123, Example Street, City 123@abc.com 123-456-7890 lasantha.wam

Writing is the most fun you can have by yourself. - Terry Pratchett

Friday, May 19, 2017

Bukan Cerita Pendek


“Bu, aku ingin bercerita,”


Gadis cantik yang mulai beranjak remaja itu akhirnya mau bersuara.

Seperti biasa, setiap sore, di taman belakang rumah, aku selalu menyempatkan diri untuk beralih peran menjadi teman curhat bagi putri semata wayangku.

Tapi tidak seperti biasanya, kali ini ia harus dipancing dulu agar mau bicara terus terang. Ia seperti ingin sekali bercerita, tapi malu-malu untuk mengungkapkan. Biasa, masalah krusial ABG. Apa lagi kalau bukan …

“E hee.. emm….  tidak jadi ding bu, hehe”

“Hmm.. Kamu tahu nak? Dulu waktu ibu muda.. …”

“Waktu ibu muda? Gimana gimana bu?”

(Dia mulai terpancing). Aku pun melanjutkan ceritaku.

“Dulu waktu ibu muda, ibu pernah tertarik sama seseorang. Orangnya baik. Pinter. Sholeh. Paling aktif gitu di sekolah.Tapi sayang ibu beda sekolah sama dia. Hehe.. hmm”

“Lalu bu? Dia juga menyukai ibu?”

“Sayangnya nggak nak,”

“Yahhh…”

“Menurut ibu, dia terlalu baik. Ibu merasa nggak pantas. Akhirnya ibu cuma bisa mengagumi dia diam-diam. Bulan demi bulan, sampai berganti tahun. Kita nggak pernah ngobrol. Bertemu saja jarang. Tapi entah kenapa ibu semakin jatuh hati padanya,”

“Kok bisa bu?”

“Ibu jatuh hati dengan kepribadiannya. Dengan kecerdasannya, juga aktivitas-aktivitas yang ia lakukan. Sayangnya, ibu cuma bisa mengaguminya diam-diam,”

“Lalu bu? Ibu tidak mengusahakan sesuatu?”

“Berusaha dong!”

“Wah.. gimana gimana bu?”

“Ibu berusaha untuk menjadi lebih baik setiap waktu. Ibu berusaha untuk selalu mendoakan kebaikan untuk dia. Agar dia selalu sehat, juga dilancarkan urusannya. Ibu pun berusaha, minta sama Tuhan agar suatu saat, ibu disandingkan dengan seseorang yang perangainya seperti dia,”

“Seperti bu?”

“Iya, karena waktu itu ibu menyadari bahwa ibu bukan siapa-siapa. Ibu berpikir, kalaupun ibu berusaha keras jadi lebih baik, ibu nggak akan bisa menyamainya. Tapi itu menjadi motivasi tersendiri buat ibu untuk terus berusaha menjadi lebih baik,”

“Lalu, sampai kapan ibu memendam rasa?”

“Sampai kapan ya.. sampai ibu bosan.. hahaa”

“Hm ibu.. ibu punya penggantinya?”

“Melupakan dia itu sesuatu yang sangat sulit untuk ibu lakukan. Apa lagi mencari penggantinya. Hmm.. Dulu banyak sekali teman-teman ibu yang ibu tolak, karena ibu cuma jatuh hati sama dia,”

“Wah wah sampai segitunya bu? Uhh..”

Putriku mulai manyun. Rupanya rasa penasarannya di awal perbincangan sudah beralih jadi bara kecemburuan. Sambil menahan tawa, aku pun melanjutkan cerita.

“Tapi lama-lama ibu jadi jenuh sendiri. Ibu hampir putus asa. Dan akhirnya ibu mulai berusaha melupakannya,”

“Hmm..” Responnya cuma ‘hmm’ saja. Tapi lirikannya sudah seperti orang yang kepo tingkat dewa. Putriku ini memang menggemaskan.

“Sampai suatu ketika, hal yang tak disangka-sangka pun terjadi,”

“Kenapa bu? dia mengajak ibu bertemu?”

“Enggak. Dia cuma menyapa ibu. Untuk pertama kalinya, setelah ibu mulai berusaha melupakannya. Kita mulai sering mengobrolkan suatu hal. Tentang sebuah program kerja yang harus kita kerjakan bersama. Tapi ibu berusaha untuk biasa saja. Toh memang tidak ada apa-apa,”

“Hmm.. Tapi ibu jadi makin suka?”

“Iya, ibu makin suka dengan tutur katanya. Dia sungguh bijaksana. Tapi ibu tetap berusaha biasa saja,”

“Tapi dia tidak mengganggu ibu kan?”

“Alhamdulillahnya, iya nak. Dia sering mengganggu ibu,”

“Ibu…….” Putriku semakin kesal. Ia memang pecemburu.

“Iya, dia selalu mengganggu pikiran ibu,”

“Dia suka sama ibu?”

“Enggak. Dia cuma bilang, hmm..

Suatu hari dia datang ke tempat kerja ibu. Lalu mengajak ibu ke suatu tempat. Lalu dia bilang,”

“Bilang apa bu?”

“Dia bilang,

Dia sudah lama jatuh hati pada ibu. Tapi dia memilih diam, sembari menunggu segalanya siap. Dia juga khawatir, bila pada akhirnya ibu akan menolaknya. Karena baginya, ibu….”

“Ibu…… Lalu, kenapa ibu akhirnya sama ayah? Kenapa tidak sama lelaki itu saja?”  Uh, putriku makin menggemaskan.

“Tunggu dulu sayang.. ibu belum selesai bercerita..”

“Hmm.. lalu?”

“Lalu dia bilang,

‘will you marry me?’”

“Oh. Lalu ibu jawab apa? Ibu tidak bilang YES kan?”

“Nggak kok sayang.. ibu cuma bilang,”

“Bilang apa bu?”

“Ibu cuma bilang,

‘Izinkan saya beristikhoroh terlebih dahulu,”

“Uuhhh.. lalu jawabannya?”

“Jawaban yang mana?”

“Hasil istikhorohnya bu?”

“Hasilnya?”

“Iya bu..  huhuu”

“Hasilnya,

Hasilnya,

Hmmmm

Hasilnya,

sekarang kami hidup bahagia.

Dan kamu lah sumber bahagianya,”

“Maksud ibu.. .?”

“Iya nak. Itu cerita ibu dan ayah waktu muda dulu.

Sekarang, ayo ceritakan kisahmu!”

“Ibuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu,” Dia mendekat. Lalu memelukku erat,

sambil berbisik, “Ibu, aku terharu,”

“Jadi, siapa sosok yang berhasil mencuri hati putri ibu yang sukanya cemburuan ini?”

Akhirnya, ia pun bercerita. Panjang sekali, lebih panjang dari ceritaku tadi. Kini aku jadi lega, putriku menjadi sangat terbuka kepadaku. Tidak ada yang ia sembunyikan, termasuk siapa yang diam-diam mencuri hatinya. Iya, putriku kini telah berkenalan dengan cinta. Cinta-cintaan ala anak remaja. Tak apa. Itu wajar-wajar saja. Pun sudah menjadi tugas perkembangannya.

“Ibu harap, kamu bisa mengambil poin-poin positif dari apa yang telah ibu ceritakan ya nak!”

“Siap bu!”

“Hmm padahal.. …”

“Padahal apa bu?

Padahal ibu dan ayah ingin menjodohkanmu dengan …. Tapi tak apa, ini bukan zaman Siti Nur Baya,”

Kataku sebelum berlari ke dalam rumah. Kami kejar-kejaran. Lalu berpelukan.

 “Uhhh ibuuuuuuuuuu,”

 

Bukan Cerita Pendek | Smg, 9/5/17 | ©DFZ

Thursday, March 30, 2017

Tunggulah!


Tunggulah!
Bila yang akan kamu tunggu itu sesuatu yang berharga, maka tunggulah. Karena mungkin tidak akan ada lagi yang demikian. Karena menunggu itu pun tidak untuk selamanya kan? Tidak akan menghabiskan seluruh hidupmu kan?

Bila yang akan kamu tunggu itu adalah sesuatu yang benar-benar membuat hidupmu akan menjadi lebih baik, maka tunggulah. Meskipun orang lain kehabisan sabar terhadap kesabaranmu, biarkan saja. Karena kamu lebih tahu tentang dirimu sendiri dan sesuatu yang sedang kamu tunggu itu. Kamu mungkin bisa mendapatkan pengganti yang lebih cepat, tapi menunggu akan membuat sesuatu menjadi semakin berharga.

Bila yang akan kamu tunggu adalah sesuatu yang pasti datangnya, maka jangan ragu untuk menunggu. Karena jarak dalam satuan waktu akan mengajarkan kita bagaimana menahan hawa nafsu, bagaimana kita menahan diri, dan bagaimana kita mengisi waktu dengan hal-hal yang baik selama menunggu.

Dalam menunggu, kamu harus membayar dengan waktumu untuk sesuatu yang paling kamu inginkan. Sebuah harga mahal dari menunggu, karena waktu kamu tidak akan pernah bisa diganti bahkan dikembalikan. Dan untuk sesuatu yang berharga, aku percaya kamu siap membayar semua itu.

Dan bila kamu memintaku untuk menunggu, aku akan melakukannya. Karena aku tahu kamu sangat berharga dan aku juga tahu bahwa menunggu ini tidak selamanya, tidak akan menghabiskan seumur hidup.

Tunggulah sebentar. Sabar atau kamu akan kehilangan.

©kurniawangunadi

 

Monday, February 27, 2017

Khasiat dari Kesibukan

Bagi seorang *prokrastinator,  *menjadi sibuk* adalah salah satu peluang (besar) untuk memperbaiki regulasi dirinya. Tapi sayangnya, hanya sedikit yang menyadari hal tsb. Saya pun baru menyadarinya beberapa ribu detik yg lalu—–saat makan malam setelah seharian berkutat dg kesibukan akademik & organisasi. Saya baru menyadari bahwa buah *termanis* yg berhasil saya dapatkan dari kesibukan yg saya jalani sekarang, bukan hanya sekedar ilmu pengembangan diri dari sisi kognitif saja, tetapi lebih dari itu, ternyata  perkembangan pada sisi konasi (psikomotorik) juga tidak kalah tinggi.
Dan bodohnya, saya baru menyadarinya sekarang. 

Bahwa melalui *kesibukan, seseorang dapat merubah kebiasaan yg melekat kuat pada dirinya, bahkan tabiat buruk sekalipun.
Anggaplah bahwa sering menunda-nunda pekerjaan (prokrastinasi) adalah tabiat buruk. Dan saya adalah salah satu subjek dari tabiat buruk tsb. Yaaaa bisa dibilang saya ini salah satu dari sekian banyak prokrastinator di bumi Tuhan. Dulu sih begitu, tapi entah sekarang.
Jelasnya, yg ingin saya katakan adalah,
bahwa menjadi sibuk adalah peluang besar bagi seseorang untuk memperbaiki regulasi dirinya. Menjadi sibuk adalah solusi bagi para pemilik manajemen waktu yg buruk. Dengan kata lain, kesibukan adalah obat mujarab bagi para prokrastinator. 

Obat mujarab? Ya.
Sebab melalui kesibukan, kita akan banyak belajar tentang waktu. Tentang prioritas, juga tanggung jawab. Kita belajar bagaimana memanfaatkan waktu yg hanya 24 jam untuk menyelesaikan sekian banyak urusan yg harus diselesaikan dalam sehari. Sebab dalam situasi semacam itu, seseorang akan dipaksa alam bawah sadarnya untuk berpikir tentang  bagaimana urusan yang sangat banyak itu dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Pada saat makan, hendak tidur, bermalas-malasan, beban kesibukan akan selalu hinggap memenuhi pikiran yang pada akhirnya mendorong kita untuk beranjak dari kemalasan tsb. 

Seperti yg saya alami sekarang. Akhir2 ini saya dibuat cemas oleh sekian banyak urusan yg mendera terus2an. Seakan2 waktu 24 jam yg saya punya, tidak akan cukup untuk menyelesaikan semua urusan itu. Beban kesibukan pun mengambil peran menjadi alarm pengontrol yg mampu menjauhkan saya dari aktivitas2 yg tidak menguntungkan. Saya seakan dipaksa untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dari mulai bangun tidur hingga kembali tidur lagi. Mengatur strategi agar waktu 24 jam yg saya punyai, tidak habis dengan percuma. Dan memang, saya sangat merasakan betapa kesibukan telah berhasil memperbaiki manajemen waktu yg saya miliki. Saya benar2 merasakan perubahan yg sangat berarti melalui kesibukan (yg sepertinya teramat melelahkan) ini. 
Dan bodohnya, saya baru menyadarinya sekarang. Ya, saya baru menyadari bahwa ternyata menjadi sibuk itu teramat menguntungkan. Sungguh, menjadi sibuk itu teramat menguntungkan. 

Jadi,
Apabila tanganmu terasa sangat kaku untuk digerakkan, dan kakimu terlalu berat untuk berjalan, maka ingatlah bahwa menjadi sibuk adalah obat mujarab yg kau butuhkan.

Sebab apabila prokrastinasi adalah penyakit, maka *kesibukan adalah obatnya. 
Nggak percaya? Buktikan saja! 



Smg, 27/02/17
©DFZ

Tuesday, February 7, 2017

The Main Point is "Acceptance"

"Baiklah. Kau kukuiklaskan. Kukembalikan pada Tuhan."

Nyatanya, untuk mengeluarkan ungkapan semacam itu, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh kesabaran, juga kerelaan. "Kudu ikhlas," kalau kata ustajah sih begitu. 



Well.. Actually, the main point is "Acceptance". Kamu akan mengetahui & merasakan sisi baikmu, apabila kamu telah *menerima sisi surammu. 
 
Anggaplah bahwa *move on (pindah ke lain hati)* adalah sisi baik, dan *mantan* adalah sisi suram. Dimana mereka bilang, berhasil move on adalah puncak dari kebahagiaan dan mengingat mantan adalah sumber dari sirnanya kebahagiaan. Lalu berkembanglah dogma bahwa cara paling ampuh untuk bisa move on adalah dg *menolak keberadaan Mantan*. Menutup rapat2 telinga, dan menghindar dari apa2 yg berbau mantan. Yaaa barangkali mereka beranggapan bahwa dg menghilangkan sisi suram dalam hidupnya, maka kebahagiaan akan mereka rasakan.
Benar begitu kan? Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa kunci dari kebahagiaan itu terletak pada sejauh mana mereka bisa menerima sisi2 suram yg ada dalam hidupnya. Bukan malah mengingkarinya. 

Anggaplah bahwa jatuh cinta itu salah satu hal yg bisa membuat orang bahagia, dan patah hati itu sebab dari hilangnya kebahagiaan itu sendiri. Lalu utk bisa jatuh cinta lagi, kamu melarikan diri dari hal2 yg bisa membuatmu patah hati. Menciptakan berbagai macam *penolakan* atas hal2 yg membuat memar ulu hati. Menolak keberadaan mantan, menghindari tempat2 bersejarah yg bila kau melewatinya hidungmu akan mencium bau mantan, dan lain sebagainya. Seakan-akan kau ingin melenyapkan sosok bernama mantan beserta embel2nya dari alam semesta. Dan apabila kamu dapat melakukannya, kamu akan merasa puas luar biasa. Sebab menurutmu itulah cara paling ampuh menuju bahagia.
Tapi lucunya, ketika kamu tidak sengaja berpapasan dg sisi surammu itu, hatimu kembali memar tak ketulungan. Air di pipimu mengucur begitu saja. Menangisi sisi suram bernama mantan yg katamu sudah kau bumihanguskan. Yuhu, pada akhirnya penolakanmu atas hal2 suram dalam hidupmu hanya akan membuatmu terus bergelayut pilu. Dan apabila tidak segera ditangani, akan melahirkan berbagai macam penyakit hati. Membenci mantan, memutuskan hub. persahabatan dg mantan, mengingkari keberadaan mantan di bumi Tuhan, itu termasuk dari jenis2 penyakit hati kan?
So, what should you do?
Kembali lagi pada kalimat awal,
Actually, the main point is Acceptance. Kamu akan mengetahui & merasakan sisi baikmu, apabila kamu telah *menerima sisi surammu. Yap. Kamu akan bisa merasakan kebahagiaan, apabila kamu telah *menerima* ketidakbahagiaanmu.

Anggap saja move on adalah sumber kebahagiaan, dan mantan adalah sumber dari sirnanya kebahagiaan. Maka terimalah kenyataan itu. Kenyataan bahwa mantanmu yg dulu selalu kau dambakan, bukanlah sosok terbaik yg dipilihkan Tuhan. Terima, nikmati, syukuri. Bahwa kebahagiaan itu ada ketika kau mampu menerima dan *mensyukuri apa2 yg tidak kau sukai.
Memang begitu, sekali2 kau memang perlu berbincang2 dg sisi surammu. Mengenalnya lebih dekat, menerimanya, lalu bersyukur sebanyak-banyaknya.
Bahwa tanpa adanya sisi suram, manusia tak akan pernah mengenal kebahagiaan.
Bahwa melalui sisi suram, Tuhan ingin mengajarimu banyak hal.
Benarkan? SekiaEnd. 

°
°
°

Oiya kelupaan.
Cuma mau bilang, btw tulisan ini saya buat sebagai respon dari kejenuhan saya akan banyaknya teror pertanyaan model begini, "Bu psikolog, caranya buat muvon gimana ya bu? Aku begini begene dan begono nih... then blablablablablaaaa"
Lalu aku cuma ketawa dan bilang, "Wakwak.. mantan? Dibuang sayang, ditimbun jadi sampah pikiran. Lalu mau kau apakan?"
Dan kami pun terbahak-bahak.
"Adoh bro..bro, coba aku tau caranya. Pasti sudah kuobati diriku sendiri jauh2 hari," kataku dalam hati. :v


Jpr, 7/2/17
~dfz~

Saturday, February 4, 2017

Belajar dari Patah Hati

"Apa? Kau pernah merasakan patah hati yg luar biasa sakitnya? Waw. Sama dong, aku juga. Ah tak usah malu begitu, itu *wajar2 saja kok. Apa lagi utk gadis yg sedang berada di masa penantian sepertimu. Kecuali kalau kau tak mengambil secuil pelajaran pun dari pengalaman itu, barulah kau wajib utk merasa malu. Btw, apa yg kau dapat dari patah hatimu itu? Kau mempelajari sesuatu?" kataku pada sorang sahabat.

"Okelah kalau kau masih belum mau cerita. Tak apa. Sekarang aku yg cerita ya..

Aku juga sama sepertimu. Pernah jatuh cinta, pernah patah hati pula. Lalu jatuh cinta lagi, dan patah hati lagi. Tapi setidaknya aku mengantongi banyak pemahaman dari pengalaman menyakitkan itu. Dan itu yg membuatku bersyukur. Bahwa melalui patah hati lah Tuhan mengajariku banyak hal. Salah satunya, Ia membuatku paham mengapa aku dipatah-hatikan. Ya, Ia membimbingku utk *mengintrospeksi diri. Apa yg salah dg diriku? Apa yg salah dg hatiku? Bukankah jatuh cinta adalah anugerah? Oh, atau barangkali caraku yg keliru? Iya, caraku keliru. Mungkin aku terlalu berlebihan. Mencintai scr berlebihan, melambungkan harapan scr berlebihan, pun menangisi dg berlebihan. Dan cara2 seperti itulah yg pada akhirnya membuatNya cemburu. Lalu Ia pun mengingatkan dg mengenalkanku pada kehilangan. Karna aku tak sanggup memaknai kehilangan, akhirnya aku teridap penyakit patah hati. Ya, aku patah hati, yang sebenarnya itu karena ulahku sendiri. Bukan karena dia atau Dia yg mematah-hatikan. Sebab seandainya cinta yg kutumbuhkan tidak terlalu dalam, pun harapan yg kusemogakan tidak terlalu berlebihan, pasti aku tak akan se-memar itu kan? Semuanya akan biasa saja. Mungkin memang terluka, tapi tak sampai membuatku harus menyeka air mata. Jadi ini salahku, yang telah mencintai dg cara yg berlebihan.

Yap. Begitulah aku memaknai kehilangan. Memaknai patah hati dg mengambil banyak pelajaran. Bahwa patah hati itu hal yg wajar. Yang tidak wajar adalah ketika kau membiarkan hatimu memar, sementara tak ada secuil makna pun  yang dapat kau jadikan pelajaran.

Memang begitu. Berada di masa2 penantian itu memang melelahkan. Mencintai orang yg salah, mengabaikan orang2 yang belum tentu salah, pun menerka-nerka "Apakah dia orangnya? Atau dia yg lain?" yg semua itu hanyalah pengandaian semu yg bila tidak dikondisikan akan membuat hatimu patah.

Maka dari itulah aku mulai mencoba berbenah.
Sekarang aku telah melupakan dia, yg karenanya hatiku patah. Lalu mengagumi dia yg lain, yg entah mengapa mengaguminya membuatku lebih bersemangat utk berbenah. Jadi kupasrahkan saja rasa kagum ini padaNya. Agar rasa ini hanya sebatas kagum saja, tanpa dibumbui oleh cinta (yg semoga hanya *belum pada waktunya). Moga saja dia orangnya ya.. Jangan dia atau diaa. Dia (yg kukagumi) saja. 
Tuhkan aku berandai lagi -.- :v

Yuhu.. Itulah risiko yg harus dihadapi di masa2 menanti, sobat! Masa2 dimana kita harus pandai menjaga diri pun hati. Berat memang. Orang bilang masa2 penjagaan diri memang berat. Makanya jangan dipikul sendiri. Sini curhat! Apa yg kau pelajari dari patah hatimu itu?

Iya, sekarang gantian kamu yg cerita. Apa yg kamu dapat dari patah hatimu itu? Apa kau mempelajari sesuatu?"

jelasku panjang lebar pada sorang sahabat yg kerap kupanggil, "kamu!" (Gak usah sebut nama ah, nanti orangnya malu :v)

Jpr, 3/2/17
-dfz-

Tuesday, January 24, 2017

Jadilah Sebab Kebaikan!

Malam ini ada serbuk kopi yg menempel di *pipi. Aku jd susah tidur. Kepikiran secuil kalimat. Satu kalimat dr ibu dosen yg sayangnya bukan dosen filsafat. Aku sering menyebutnya pesan. Alarm kehidupan lebih tepatnya. Dulu beliau selalu bilang, "Jadilah sebab kebaikan, nak!" Selalu diulang2, tiap kali pertemuan. "Jadilah sebab kebaikan!" Bahkan aku pun tak segan2 mengabadikan kalimat itu di beberapa halaman depan buku catatan. "JADILAH SEBAB KEBAIKAN!" Begitu aku menulisnya. Besar. Memakai huruf kapital. Tebal. Harapannya, agar aku bisa menjadikannya sbg alarm kehidupan. Bahwa hidup adalah untuk menjadi sebab kebaikan. Untuk keluarga, kerabat, orang terdekat, pun semesta. Bahwa menjadi pribadi baik adalah kewajiban. Dan menjadi sebab kebaikan adalah suatu keharusan. 

Dan malam ini, kalimat itu kembali mengusik pikiran. Aku telah lama melupakan satu hal. Entah lupa, atau barangkali baru menyadarinya sekarang. 

Bahwa sudah menjadi suatu keniscayaan bagi seorang anak untuk menjadi sebab kebaikan bagi kedua orang tuanya.

Bahwa sudah menjadi tugas kita (sebagai anak) untuk menata keluarga kita menjadi lebih baik. Lebih baik dari sebelum keberadaan kita di dunia. 

Bahwa menjadi sebab kebaikan adalah sebuah harapan yg selalu disemogakan orang tua manapun kepada buah hatinya. 

Bahwa sudah seharusnya,
aku menjadi sebab lebih baiknya keluargaku. Menjadikan orang tuaku pada khususnya dan saudara-saudariku pada umumnya sebagai pribadi yang lebih mengetahui & memahami banyak hal. Sebab aku ada, untuk menjadi sebab dari lebih baiknya mereka. 

Sebab seorang anak lahir ke dunia bukan semata2 untuk menjadi seorang murid sepanjang masa. Bukan. Kedua orang tuamu memang guru terbaikmu, tapi bukan berarti kewajiban membimbing hanya berlaku untuk keduanya saja. Aku, kamu, kita tak lupa kan? 

Bahwa sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk menularkan ilmu. Sebab bukan hanya buah hatimu kelak yg menantikan tularan ilmu darimu, tapi orangtuamu juga diam2 sangat mengharapkan.

Memang begitu. Sekali2 kamu memang perlu merangkap peran menjadi murid sekaligus guru bagi kedua orang tuamu, pun semesta yg rindu diajari olehmu.
Kamu tak lupakan? Ah moga saja cuma aku yg kelupaan.
Tuhan, makasih ya.. sudah diingatkan 

Bahwa aku punya kewajiban.

Yaitu "menjadi sebab kebaikan". 

 
Sudah malam. Sekian. :)



Jpr, 24/01/17
~DFZ

Saturday, January 14, 2017

Hujan, Terimakasih // shortstory


"Aku tidak takut!" 
 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjqWhHGRsB-bGR7WTWnbNWdmCoQVXVIupQkx-j7thDphJTwVNVVBBMcsexrpxQ8QOGhbqz4ZQRBC4o5igCGxNGHo1lprF-FnQXFva_2Y-tN5SG3e-5S01jxn2ghLI8OBQVgGiuKKpnHWvg/s1600/download%252520%2525281%252529.jpg
Teriakan hati milik mahasiswi psikologi itu terdengar begitu lantang. Ia memang ingin bertutur tegas kepada penduduk bumi yang kala itu sedang bersembunyi di bawah atap yang nyaman, pun di atas kasur yang empuk. Menegaskan bahwa guyuran hujan, teriakan petir, pun sambaran kilat, bukanlah misbehavior of earth yang layak untuk ditakuti. "Mereka turun ke bumi untuk menantang. Dan hanya jiwa-jiwa pemberanilah yang akan merasa tertantang," tegasnya pelan----di dalam benda kecil bernama hati.

"Aku tidak takut! Aku akan tetap pergi!" Gaungan hati milik perempuan ber-ransel hitam itu kembali menggelegar. Makin keras. Makin tegas. Ia memang keras kepala. Lagi-lagi ia ingin bertutur tegas kepada makhluk-makhluk yang pada saat itu sedang berselimut, bahwa derasnya hujan, kerasnya petir, pun bengasnya kilat, bukanlah alasan untuk tetap berteduh di balik selimutnya yang tebal dan empuk. Ya, sore kemarin, perempuan rantau itu kembali ber-ulah. Perempuan rantau itu, ... ah sebut saja dia, 'aku'.

Sore kemarin. Saat embusan angin senja memercikkan air langit yang hendak membasahi tanah Tembalang. Saat jiwa-jiwa sang perantau menelingkup di balik selimut tebal nan empuk, menyambut virus kantuk yang tiba-tiba menusuk sebab terang tak kunjung datang. Saat-saat itulah aku, si perempuan berjaket merah, ber-ransel hitam, penenteng tas cangkingan berisi beberapa buku (cerita roman :v), berdiri di depan pintu yang bertuliskan "kamar 304 Graha Larasati) dan berucap lantang, "Bu, kini kupenuhi janjiku. Aku pulang! Tak peduli, meski bumi sedang tak karuan."

Sekali lagi kulirik seisi kamar----memastikan tidak ada yang tertinggal, lalu mengunci pintu, dan turun menuju lantai dasar. Dug. Langkahku terhenti di suatu ruangan luas berisikan 17 kendaraan roda 2 berjenis matic. Tak selang lama, salah satu kendaraan bernama oiraV, berwarna merah merona, dan berbody ramping, melambaikan tangan ke arahku. Rupanya ia telah siap bertamasya ria dengan pemiliknya. Akupun segera mendekat. Membunyikan mesinnya, memberinya kesempatan untuk melakukan pemanasan semenit saja, lalu bergegas tancap gas. Ya, tepat pukul 05.30 pm aku meluncur ke jalanan. Berbaur bersama hujan. Asik kan? 

Musim penghujan memang menyebalkan bagi mereka yang hobinya motoran. Tapi tidak dengan perempuan pembuat onar ini (penulis mengajungkan tangan :v). Kau tahu? Dulu aku sempat dikeroyok habis-habisan oleh angin kencang, hujan lebat, pun gelap malam. Terlunta-lunta dijalanan karena satu-satunya jembatan pengantarku ke tujuan (rumah) tidak bisa dilewati. Para rider kebanjiran. Pun kebingungan mencari jalan agar sampai ke tujuan. Dan alhasil, sampai rumah aku jendindilan---(semacam penyakit tak butuh obat yang diakibatkan oleh kedinginan akut dan bisa sembuh kalau ada selimut :v). Dan kau tahu, dimana letak ke-onar-anku? Aku membuat semua orang kesakitan. Teridap penyakit khawatir yang tak ketulungan. Ahh barangkali mereka yang terlalu lebay memaknai kehilangan, atau aku yang kelewatan? Toh aku tak lantas hilang kan? Toh aku masih selamat sampai tujuan. Tak terbawa badai yang menghantui saat masih di jalanan. Hmmm
Dan kamu tahu? Sore kemarin, aku mengulanginya. Kembali pulang dengan hujan dan gelap malam. Berharap di tengah perjalanan langit akan terang benderang, sehingga banjir kala itu tak akan terulang. 

Haha. Aku suka. Sangat suka. Berkendara sendirian. Kala malam. Bersama hujan. Asik kan?

Butiran air langit yang menemaniku di awal perjalanan memang tidak terlalu deras. Hanya gerimis, yang sesekali lebat. Aku masih bisa menyetir santai sambil satu/dua kali melirik ke kanan dan kiri. Menikmati suasana Tembalang di kala senja, untuk terakhir kalinya---sebelum angka tahun bertambah usia. 

Di sepanjang jalan, sembari menonton apa-apa yang ada di jalanan, aku mencoba mengkondisikan pikiran agar tak tersangkut-sangkut. Tapi sialnya, usahaku menonton pikiran selalu saja gagal. Berkali-kali kucoba mengkondisikan pikiran-pikiran yang berdatangan layaknya iklan. Membiarkan mereka datang, mampir sebentar, lalu kembali pulang. Tapi usahaku sia-sia. Sebuah pikiran bernama was-was meraung-raung tak mau pulang. Ya, aku memang sedikit was-was. Kepikiran kalau di tengah perjalanan, hujan menjadi lebih lebat dari yang kubayangkan. Sedangkan aku hanya berbekal jaket angkatan warna merah yang tebalnya tak sampai satu senti. Jas hujan? Haha. Sempat terpikir dalam benak untuk  mampir ke toko, membelinya. Tapi karena uang lembaran di dompet tinggal beberapa biji
---habis untuk belanja di Gramed kemarin, jadi kuputuskan untuk tidak jadi beli. Haha. Tapi kewas-wasanku itu tidak berlangsung lama. Sebab tak lama dari itu, pikiran-pikiran baru  bermunculan, mendesak pikiran bernama was-was untuk keluar. Tepatnya, ketika terdengar suara merdu milik para muadzin---mengumandangkan adzan maghrib.  Bersaut-sautan antara surau satu dengan surau lainnya. Aku pun memperlambat laju kecepatan (agar tidak kualat saat di jalan ---EHH:v). 

Embusan angin senja yang terasa adem sekali, dibarengi lantunan suara merdu milik muadzin yang entah siapa, membuatku terbawa suasana. Suasana itu membawa pikiranku untuk mundur beberapa langkah kebelakang. Mengingat-ingat perbincangan hangat yang terjadi beberapa waktu lalu di suatu majelis ilmu. Pada perbincangan itu, aku dan beberapa anggota majelis lainnya mengikrarkan sebuah janji. Kami berjanji untuk membiasakan diri menikmati adzan. Kami berjanji untuk berhenti dari aktivitas apapun setiap kali mendengar suara adzan. Lalu meresapi setiap lantunannya, pun mengkondisikan diri untuk berada dalam keadaan mindfulness---{Kondisi dimana Anda memiliki kesadaran penuh dan atensi yang tinggi atas apa yang Anda alami, rasakan, pikirkan, pun hal-hal yang terjadi di sekeliling Anda, pada suatu waktu (Zahra, 2017).}
“Jika kalian mendengar mu-adzin, maka ucapkanlah sebagaimana yang ia ucapkan. Kemudian bershalawatlah untukku. Karena barangsiapa yang bershalawat untukku sekali, maka dengannya Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Kemudian mintalah al-wasilah kepada Allah untukku. Ia adalah sebuah tempat di Surga yang tak diraih kecuali oleh seorang hamba di antara hamba-hamba Allah. Dan aku berharap ia adalah aku. Barangsiapa memintakan untukku wasilah kepada Allah, maka dia layak mendapat syafa’atku.” -Rasul SAW
Setidaknya diperjalananku kali ini, bukan hanya dingin yg kudapatkan. Melainkan kesadaran bahwa ada yang lebih nikmat dari mendengarkan musik saat sedang dijatuhcintakan. Yaitu MENDENGARKAN & MENIKMATI ADZAN, saat berkendara, di kala senja, bersama hujan. Sungguh! Percayakan? :D

***

Aku suka. Sangat suka. Berkendara sendirian. Kala malam. Bersama hujan. Asik kan?

Berkendara di malam hari memang mengerikan bagi sebagian orang. Seperti suasana di jalan yang kulalui setelah seperlima perjalanan. Jalan itu memang bukan jalan raya. Pantas saja, jarang ada kendaraan roda 6 yang melaju di atasnya. Tapi suasana seperti itu sangat menguntungkanku. Aku jadi bisa lebih leluasa berkendara. Menambah laju kecepatan pun bisa dihukumi aman-aman saja. 

Sembari membiarkan roda motor bergelinding dengan laju yang sedikit lebih cepat, aku membiarkan pikiranku berkelana. Ia berkelana ke Taman Cinta. Tak jauh berbeda dengan tempat yang kukunjungi di perjalananku sebelumnya. Entah mengapa, tiap kali aku berkendara sendirian, pikiranku selalu saja melesat ke sebuah taman bernama Cinta. Padahal aku tahu persis,  pada akhirnya aku akan terluka. Sebab ada rindu di dalamnya. Rindu yang membuat memar ulu hati. Membuat nyeri tak kunjung berhenti. Tapi tetap saja, tiap kali aku berkendara, imajinasiku selalu saja tak pernah bosan mengunjunginya. Entahlah, mengapa. 

***

Tempat itu bernama Taman Cinta. Taman megah yang hanya dihuni oleh 2 manusia biasa. Seorang putri kecil manja dan seorang lelaki paruh baya yang bijaksana. Mereka memang hanya berdua saja. Tapi tawa putri kecil itu tak pernah ada habisnya. Rupanya, lelaki paruh baya itulah sumber bahagianya. 

Pernah suatu hari, sang putri kecil pergi meninggalkan taman. Ia pergi mengelilingi jagat raya untuk bertamasya, bersama teman-temannya. Bahagia luar biasa pun terpancar di parasnya. Pasalnya, itu kali pertama ia pergi dari istana seorang diri. Bukan hanya pergi ke seberang jalan, tapi ke beberapa kota nan jauh di sana. Tempat demi tempat ia kunjungi. Menyusuri desa, hingga kota. Menapaki jalan sempit menghimpit, hingga jalan raya yang luar biasa luasnya. Dan di perjalanan itu lah ia menyadari bahwa dirinya sudah beranjak dewasa. Bukan lagi menjadi gadis kecil nan manja. 

Setelah puas bertamasya, ia pun bertekad untuk menjadi pribadi mandiri. Ia memberanikan diri untuk meminta izin kembali ke taman seorang diri. Ia tidak ingin lelaki paruh baya itu kerepotan menjemputnya. Ia ingin pulang sendiri. Seorang diri. Akan tetapi permintaan izinnya tak diterima. Lelaki paruh baya yang setengah mati mencemaskannya itu, benar-benar tidak tega membiarkan sang putri kecil menempuh perjalanan jauh tanpa ada yang mendampingi. Ia takut putrinya kenapa-napa. Ia takut kalau putri kecil itu kedinginan di jalan, kelelahan, pun kalau-kalau tersesat dan tak tahu jalan pulang. Ya, lelaki paruh baya itu memang sangat mencintai sang putri kecil. Ia tetap saja menjadi bayang-bayang tiap kali putri kecilnya pergi, meski putri kecil itu berkali-kali bilang bahwa dirinya bukan anak kecil lagi. 

Sang putri kecil sudah beranjak dewasa. Tapi lelaki itu tetap saja mengikuti tiap langkahnya.

Atau barangkali itu yang namanya cinta?
Cinta dari laki-laki biasa untuk buah hatinya-kah?

Jikalau itu yang disebut cinta, cinta dari seorang laki-laki biasa, maka ketahuilah,
Cinta itu sungguh menguras kalbu. Menyulam hatiku dengan rindu. Rindu menggebu, kala si putri kecil tak bisa lagi bertemu (dengan lelaki paruh baya itu). Sungguh, cinta itu benar-benar menyuras hatiku.

Hatiku? Ya. Sebut saja putri kecil itu "aku". Dan lelaki paruh baya itu.. ... anggap saja dia, ayahku.
Ayahku yang sungguh menyayangiku. 

Ayahku, yang sangat benci melihat putri kecilnya kehujanan, sendirian, di kala malam.

***

Aku suka. Sangat suka. Berkendara sendirian. Kala malam. Bersama hujan. Asik kan?
Taman Cinta.
Itulah mengapa; aku suka berkendara saat hujan. 
Ya, aku sangat suka hujan. Hujan memberiku ruang untuk meluapkan rindu. Leluasa meluap, tanpa seorangpun tahu, bahwa yang mengalir membasahi pipi ialah air yang bermuara dari rindu. Dari mata hatiku. Bukan air hujan dari langit itu. Karena itulah mengapa aku suka hujan. Sebab hujan menenangkan. Sebab hujan memberi kesejukan----pada tiap hati yang kehausan. 

***

Aku suka. Sangat suka. Berkendara sendirian. Kala malam. Bersama hujan. Asik kan?

Embusan angin yang makin lama makin kencang, diiringi suara petir yang membisingkan pendengaran, membuat suasana jalan Pantura semakin mencekam. Aku mulai menggigil. Tubuh sudah penuh dengan air. Tak menyisakan setitik ruang pun yang kering. Ingin menepi, berteduh menghangatkan diri, tapi tak jadi. Lagipula untuk apa? Toh perjalanan masih panjang. Bumi Kartini masih 75 kilo meter lagi. Suhu tubuh yang terasa sudah berada di minus sekian derajat celcius pun tak akan bertambah naik bila kutepikan kendaraanku untuk berteduh.
"AKU KUAT. AKU HEBAT! AYO SEMANGAT!" teriakku dalam hati, menyemangati raga yang kian mengkerut pun kulit yang kian keriput---karena kedinginan.

Aku meneruskan perjalanan. Kupercepat laju kendaraan, tapi dengan penuh kehati-hatian. Kecelakaan yang kusaksikan di jalanan yang kulewati beberapa kilo meter sebelumnya, cukup membuatku trauma dan jauh lebih waspada. "Oh God.. aku tak mau jatuh konyol seperti pemuda itu," gerutuku seraya menguatkan tubuh yang ingin pingsan karena kedinginan. 

Angin kencang yang menggoyangkan pepohonan membuat listrik berhenti menerangi jalanan. Listrik seketika padam. Hanya rembulan dan lampu-lampu kendaraan yang menerangi jalan. Aku pun memperlambat laju kendaraan. Kulihat kanan-kiri. Satu/dua bangunan yang kulalui tampak gelap gulita, nyaris seperti rumah tak berpenghuni. Aku mulai gemetaran. Bukan karena ketakutan, tapi karena kedinginan yang terus-terusan menjalar. Aku mencoba tenang. Kuposisikan sorot mataku lurus ke depan, lalu kucoba menikmati perjalanan. 

Tak lama dari itu, tetiba saja, mataku terbelalak. Menyoroti seorang lelaki bergamis putih yang berdiri di tepi jalan, persis beberapa meter dari hadapan. Ia melambaikan tangan ke arahku. Seperti ingin meminta tumpangan, atau menawarkan jas hujan? Haha. Entahlah. Kala itu aku tak berpikir panjang. Ku arahkan roda kendaraanku ke tepi jalan, lalu ku berhentikan tepat di depannya. 

"Bolehkah aku menemani perjalananmu, nak?" tanyanya yang membuatku tak bisa menolak. 
Ternyata ia seorang lelaki paruh baya yang berusia kurang lebih 50-an. Ia tak membawa apapun, kecuali sebuah payung dan jaket tebal yang kemudian diberikan kepadaku. Bapak itu kelihatannya baik, sama sekali tidak kutemui tampang penjahat di parasnya. Aku hanya manggut-manggut dan sedikit senyum. Setelah kukenakan jaket yang beliau berikan, kami pun melanjutkan perjalanan.
"Bapak dari mana, dan mau ke mana?" tanyaku mengawali pembicaraan.
"Saya musafir, nak. Perjalanan saya masih panjang," jawab beliau singkat.
"Memangnya bapak mau ke mana?" tanyaku lagi.
"Saya penduduk Negeri Cinta, nak. Di sana ada Taman Surga yang megahnya luar biasa," jawabnya yang membuatku semakin penasaran.
"Memangnya, ada apa saja di sana? Apakah saja boleh mengunjunginya?"
"Taman Surga adalah taman yang penuh kebahagiaan. Di sanalah tempat bagi para perindu."
"Perindu????"
"...."

Percakapan itu mengalir begitu saja. Panjang, sepanjang jalan Pantura. Aku jadi memahami satu hal, bahwa perjalanan panjang akan terasa lebih menyenangkan bila tak sendirian. Bahwa perjalanan panjang akan lebih membahagiakan bila dilalui dengan berduaan, bersama hujan. Haha.

Bapak bergamis putih itu bercerita kepadaku tentang banyak hal. Tentang Negeri Cinta, yang di sanalah surga bagi para pecintaNya. Tentang Taman Surga, yang di sanalah tempat berkumpulnya para perindu.

Perindu???? Termasuk perindu-kah aku?? 

"Saya juga perindu, pak. Saya perindu yang merindukan sosok panutan yang telah lama pergi. Saya teramat merindukannya, sampai-sampai saya berharap ia akan menghampiri saya. Menemani saya setiap kali saya sendirian. Saya teramat merindukan-nya, ia yang sangat khawatir ketika buah hatinya kehujanan, sendirian. Ya, ia sangat memerhatikan saya. Apapun yang saya lakukan, dan kemana pun saya pergi, ia selalu tahu, ia selalu ada. Ia memang sangat memanjakan saya, pak. Tapi jangan salah, ia adalah sosok yang sangat tegas. Luar biasa tegasnya. Tak semua yang saya mau akan ia turuti segera. Tak semua permintaan saya akan ia kabulkan seketika. Ia mengajari saya untuk berjuang dahulu, sebelum keinginan saya terpenuhi. Ia mengajari saya untuk tetap bangun sendiri, makan sendiri, apa-apa sendiri, meskipun tubuh meriang tak ketulungan. Merengek? Haha, ia tak pernah mengajari saya demikian. Ia memang penyayang, pak. Tapi bukan berarti apapun yang saya minta segera di-iya-kan.
Dan ketika ia pergi, saya baru menyadari arti dibalik sikap kerasnya. Pun arti dibalik ketegasannya. Ya, saya benar-benar baru menyadari, bahwa ada milyaran arti dibalik sikap tegas ayah.
Saya sangat merindukannya, pak. Teramat sangat. 

Lalu, apakah saya ini termasuk salah satu dari para perindu yang berhak menghuni Taman Surga itu?"

Adakah yang lebih menyakitkan dari rindu?
Rindu yang tiada penawarnya, selain pertemuan dalam angan. Mimpi-mimpi yang sesekali, dan doa-doa yang senantiasa.
Adakah yang lebih menyakitkan dari rindu?
Rindu yang sesaknya bukan sekedar ketika kau putus cinta. Disuapi ribuan janji, dijatuh-cintakan setengah mati, lalu ditinggal pergi. Bukan. Ini bukan sekedar ketika kau patah hati.
Adakah yang lebih menyakitkan dari rindu?
Rindu yang tak memungkinkan adanya pertemuan. Seperti lautan yang merindu awan. Seperti kemarau yang merindu hujan.
Seperti mereka, yang meradang rasakan rindu, tapi tak bisa bertemu. `
Adakah yang lebih menyakitkan dari tak bisa bertemu?
ADA????
"ADA. Hanya saja, kau belum pernah merasakan. Belum terlalu kenyang makan asam-garam. Belum dikasihtahu, bahwa *kehilangan bukanlah satu-satunya hal yang paling menyakitkan. Bukan.
Lalu apa? Lalu kau hanya perlu menikmati hidupmu. Tak perlu bertanya-tanya atau menerka-nerka. Mengapa? Sebab kelak kau akan tahu sendiri. Seiring dengan bertambahnya usiamu. Seiring dengan dewasanya pikirmu. Seiring dengan makin lapangnya hatimu. Kau akan tahu. Bahwa, ada yang lebih menyakitkan dari rindu, ada yang lebih menyakitkan dari tak bisa bertemu. Ada."
~~Seperti lautan yang merindu awan, barangkali begitulah rinduku. Yang meradang, karena kehilangan. 


"Siapa yang lebih kau rindukan, nak? Apakah kerinduanmu pada ayahmu, jauh lebih besar dari kerinduanmu akan surga Tuhan?"

"Tentu saja, saya lebih merindukan ayah saya, pak. Bahkan saya  jarang sekali berbicara tentang surga."

"Mengapa nak?"

"Sebab dahulu ketika saya kecil, saya pernah bilang pada ayah bahwa saya mau rajin sholat agar bisa menjadi penghuni surga. Kala itu aku sangat terobsesi pada surga, jadi
kupikir, tujuan beribadah adalah demi mengharap surga. Tapi ayah menasihatiku. Beliau bilang bahwa tujuan beribadah bukanlah demi mengharap surga atau menjauhi neraka. Tujuan beribadah adalah demi mengharap RIDHO ALLAH Ta'ala. Demi mengharap cintaNya. Bukan begitu?"

Sungguh. Aku mendapatkan banyak hal di perjalananku kali ini. Bukan hanya dihujani air dari langit, tapi pikiranku juga dihujani banyak ilmu. Ilmu yang mungkin telah lama kulupakan. Pun ilmu yang belum pernah kudengar.
Bapak itu mengingatkanku, bahwa di dunia ini ada 3 macam jenis manusia. Ada manusia yang hanya mengharapkan surga, ada manusia yang hanya mengharapkan ridho dari Tuhannya, ada pula manusia yang beribadah karena tidak mau masuk neraka. Sedang, sebaik-baik manusia adalah yang beribadah karena mengharap ridho dari Tuhannya. Ia tidak akan peduli dengan surga dan neraka. Sebab baginya, yang terpenting adalah Tuhan bersamanya, dan ia bersama Tuhan. 
Itulah yang dinamakan perindu. Perindu yang merindu cinta dari Tuhannya. Bukan surga dan seisinya. 

"Kalau begitu, siapakah yang lebih kau rindukan, nak? Ayahmu, atau Tuhanmu?"

Pertanyaan itu begitu tajam. Menampar jiwaku. Membelalakkan mata hatiku. Pertanyaan itu, membuatku harus tertegun beberapa saat sebelum aku berhasil menjawabnya. 

"Tentu, setiap hamba pasti merindukan Tuhannya. Tapi tiap kali rindu itu meradang, selalu ada waktu dimana saya bisa bersimpuh, berkomunikasi denganNya. Saya bercengkerama denganNya setiap waktu. Dalam setiap sholat dan munajat. Tapi saya juga rindu pada ayah. Dan saya sama sekali tidak bisa berkomunikasi dengannya. Kecuali hanya dengan mimpi-mimpi yang sesekali, dan doa-doa yang senantiasa. Jadi, menurut saya, rindu pada Tuhan, dan rindu pada manusia itu dua hal yang berbeda. Moga saja, Tuhan selalu menjadi yang terdepan."

"Kau yakin, Tuhan selalu kau nomor-satukan? Bagaimana kalau Tuhanmu cemburu?"

Lagi-lagi pertanyaan itu membelalakkan mata hatiku. Aku terdiam, nyaris bungkam. Hanya memandangi jalanan, mengemudi dengan kecepatan standar. Bagaimana kalau Tuhanmu cemburu? Pertanyaan itu meraung-raung dipikiranku. Menampar-nampar. Tak mau hilang. Bagaimana bila Tuhanku cemburu? Aku memang sudah lama tak mendapatkan pertanyaan semacam itu. Bahkan mungkin aku hampir lupa. Aku hampir lupa kalau aku kerap kali membuatNya cemburu. Dan barangkali, aku pernah terlalu sibuk mencintai manusia, hingga lupa segalanya. Hingga lalai menjalankan perintahNya. Aku, ahh aku memang kerap membuat Tuhanku cemburu. Dan sudah lama aku tak menyadarinya. 

"Aku.., terlalu sering saya membuatNya cemburu, pak. Teramat sering. Lalu apa yang harus saya lakukan? Selama ini saya selalu ingin bertaubat selamanya, tapi nyatanya hanya di bibir saja,"

Apa yang harus saya lakukan? Pertanyaan itu sudah lama meraung-raung dipikiran. Ingin sekali kuluapkan, tapi tak pernah kesampaian. Apa yang harus kulakukan? Itu adalah pertanyaan kenangan. Kenanganku bersama laki-laki terhebatku. Laki-laki biasa yang sering menjawab pertanyaan-pertanyaan yang masih berlalu lalang di pikiran, yang belum sempat kuutarakan. Laki-laki yang sering kupanggil 'ayah' ini selalu saja tahu apa yang tidak kumengerti dan apa yang harus kuketahui. Yap, dialah penerang sekaligus pengarahku untuk tetap berlari ke tujuan ketika langkahku keliru. Dan kini aku merindukan saat-saat itu. Sudah lama aku tak bertanya, "Apa yang harus kulakukan?" ketika langkahku keliru dan seruan menuju kebaikan samar-samar kudengar. 

"Ayah, apa yang harus ku lakukan?"

Butiran air hangat berlinang menemani perjalanan yang tak lagi panjang. Berderai, berbaur dengan hujan. Siapapun tak akan tahu bahwa pengemudi sepeda motor berwarna merah ini sedang berurai air mata. Siapapun tak akan pernah tahu, sekalipun para pematuh lalu lintas di lampu merah kota Pecangaan itu. 

Biarkan air mataku berurai. Berbaur bersama hujan. Berderai terus berderai. Mengalir, ke ujung kaki, aspal, menggenang bersama hujan, lalu ke sungai, hingga ke lautan. 

Karena itulah,
Aku suka hujan. 

"Perbaiki sholatmu, nak!" bisiknya perlahan yang segera dicerna oleh pikiran, hati, dan jiwaku.
"Tinggikan kualitas sholatmu, nak!" bisiknya lagi yang membuat jemariku gemetar tak mampu mempertahankan laju kecepatan.
"Sholatlah seperti ketika kau tahu bahwa esok kau akan mati. Sebab ketika kau menjaganya (sholat), maka Ia akan menjagamu," 
 
dan lagi, beliau membisikiku sesuatu yang bukan sekedar bisikan. Lagi, setelah ribuan hari lamanya aku merindukan arahan dari lelaki tersayang yang jadi panutan, di perjalanan ini, perjalanan yang penuh dengan air mata rindu, dari langit pun dari mata-hati yang melebur jadi satu, aku kembali mendapat sebuah arahan, pencerahan dari laki-laki biasa yang jiwanya seperti dia--
--yang sudah tenang di surga Tuhan. Seorang laki-laki paruh baya, bergamis putih, berkopyah putih, yang tubuhnya tak basah meski kehujanan, yang membuat perjalanan ini begitu hangat meski hujan menghantam habis-habisan, yang menjadikan puluhan kilo meter ini terasa begitu dekat dan cepat. Lelaki paruh baya berusia kurang lebih 50 tahun itu. Yang telah mengantarkanku menuju Negeri Cinta, yang di sanalah ayah berada.

Kala itu, setelah menempuh 85 kilometer, aku berhenti di tepi jalan. Sebuah jalanan sepi yang tiada siapapun kecuali kami, hujan, dan petir yang menyambar. Beliau turun dan berkata kalau sudah sampai tujuan. Lalu, mempersilahkanku melanjutkan perjalanan. Sendirian. Beliau hanya tersenyum, lalu bilang,

"Lain kali jangan pulang malam-malam lagi ya, anak bandel! Lanjutkan perjalananmu! Tak usah khawatir, ayah selalu menjagamu dari kejauhan. Pemberanikan? :)"

"Ayah..?" 
Ternyata prasangkaku benar. Lelaki paruh baya itu bukan sembarang orang. 
"Ayah tunggu! Tapi aku ingin ikut bersamamu! Ayah tungguuu!!"

Aku gusar tak karuan. Air mataku mengucur deras bak banjir bandang. Sesak. Sungguh sesak luar biasa. Pikiranku buyar. Tak tahu arah pulang. Tak mau ditinggal sendirian. 

Akupun berlari. Meninggalkan sepeda motor yang tak lagi kinclong karena terciprat genangan air hujan. Mengejar laki-laki paruh baya yang tak kutahui namanya dan ternyata sosok yang kucinta. Aku berlari. Terus berlari. 

"Ayah tunggu!!" 

Sekencang kencangnya, secepat-cepatnya, aku berlari.

Hingga akhirnya,

BRAKKKKK
Aku berhasil mendobrak gerbang maha luas, tempat ayah berada.

 ▪Gerbang Utama Negeri Cinta▪▪

"Wow, inikah yang namanya Negeri Cinta? Kok panas ya?" (memegang jidat)

"Alamak.. bok yo nduk.. nduk," teriak ibu sambil geleng-geleng kepala. "Panas, panas, iya panas! Makanya kalau dibilangin orang tua itu jangan bandel! sudah dibilang jangan pulang malem-malem! Untung semalem pingsannya pas sudah nyampek gang,"

"Hah?" (mencoba bangkit, naik ke kasur) "Loh loh kok udah di rumah aja? Negeri Cintanya mana, buk?" (mengucek-ngucek mata, lalu menguap ZZzzz) 


***

Aku suka. Sangat suka. Berkendara sendirian. Kala malam. Bersama hujan. Asik kan?
Hujan, terimakasih. Kau mengajariku banyak hal. :)


----sekiaEnD----


 Jpr, 14/01/2017
 -DFZ-



#JustForFun
#AmbilBaiknya#BuangBuruknya :v
#MogaBermanfaat :)
 
#PerbaikiSholatmu,Ya! *keepsmile*

Termasuk yang mana-kah Sholat Kita?

(copas dari sebelah)
Wahai para ahli shalat,
 TERMASUK YANG MANAKAH SHOLAT KITA?

Bismillaah
Ibnul Qoyyim menyebutkan:
“Bahwa manusia di dalam sholat terbagi menjadi 5 macam”:

1. Orang yang disiksa/ mu'aaqobun
Alloh menyiksanya karena sholatnya.
Yaitu orang yang tidak sungguh-sungguh, tidak berwudhu dengan baik, tidak melaksanakan rukun-rukun, kewajiban-kewajiban dan syarat-syarat sholat, bahkan sejak awal dia melakukan sholat hingga selesai sholat, dia tidak tahu apa yang telah dia baca didalam sholatnya.

2. Orang yang dihisab/ muhaasabun.
Yaitu orang yang sholat dengan menunaikan rukun-rukun, kewajiban-kewajiban dan syarat-syarat sholat,
Akan tetapi sejak awal mulai sholat hingga selesai, dia sama sekali tidak sadar dengan apa yang telah dia ucapkan,
Dia biarkan pikirannya sibuk memikirkan dunia, sampai dia mengucapkan salam, bahkan dia sangat ingin agar sholatnya cepat berakhir, agar dia dapat segera menyelesaikan kebutuhannya.

3. Orang yang diampuni/ mukaffarun.
Yaitu orang yang mengerjakan sholat sesuai dengan rukun-rukun, kewajiban-kewajiban serta syarat-syarat sholat.
Namun sejak memulai sholat hingga selesai, terus menerus dia berusaha melawan hawa nafsunya dan syaithonnya agar hatinya tidak berpaling, hal inilah yang membuat Alloh mengampuni dosa-dosanya.

4. Orang yang diberi pahala/ mutsaabun.
Yaitu orang yang mengerjakan sholat lengkap dengan rukun-rukun, kewajiban-kewajiban dan syarat-syarat nya serta sunnah-sunnahnya disertai dengan khusyu’.
Maka Alloh akan memberi pahala untuknya karena sholatnya.

5. Orang yang didekatkan/ muqorrobun.
Alloh akan mendekatkannya kepada-Nya karena sholatnya.
adalah tingkatan tertinggi, yaitu orang yang sholat sesuai dengan rukun-rukun, kewajiban-kewajiban, syarat-syarat serta sunnah-sunnah sholat dan khusyu’ ketika melakukannya juga dia merasakan bahwa Alloh ada di kiblatnya dan mengawasinya.

 TERMASUK YANG MANAKAH SHOLAT KITA?

Categories

Follow me on Facebook

Follow me on Tumblr

Writing is the most fun you can have by yourself. - Terry Pratchett

Powered by Blogger.
Adsense Indonesia

About Author

Hamba Tuhan yang sedang belajar menulis.

Video of Day | Click on the link below to download the video!

Popular Posts