorangpun tahu, bahwa yang mengalir membasahi pipi ialah air yang bermuara dari rindu. Dari mata hatiku. Bukan air hujan dari langit itu. Karena itulah mengapa aku suka hujan. Sebab hujan menenangkan. Sebab hujan memberi kesejukan----pada tiap hati yang kehausan. 

***

Aku suka. Sangat suka. Berkendara sendirian. Kala malam. Bersama hujan. Asik kan?

Embusan angin yang makin lama makin kencang, diiringi suara petir yang membisingkan pendengaran, membuat suasana jalan Pantura semakin mencekam. Aku mulai menggigil. Tubuh sudah penuh dengan air. Tak menyisakan setitik ruang pun yang kering. Ingin menepi, berteduh menghangatkan diri, tapi tak jadi. Lagipula untuk apa? Toh perjalanan masih panjang. Bumi Kartini masih 75 kilo meter lagi. Suhu tubuh yang terasa sudah berada di minus sekian derajat celcius pun tak akan bertambah naik bila kutepikan kendaraanku untuk berteduh.
"AKU KUAT. AKU HEBAT! AYO SEMANGAT!" teriakku dalam hati, menyemangati raga yang kian mengkerut pun kulit yang kian keriput---karena kedinginan.

Aku meneruskan perjalanan. Kupercepat laju kendaraan, tapi dengan penuh kehati-hatian. Kecelakaan yang kusaksikan di jalanan yang kulewati beberapa kilo meter sebelumnya, cukup membuatku trauma dan jauh lebih waspada. "Oh God.. aku tak mau jatuh konyol seperti pemuda itu," gerutuku seraya menguatkan tubuh yang ingin pingsan karena kedinginan. 

Angin kencang yang menggoyangkan pepohonan membuat listrik berhenti menerangi jalanan. Listrik seketika padam. Hanya rembulan dan lampu-lampu kendaraan yang menerangi jalan. Aku pun memperlambat laju kendaraan. Kulihat kanan-kiri. Satu/dua bangunan yang kulalui tampak gelap gulita, nyaris seperti rumah tak berpenghuni. Aku mulai gemetaran. Bukan karena ketakutan, tapi karena kedinginan yang terus-terusan menjalar. Aku mencoba tenang. Kuposisikan sorot mataku lurus ke depan, lalu kucoba menikmati perjalanan. 

Tak lama dari itu, tetiba saja, mataku terbelalak. Menyoroti seorang lelaki bergamis putih yang berdiri di tepi jalan, persis beberapa meter dari hadapan. Ia melambaikan tangan ke arahku. Seperti ingin meminta tumpangan, atau menawarkan jas hujan? Haha. Entahlah. Kala itu aku tak berpikir panjang. Ku arahkan roda kendaraanku ke tepi jalan, lalu ku berhentikan tepat di depannya. 

"Bolehkah aku menemani perjalananmu, nak?" tanyanya yang membuatku tak bisa menolak. 
Ternyata ia seorang lelaki paruh baya yang berusia kurang lebih 50-an. Ia tak membawa apapun, kecuali sebuah payung dan jaket tebal yang kemudian diberikan kepadaku. Bapak itu kelihatannya baik, sama sekali tidak kutemui tampang penjahat di parasnya. Aku hanya manggut-manggut dan sedikit senyum. Setelah kukenakan jaket yang beliau berikan, kami pun melanjutkan perjalanan.
"Bapak dari mana, dan mau ke mana?" tanyaku mengawali pembicaraan.
"Saya musafir, nak. Perjalanan saya masih panjang," jawab beliau singkat.
"Memangnya bapak mau ke mana?" tanyaku lagi.
"Saya penduduk Negeri Cinta, nak. Di sana ada Taman Surga yang megahnya luar biasa," jawabnya yang membuatku semakin penasaran.
"Memangnya, ada apa saja di sana? Apakah saja boleh mengunjunginya?"
"Taman Surga adalah taman yang penuh kebahagiaan. Di sanalah tempat bagi para perindu."
"Perindu????"
"...."

Percakapan itu mengalir begitu saja. Panjang, sepanjang jalan Pantura. Aku jadi memahami satu hal, bahwa perjalanan panjang akan terasa lebih menyenangkan bila tak sendirian. Bahwa perjalanan panjang akan lebih membahagiakan bila dilalui dengan berduaan, bersama hujan. Haha.

Bapak bergamis putih itu bercerita kepadaku tentang banyak hal. Tentang Negeri Cinta, yang di sanalah surga bagi para pecintaNya. Tentang Taman Surga, yang di sanalah tempat berkumpulnya para perindu.

Perindu???? Termasuk perindu-kah aku?? 

"Saya juga perindu, pak. Saya perindu yang merindukan sosok panutan yang telah lama pergi. Saya teramat merindukannya, sampai-sampai saya berharap ia akan menghampiri saya. Menemani saya setiap kali saya sendirian. Saya teramat merindukan-nya, ia yang sangat khawatir ketika buah hatinya kehujanan, sendirian. Ya, ia sangat memerhatikan saya. Apapun yang saya lakukan, dan kemana pun saya pergi, ia selalu tahu, ia selalu ada. Ia memang sangat memanjakan saya, pak. Tapi jangan salah, ia adalah sosok yang sangat tegas. Luar biasa tegasnya. Tak semua yang saya mau akan ia turuti segera. Tak semua permintaan saya akan ia kabulkan seketika. Ia mengajari saya untuk berjuang dahulu, sebelum keinginan saya terpenuhi. Ia mengajari saya untuk tetap bangun sendiri, makan sendiri, apa-apa sendiri, meskipun tubuh meriang tak ketulungan. Merengek? Haha, ia tak pernah mengajari saya demikian. Ia memang penyayang, pak. Tapi bukan berarti apapun yang saya minta segera di-iya-kan.
Dan ketika ia pergi, saya baru menyadari arti dibalik sikap kerasnya. Pun arti dibalik ketegasannya. Ya, saya benar-benar baru menyadari, bahwa ada milyaran arti dibalik sikap tegas ayah.
Saya sangat merindukannya, pak. Teramat sangat. 

Lalu, apakah saya ini termasuk salah satu dari para perindu yang berhak menghuni Taman Surga itu?"

Adakah yang lebih menyakitkan dari rindu?
Rindu yang tiada penawarnya, selain pertemuan dalam angan. Mimpi-mimpi yang sesekali, dan doa-doa yang senantiasa.
Adakah yang lebih menyakitkan dari rindu?
Rindu yang sesaknya bukan sekedar ketika kau putus cinta. Disuapi ribuan janji, dijatuh-cintakan setengah mati, lalu ditinggal pergi. Bukan. Ini bukan sekedar ketika kau patah hati.
Adakah yang lebih menyakitkan dari rindu?
Rindu yang tak memungkinkan adanya pertemuan. Seperti lautan yang merindu awan. Seperti kemarau yang merindu hujan.
Seperti mereka, yang meradang rasakan rindu, tapi tak bisa bertemu. `
Adakah yang lebih menyakitkan dari tak bisa bertemu?
ADA????
"ADA. Hanya saja, kau belum pernah merasakan. Belum terlalu kenyang makan asam-garam. Belum dikasihtahu, bahwa *kehilangan bukanlah satu-satunya hal yang paling menyakitkan. Bukan.
Lalu apa? Lalu kau hanya perlu menikmati hidupmu. Tak perlu bertanya-tanya atau menerka-nerka. Mengapa? Sebab kelak kau akan tahu sendiri. Seiring dengan bertambahnya usiamu. Seiring dengan dewasanya pikirmu. Seiring dengan makin lapangnya hatimu. Kau akan tahu. Bahwa, ada yang lebih menyakitkan dari rindu, ada yang lebih menyakitkan dari tak bisa bertemu. Ada."
~~Seperti lautan yang merindu awan, barangkali begitulah rinduku. Yang meradang, karena kehilangan. 


"Siapa yang lebih kau rindukan, nak? Apakah kerinduanmu pada ayahmu, jauh lebih besar dari kerinduanmu akan surga Tuhan?"

"Tentu saja, saya lebih merindukan ayah saya, pak. Bahkan saya  jarang sekali berbicara tentang surga."

"Mengapa nak?"

"Sebab dahulu ketika saya kecil, saya pernah bilang pada ayah bahwa saya mau rajin sholat agar bisa menjadi penghuni surga. Kala itu aku sangat terobsesi pada surga, jadi
kupikir, tujuan beribadah adalah demi mengharap surga. Tapi ayah menasihatiku. Beliau bilang bahwa tujuan beribadah bukanlah demi mengharap surga atau menjauhi neraka. Tujuan beribadah adalah demi mengharap RIDHO ALLAH Ta'ala. Demi mengharap cintaNya. Bukan begitu?"

Sungguh. Aku mendapatkan banyak hal di perjalananku kali ini. Bukan hanya dihujani air dari langit, tapi pikiranku juga dihujani banyak ilmu. Ilmu yang mungkin telah lama kulupakan. Pun ilmu yang belum pernah kudengar.
Bapak itu mengingatkanku, bahwa di dunia ini ada 3 macam jenis manusia. Ada manusia yang hanya mengharapkan surga, ada manusia yang hanya mengharapkan ridho dari Tuhannya, ada pula manusia yang beribadah karena tidak mau masuk neraka. Sedang, sebaik-baik manusia adalah yang beribadah karena mengharap ridho dari Tuhannya. Ia tidak akan peduli dengan surga dan neraka. Sebab baginya, yang terpenting adalah Tuhan bersamanya, dan ia bersama Tuhan. 
Itulah yang dinamakan perindu. Perindu yang merindu cinta dari Tuhannya. Bukan surga dan seisinya. 

"Kalau begitu, siapakah yang lebih kau rindukan, nak? Ayahmu, atau Tuhanmu?"

Pertanyaan itu begitu tajam. Menampar jiwaku. Membelalakkan mata hatiku. Pertanyaan itu, membuatku harus tertegun beberapa saat sebelum aku berhasil menjawabnya. 

"Tentu, setiap hamba pasti merindukan Tuhannya. Tapi tiap kali rindu itu meradang, selalu ada waktu dimana saya bisa bersimpuh, berkomunikasi denganNya. Saya bercengkerama denganNya setiap waktu. Dalam setiap sholat dan munajat. Tapi saya juga rindu pada ayah. Dan saya sama sekali tidak bisa berkomunikasi dengannya. Kecuali hanya dengan mimpi-mimpi yang sesekali, dan doa-doa yang senantiasa. Jadi, menurut saya, rindu pada Tuhan, dan rindu pada manusia itu dua hal yang berbeda. Moga saja, Tuhan selalu menjadi yang terdepan."

"Kau yakin, Tuhan selalu kau nomor-satukan? Bagaimana kalau Tuhanmu cemburu?"

Lagi-lagi pertanyaan itu membelalakkan mata hatiku. Aku terdiam, nyaris bungkam. Hanya memandangi jalanan, mengemudi dengan kecepatan standar. Bagaimana kalau Tuhanmu cemburu? Pertanyaan itu meraung-raung dipikiranku. Menampar-nampar. Tak mau hilang. Bagaimana bila Tuhanku cemburu? Aku memang sudah lama tak mendapatkan pertanyaan semacam itu. Bahkan mungkin aku hampir lupa. Aku hampir lupa kalau aku kerap kali membuatNya cemburu. Dan barangkali, aku pernah terlalu sibuk mencintai manusia, hingga lupa segalanya. Hingga lalai menjalankan perintahNya. Aku, ahh aku memang kerap membuat Tuhanku cemburu. Dan sudah lama aku tak menyadarinya. 

"Aku.., terlalu sering saya membuatNya cemburu, pak. Teramat sering. Lalu apa yang harus saya lakukan? Selama ini saya selalu ingin bertaubat selamanya, tapi nyatanya hanya di bibir saja,"

Apa yang harus saya lakukan? Pertanyaan itu sudah lama meraung-raung dipikiran. Ingin sekali kuluapkan, tapi tak pernah kesampaian. Apa yang harus kulakukan? Itu adalah pertanyaan kenangan. Kenanganku bersama laki-laki terhebatku. Laki-laki biasa yang sering menjawab pertanyaan-pertanyaan yang masih berlalu lalang di pikiran, yang belum sempat kuutarakan. Laki-laki yang sering kupanggil 'ayah' ini selalu saja tahu apa yang tidak kumengerti dan apa yang harus kuketahui. Yap, dialah penerang sekaligus pengarahku untuk tetap berlari ke tujuan ketika langkahku keliru. Dan kini aku merindukan saat-saat itu. Sudah lama aku tak bertanya, "Apa yang harus kulakukan?" ketika langkahku keliru dan seruan menuju kebaikan samar-samar kudengar. 

"Ayah, apa yang harus ku lakukan?"

Butiran air hangat berlinang menemani perjalanan yang tak lagi panjang. Berderai, berbaur dengan hujan. Siapapun tak akan tahu bahwa pengemudi sepeda motor berwarna merah ini sedang berurai air mata. Siapapun tak akan pernah tahu, sekalipun para pematuh lalu lintas di lampu merah kota Pecangaan itu. 

Biarkan air mataku berurai. Berbaur bersama hujan. Berderai terus berderai. Mengalir, ke ujung kaki, aspal, menggenang bersama hujan, lalu ke sungai, hingga ke lautan. 

Karena itulah,
Aku suka hujan. 

"Perbaiki sholatmu, nak!" bisiknya perlahan yang segera dicerna oleh pikiran, hati, dan jiwaku.
"Tinggikan kualitas sholatmu, nak!" bisiknya lagi yang membuat jemariku gemetar tak mampu mempertahankan laju kecepatan.
"Sholatlah seperti ketika kau tahu bahwa esok kau akan mati. Sebab ketika kau menjaganya (sholat), maka Ia akan menjagamu," 
 
dan lagi, beliau membisikiku sesuatu yang bukan sekedar bisikan. Lagi, setelah ribuan hari lamanya aku merindukan arahan dari lelaki tersayang yang jadi panutan, di perjalanan ini, perjalanan yang penuh dengan air mata rindu, dari langit pun dari mata-hati yang melebur jadi satu, aku kembali mendapat sebuah arahan, pencerahan dari laki-laki biasa yang jiwanya seperti dia--
--yang sudah tenang di surga Tuhan. Seorang laki-laki paruh baya, bergamis putih, berkopyah putih, yang tubuhnya tak basah meski kehujanan, yang membuat perjalanan ini begitu hangat meski hujan menghantam habis-habisan, yang menjadikan puluhan kilo meter ini terasa begitu dekat dan cepat. Lelaki paruh baya berusia kurang lebih 50 tahun itu. Yang telah mengantarkanku menuju Negeri Cinta, yang di sanalah ayah berada.

Kala itu, setelah menempuh 85 kilometer, aku berhenti di tepi jalan. Sebuah jalanan sepi yang tiada siapapun kecuali kami, hujan, dan petir yang menyambar. Beliau turun dan berkata kalau sudah sampai tujuan. Lalu, mempersilahkanku melanjutkan perjalanan. Sendirian. Beliau hanya tersenyum, lalu bilang,

"Lain kali jangan pulang malam-malam lagi ya, anak bandel! Lanjutkan perjalananmu! Tak usah khawatir, ayah selalu menjagamu dari kejauhan. Pemberanikan? :)"

"Ayah..?" 
Ternyata prasangkaku benar. Lelaki paruh baya itu bukan sembarang orang. 
"Ayah tunggu! Tapi aku ingin ikut bersamamu! Ayah tungguuu!!"

Aku gusar tak karuan. Air mataku mengucur deras bak banjir bandang. Sesak. Sungguh sesak luar biasa. Pikiranku buyar. Tak tahu arah pulang. Tak mau ditinggal sendirian. 

Akupun berlari. Meninggalkan sepeda motor yang tak lagi kinclong karena terciprat genangan air hujan. Mengejar laki-laki paruh baya yang tak kutahui namanya dan ternyata sosok yang kucinta. Aku berlari. Terus berlari. 

"Ayah tunggu!!" 

Sekencang kencangnya, secepat-cepatnya, aku berlari.

Hingga akhirnya,

BRAKKKKK
Aku berhasil mendobrak gerbang maha luas, tempat ayah berada.

 ▪Gerbang Utama Negeri Cinta▪▪

"Wow, inikah yang namanya Negeri Cinta? Kok panas ya?" (memegang jidat)

"Alamak.. bok yo nduk.. nduk," teriak ibu sambil geleng-geleng kepala. "Panas, panas, iya panas! Makanya kalau dibilangin orang tua itu jangan bandel! sudah dibilang jangan pulang malem-malem! Untung semalem pingsannya pas sudah nyampek gang,"

"Hah?" (mencoba bangkit, naik ke kasur) "Loh loh kok udah di rumah aja? Negeri Cintanya mana, buk?" (mengucek-ngucek mata, lalu menguap ZZzzz) 


***

Aku suka. Sangat suka. Berkendara sendirian. Kala malam. Bersama hujan. Asik kan?
Hujan, terimakasih. Kau mengajariku banyak hal. :)


----sekiaEnD----


 Jpr, 14/01/2017
 -DFZ-



#JustForFun
#AmbilBaiknya#BuangBuruknya :v
#MogaBermanfaat :)
 
#PerbaikiSholatmu,Ya! *keepsmile*

Friday, November 11, 2016

HUKUMAN yang Tidak Terasa // Ibroh

Betapa sering Allah menghukummu, tapi engkau tidak merasakannya.

(Copas dr sebelah)

Seorang murid mengadu kepada gurunya:
_"Ustadz, betapa banyak kita berdosa kepada Allah dan tidak menunaikan hakNya sebagaimana mestinya, tapi saya kok tidak melihat Allah menghukum kita"_.
Sang Guru menjawab dengan tenang:
_"Betapa sering Allah menghukummu tapi engkau tidak terasa"_.
_"Sesungguhnya salah satu hukuman Allah yang terbesar yang bisa menimpamu wahai anakku, ialah: *Sedikitnya taufiq*  (kemudahan) untuk mengamalkan ketaatan dan amal amal kebaikan"_.
Tidaklah seseorang diuji dengan musibah yang lebih besar dari *"kekerasan hatinya dan kematian hatinya"*.
Sebagai contoh:
Sadarkah engkau, bahwa Allah telah *mencabut darimu rasa bahagia dan senang* dengan munajat kepadaNya, merendahkan diri kepadaNya, menyungkurkan diri di harapannya..?
Sadarkah engkau *tidak diberikan rasa khusyu'* dalam shalat..?
Sadarkah engkau, bahwa  beberapa hari2 mu telah berlalu dari hidupmu, tanpa membaca Al-Qur'an, padahal engkau mengetahui firman Allah:
_"Sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini ke gunung, niscaya engkau melihatnya tunduk, retak, karena takut kepada Allah"_.
Tapi engkau tidak tersentuh dengan Ayat Ayat Al-Qur'an, seakan engkau tidak mendengarnya...
Sadarkah engkau, telah berlalu beberapa malam yang panjang sedang engkau tidak melakukan Qiyamullail di hadapan Allah, walaupun terkadang engkau begadang...
Hukuman apa lagi yang lebih berat dari itu..???
Tidakkah engkau merasakan beratnya mengamalkan banyak ketaatan (amal ibadah)..???
Tidakkah Allah menahan lidahmu untuk berdzikir, beristighfar dan berdo'a kepadanya..???
Tidakkah terkadang engkau merasakan bahwa engkau lemah di hadapan hawa nafsu..???
Hukuman apa lagi yang lebih berat dari semua ini..???
Sadarkah engkau, yang mudah bagimu berghibah, mengadu domba, berdusta, memandang ke yang haram..???
Sadarkah engkau, bahwa Allah membuatmu lupa kepada Akhirat, lalu Allah menjadikan dunia sebagai perhatian terbesarmu dan ilmu tertinggi..???
Semua *bentuk pembiaran* ini dengan berbagai bentuknya ini, hanyalah beberapa bentuk hukuman Allah kepadamu, sedang engkau menyadarinya, atau tidak menyadarinya...
Waspadalah wahai sahabatku, agar engkau tidak terjatuh ke dalam dosa dosa dan meninggalkan kewajiban kewajiban.
Karena *hukuman yang paling ringan* dari Allah terhadap hambaNya ialah:
_*"Hukuman yang terasa"* pada harta, atau anak, atau kesehatan._
Sesungguhnya *hukuman terberat* ialah "Hukuman yang tidak terasa" --pada kematian hati, lalu ia tidak merasakan nikmatnya ketaatan, dan tidak merasakan sakitnya dosa.
Karena itu wahai sahabat2ku, Perbanyaklah di sela sela harimu, amalan taubat dan istighfar, semoga Allah menghidupkan hatimu. :)


If you love Allah, SHARE this!

Ingatkan saudara-saudari muslimmu! :)

Monday, October 24, 2016

Penyakit Kronis Kaum Hawa #2

Pernah suatu hari saya terheran, menerka-nerka mengapa sikap dosen kesayangan saya tak seceria biasanya. Ada apa gerangan? Beliau seperti sedang kecewa, entah dengan siapa. Seakan mau mengutarakan kekecewaannya, beliau pun berkata,
"Sekarang penyakit TIDAK PERCAYA DIRI sudah menggerogoti KAUM HAWA nak."
"Maksud ibu?" tanyaku tak paham.
"Lihat saja sekarang, segala upaya di lakukan utk menarik perhatian," kata beliau menjelaskan.
Saya yang sudah berusaha keras untuk memahami tapi tidak juga paham pun kembali bertanya, "Perhatian bu?"
Seakan tahu gelagat saya yang kebingungan, beliau pun menjelaskan lebih panjang,
"Wanita yang Percaya Diri pasti yakin, TANPA HARUS memamerkan perhiasan berharga miliknya pun ia sudah bisa membuat seorang atau bahkan lebih kaum adam jatuh hati padanya. Jika benar ia PERCAYA DIRI maka ia tak akan malu dan justru akan sangat bangga ketika mengenakan pakaiannya--yang berbahan tebal, longgar, serta lebar, --menutupi seluruh perhiasan yang ada padanya. Dan jika ia memang benar-benar wanita yang PERCAYA DIRI, maka sekejappun takkan pernah ia biarkan martabatnya jatuh karena tingkah lakunya yg tak mengenal akhlak."
Saking khusyu'nya mencerna perkataan beliau, saya jadi terbengong.
"Can you catch what I mean, dear?" lanjutnya yang spontan membuat saya sadar dari keterbengongan itu.
Dengan sigap saya pun menjawab, "Siap bu.. saya mengerti. Hanya saja saya tidak pernah berpikir kearah itu. Mengkorelasikan antara ketidak-percayaan diri dengan pemakaian hijab. Itu pembicaraan yang sangat menarik bu.. hehe"

Cukup menggelitik bukan, apa yang yang telah beliau utarakan?
Bagi saya, apa yang diutarakan ibu dosen memang benar adanya. Mengapa?

Coba cermati kalimat ini, “I feel more confident without  hijab. And I’m so unconfident wearing it.. No, I don’t wanna wear it. Coz It just cover my beauty. So, if I wear it, I’m not pretty.”

Kalimat di atas adalah salah satu contoh alasan yang dilontarkan kaum wanita muslim atas ketidakinginannya dalam mengenakan hijab. Meskipun kalimat tersebut hanyalah hasil dari asumsi saya pribadi, akan tetapi saya bisa pastikan bahwa kalimat tersebut pasti pernah atau bahkan selalu hadir di dalam setiap hati mereka––para wanita yang KTPnya berstatuskan “Islam” akan tetapi enggan mengenakan hijab. Ketidakpercayaan diri inilah yang tanpa disadari menjadi motivasi terbesar mereka untuk tetap berpenampilan terbuka, --menonjolkan bagian-bagian dari fisiknya yang dapat membahagiakan setiap mata yang melihatnya. Percayakah Anda?

Mari sejenak kita berkaca pada fenomena-fenomena berbau ‘wanita’ di negeri Nusantara. Apakah masyarakat di negeri ini mengenal yang namanya prostitusi? Tentu jawabannya adalah Ya. Mengapa? Tentu sebagian besar akan menjawab, karena banyaknya kasus dan berita. Atas dasar apa mereka melakukannya? Kalian pun pasti akan melontarkan berbagai macam persepsi. Entah karena intensitas hasrat seksualnya yang tinggi, keinginan mendapatkan kepuasan seksual yang berlebihan, pun alasan-alasan lain yang kesemuanya sangat erat kaitannya dengan “perilaku menarik perhatian lawan jenis”.

Apa buktinya? Tentu saja, pakaian-pakaian mereka yang super vulgare adalah hal pertama yang bisa disoroti. Lalu, penampilan mereka dalam berias atau menggunakan make up yang berlebihan, perilaku mereka yang seolah-olah ingin memperlihatkan ke-sexy-an, bahkan sampai pada tindakan mengoperasi bagian fisik tertentu sebagai upaya menutupi kekurangan dan mempercantik diri.

Menurut Anda, apakah orang-orang semacam itu memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi terhadap dirinya? Percaya diri dengan tindakan-tindakan mempercantik diri misalnya, atau berpenampilan seperti bintang Hollywood misalnya. Apakah perilaku-perilaku tersebut mencerminkan kepercayaan diri yang tinggi? Apakah mereka –yang berperilaku seperti itu adalah orang-orang yang bisa menerima keadaan dirinya sendiri beserta seluruh kekurangan yang melekat padanya? Bagaimana menurut Anda?

Kalau menurut saya, orang-orang semacam itu bisa dikatakan memiliki penerimaan diri yang rendah. Dengan kata lain, mereka belum sepenuhnya bersyukur atas segala kondisi real yang dimilikinya. Sehingga apabila penerimaan dirinya rendah, maka tingkat percaya dirinya pun rendah. Sebagaimana telah kita ketahui bahwa penerimaan diri dan kepercayaan diri memiliki hubungan yang signifikan positif.

Bukan hanya prostitusi, rendahnya tingkat percaya diri kaum wanita ini juga dapat kita temui pada kehidupan sehari-hari. Apakah Anda menyadari bahwa hal-hal kecil seperti mempercantik gaya rambut, mewarnainya, berpakaian ketat, memakai pakaian di atas lutut, memakai make up tebal, dan sejenisnya, adalah beberapa cara yang dilakukan wanita dalam rangka meningkatkan percaya dirinya? Tentu saja. Hal-hal semacam itu tentu dilakukan wanita untuk meningkatkan rasa percaya diri. Ada pula yang melakukannya untuk mendapatkan perhatian dan ketertarikan dari lawan jenis atau lelaki yang diincarnya. Hal yang sudah umum bukan? Sayangnya, kebanyakan dari kita tidak memperdulikannya dan malah menganggapnya sebagai suatu yang lumrah dan biasa saja. Kebanyakan dari kita mungkin lupa bahwa ‘tidak percaya diri’ juga bisa membuat kita melakukan perbuatan-perbuatan berdosa pun melanggar norma. Ya, wanita memang banyak yang lupa, bahwa mereka sering sekali melukai Tuhannya dengan perbuatan-perbuatan asusilanya.

Dengan demikian, setujukah Anda bahwa wanita yang memamerkan auratnya atau berpakaian tidak sepatutnya adalah mereka yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah? Dan setujukah Anda apabila saya memiliki statement bahwa “Unconfident Disease” adalah penyakit kronis kaum wanita? (Jawab di kolom komentar ya.. :D )

Sebagai paragraf penutup, saya ingin menyimpulkan dan menambahkan beberapa hal. Pertama, menurut saya, seorang wanita yang dengan bahagianya memamerkan bentuk tubuhnya, pun memakai pakaian yang tidak sesuai dengan norma, adalah seorang wanita yang teridap penyakit “Tidak Percaya Diri”. Kedua, seorang wanita yang dapat dikatakan memiliki kepercayaan diri yang tinggi adalah dia yang dapat menjaga perilaku serta penampilannya sesuai dengan norma atau kaidah-kaidah yang dianutnya. Apabila ia seorang muslim, maka ia berhijab, menutup aurat sesuai syariat, pun berperilaku sesuai akhlak. Dan apabila ia non muslim, ia pun dapat menjaga perilakunya, tindak-tanduknya, pun penampilan yang sesuai dengan kaidah yang ditetapkan oleh agamanya. Bukankah semua agama selalu mengajarkan tentang kebaikan? Bukan hanya Islam kan? Dan yang terakhir, saya hanya ingin mengajak Anda untuk berkaca. Mengintrospeksi diri lebih tepatnya. Mari kita renungkan, sudah percaya diri kah kita? Sebesar apa rasa percaya dirinya?

Mari menjadi agen perubahan! Menjadi lebih baik mulai dari sekarang. Untuk diri sendiri, bangsa, pun negara. Bersedia kan?
Dekati Sang Ilahi! Maka tingkat percaya dirimu akan melambung tinggi!

Salam Literasi :) 

-Diah Fatimatuzzahra-

Categories

Follow me on Facebook

Follow me on Tumblr

Writing is the most fun you can have by yourself. - Terry Pratchett

Powered by Blogger.
Adsense Indonesia

About Author

Hamba Tuhan yang sedang belajar menulis.

Video of Day | Click on the link below to download the video!

Popular Posts