123, Example Street, City 123@abc.com 123-456-7890 lasantha.wam

Writing is the most fun you can have by yourself. - Terry Pratchett

Saturday, June 27, 2015

kau TANTANG Aku dengan MAKSIAT, dan kau 'tidak malu'

Wahai keturunan Adam, Kubentuk kamu dalam perut ibumu.
Kulapisi wajahmu agar tidak ternodai dalam rahim dan Kuarahkan wajahmu menghadap punggung ibumu agar bau makanan yang masuk tidak mengganggumu.

Kubuat untukmu sandaran nyaman di kanan dan di kirimu, di kananmu adalah hati dan di kirimu adalah limpa.

Dalam perut ibumu sudah Kuajarakan kau berdiri dan duduk, gerangan siapakah yang mampu melakukan itu selain-Ku?

Ketika waktumu telah tiba, Kuwahyukan malaikat penjaga rahim untuk mengeluarkanmu dengan kelembutan sayapnya sementara kau masih belum punya gigi untuk menggigit atau tangan kuat untuk mendobrak ataupun kaki yang bisa beranjak.

Kemudian Kusalurkan dua urat tipis dalam dada ibumu demi menyuguhkanmu susu murni yang hangat di musim dingin dan sejuk di musim panas.

Lalu Kumasukkan rasa cinta dalam hati kedua orangtuamu sehingga mereka tak sudi kenyang sebelum kau kenyang dan tak bisa tidur sebelum kau tidur.

Maka ketika punggungmu sudah tegak dan dirimu sudah kuat, kau TANTANG Aku dengan MAKSIAT, dan kau tidak malu. Walaupun begitu, doamu tetap Kukabulkan, permintaanmu tetap Kupenuhi, dan kalau kau bertobat tetap Kuampuni.”  (Hadis Qudsi)

Wednesday, June 24, 2015

Imamku, Ajari Aku Mencintaimu || Short Story

                                                              سم الله الرحم الرحيم - اللهم صلى على محمد و اله   

Say good bye to putih abu2. Yeyy, inilah masa dimana para remaja mulai membentangkan sayapnya untuk bergegas terbang mendewasakan diri. Berhijrah dari pelabuhan ilmu berseragam resmi menuju pelabuhan ilmu nan lebih luas dn tentunya bukan menjadi si culun berdasi abu2 lagi. Yap, *Mahasiswa* satu kata yang terdengar kece dan begitu sensasional di telingaku. Seperti yang teman seperjuangan ku katakan, "Meskipun gue adalah calon mahasiswi jebolan dari pesantren tradisional nan kolot, tapi jangan salah.. gue punya ambisi sekuat baja untuk meraih impian gue menjadi mahasiswi fakultas kedokteran di Universitas Gajah Mada. Hal yang sangat nyleneh untuk seorang gue memang. secara orang2 bilang muka gue ini muka2 ustadzah dan sama sekali nggak cocok jadi ibu dokter."
Kali ini aku tertarik untuk berbagi sedikit kisah dari teman tengil ku ini. Beberapa hari yang lalu kami tak sengaja bertemu di sebuah mall di Jakarta. Spontan pertemuan itu membuatku tercengang lantaran teman karib nan jauh di seberang dan sudah beberapa bulan menghilang itu tiba2 ada di depan mata. Ia menggandeng ibu2 separuh baya yang terlihat sudah sangat akrab dengannya. Tanpa fikir panjang akupun segera menghampiri, berjabatan tangan dan berpelukan beberapa saat layaknya dua sahabat karib yang sudah lama tak jumpa. Lalu ku ulurkan tanganku, berjabat tangan dengan ibu separuh baya yang berdiri persis di sebelah kanannya.
"Perkenalkan saya teman pondoknya Aqilah, ibu.. ibu pasti tantenya ya..??" Sapaku percaya diri.
Seketika mereka berdua saling berpandangan dan tertawa kecil. Aku pun heran, mengapa beliau tak menjawab pertanyaanku, malah meresponnya dengan tawa kecil yang membuatku semakin penasaran..?
"Ehm.. ada yang salah dengan pertanyaan saya??" Tanyaku meyakinkan.
"Ehehe.. Ima, kenalin ini umi Aminah.. IBU MERTUA gue " Jawab Aqilah singkat yang spontan memunculkan tanda tanya sebesar gajah di kepalaku.
"Ahh YANG BENER???????" Tanyaku agak kesal karna merasa di bikin semakin kepo.
"SERIUS!!! SUMPAH!!! WALLAHI !!! BI HAQQI...."
"SSTTT!! IYA2 GUE PERCAYA!! IHHHH ASEEEMMM LO !!!!!!  "
KOK BISA SIH???????? KEDOKTERANNYA DI BAWA KEMANA?????????

      ***

Jadi gini critanya.. ...
KEPO ya ??  


Orang yang paling ambisius di pesantren البتات الصالحه . Segala macam upaya di lakukan untuk menggapai ambisinya. Banting tulang membolak-balik segerombolan buku dari pagi sampai ketemu pagi lagi. Dan tiap di tanya "Woyy, why do U bother Ur self like that??"
"Pasti jawabannya, "Wes diemo!! semua ini demi UGM kesayangan"
                                                 (HADEHHHH)

Siang itu setelah mengantarkan umi Aminah pulang, kami memutuskan untuk makan siang berdua di sebuah restoran Arab tak jauh dari kediaman beliau. Sesampainya disana ku gelandang ia menuju gazebo paling pojok, lalu ku tatap matanya dengan tatapan tajam dengan ekspresi wajah datar tanpa terlukis senyum sedikitpun. Bak hakim yang sedang mengadili nara pidana kelas kakap, aku pun lantang berkata, "CEPAT KATAKAN!! KOK BISA LO MERRIED NGGAK NGUNDANG GUE???? WHAT JU MEAN HAHH??" (menggebrak meja)
Lantaran syok, dengan terbata-bata ia pun menjawab, "GGE.. GUE DI JODOHIN!!!!  LO PIKIR GUE MAO NIKAH MUDA HAHHH?? ENGGAKKK!!!!!!"

O M G HELLOOOWWW.. . D I - J O D O H - I N ???? 😲😲

Di temani segelas juiz alpukat kental Aqilah mulai bercerita,

Seusai farewell party itu aku memutuskan untuk bergegas pulang ke kampung halaman, tanpa mengikuti tour perpisahan. Karna kala itu teman SMPku sudah mendaftarkanku di sebuah bimbel terkenal di kotaku. Bimbel itu begitu ketat dan disiplin sehingga mengharuskanku untuk tiba di kampung halaman 1 hari sebelum bimbel di mulai, tepatnya ketika kalian tour perpisahan. Di masa2 itulah aku bertekat untuk fokus dalam bimbel itu agar persiapan menghadapi sbmptn bisa semaksimal mungkin. Oleh karenanya aku sengaja me-nonaktif-kan semua akun dan smartphoneku sehingga tiada satupun yang bisa menghubungiku kecuali keluarga dan teman kompleks rumahku.
Sampai akhirnya test ujian itu tiba. Sang waktu menjadi saksi bahwa aku telah berjuang pada hari itu, juga jauh sebelum perang perebutan universitas itu di mulai. Pada hari2 penantian pengumuman kelulusan entah mengapa aku serasa kehilangan harapan, padahal sebelumnya aku yakin sekali bahwa suatu proses tak akan pernah menghianati hasilnya. Dan ternyata kekhawatiranku benar, 1 bulan berlalu dan ku dapati namanku TIDAK tercantum dalam daftar peserta yang LOLOS sbmptn. Kau tahu, bagaimana luka bekas sayatan pedang yang masih menganga lalu di taburi garam di atasnya?? Bagaimana rasanya?? Itulah yang aku rasakan saat itu. Kecewa?? Tentu saja. Tapi pada akhirnya aku bisa mengikhlaskan dan yahhh entah apa yang di rencanakan olehNya, ku percaya ada jalan lain yang jauh lebih indah dari itu.Sejak saat itu aku mulai membuka hati dan fikiranku untuk bisa menerima nasehat bijak dari pamanku yang selama ini kontradiksi dengan apa yang aku cita2 kan.
"Apa kau benar2 yakin rela melepaskan lelaki yang teramat luar biasa itu?? Kamu tau kan gimana hukumnya menolak permintaan ikatan suci dari seorang lelaki yang semua mata pun tahu bahwa ia adalah sosok pangeran idaman berhati sufi??"
"Paman tau, semua wanita pasti butuh pada sosok pembimbing sejati yang memuliakannya seharum putri. Dan paman tau persis, dalam sujud panjangmu.. diam2 kamu telah menantinya kan??"
"Lalu tunggu apa lagi?? Mungkin dengan cara itu Tuhan menjagamu."
Perkataan2 pamanku itu selalu berlalu-lalang di benak, menggoyahkan ambisiku, bahkan menyusup hingga ke dalam relung jiwaku. Meraung2kan bahwa memang lelaki itulah sang penyempurna agamaku yang selama ini ku tunggu. Semua gerutu hati itu membuatku merasa semakin bersalah. Bersalah dan BERSALAH.


Akhirnya, tepat pada hari mahabbah, 1 Dzulhijjah 1436 H berlangsunglah akad nikah sederhana yang berselimut haru. Entah apa yang akan terjadi setelahnya, aku mencoba tegar dan menerima semua ini dengan IKHLAS. Harapanku setelah ini hanyalah, semoga aku bisa menjadi sebaik-baik makmum untuk imamku. Imamku yang semoga pula seiring dengan berjalannya waktu aku bisa mencintainya dengan segenap jiwa dan raga. 
Hari2 setelah pernikahan ku jalani dengan penuh kebahagiaan. Senyum lebar dan sapaan ramah selalu ku lukiskan di setiap hariku. Apa karna aku bahagia?? Entahlah, perasaanku masih campur aduk pada saat itu. Bisa jadi itu hanyalah senyum palsu. Tapi bukan maksudku untuk berdusta, hanya saja aku tak ingin suamiku tau bahwa istri yang selama ini ia kasihi belum bisa mengasihinya sepenuh hati.
"Apa kau tau, aku tak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Menggelar sajadahku berdekatan dengan sajadah wanitaku yang selama ini ku perjuangkan di hadapan Tuhan. Sungguh, aku sangat beruntung bisa memilikimu. Dan ku harap kau bersedia menemani perjuanganku menjadi insan kebanggaanNya. Ya, kita akan berjuang bersama. Tumbuh dan berkembang bersama. Dan menjadi lebih baik bersama. Bersediakan??" Kata suamiku lirih.
Aku tak bisa menjawab satu patah kata pun pada waktu itu. Hanya air mata haru yang terus mengucur deras membanjiri parasku. Nafasku sesak, entah mengapa tamparan keras seakan-akan mengenaiku dari sisi kanan dan kiri. Rasa bersalah yang begitu besar membungkamku dalam ketidakberdayaan. "Ya Tuhan.. bagaimana bisa jiwa yang begitu hina ini mampu menjadi yang terbaik untuk hamba kesayanganmu itu? Sementara hatiku ini masih saja belum bisa menerima keberadaannya. Ku mohon, bantu aku memantaskan diri. Bantu aku agar bisa mencintai. Agar aku bisa menjadi sebaik-baik istri.." (isakku dalam hati)
Seakan tau yang terlintas di benakku, ia menghela nafas panjang. Lalu mendekatiku dan merangkul pundakku. Dengan segenap hati ia mengatakan, "Aku mengerti. Tak usah cemas, aku disini untuk membimbingmu!!"
                                   
   ***

2 minggu berlalu. Setelah itu kami memutuskan untuk berhijrah ke kediaman suamiku di Surabaya. Awalnya aku menolak diajak berhijrah, karna dalam benakku sudah pasti aku tidak akan betah berada di rumah mertuaku itu. Dengan suamiku saja aku masih belum merasa nyaman, apa lagi hidup satu atap dengan keluarganya? Semua itu masih terasa asing bagiku. Beberapa kali aku membujuknya agar menunda rencananya untuk berhijrah. Ku bilang, "Kak, lalu bagaimana dengan umi? Dia pasti akan merasa sangat kesepian di rumah ini sendiri. Kita tunda saja ya sampai adik libur semesteran, jadi dia bisa pulang mènemani umi..!" Tapi ia malah bilang, "Tak usah cemas, nanti umi juga ikut menemanimu beberapa hari.. sampai kamu terbiasa! Kakak sudah bilang ke umi, dan beliau setuju."
Ke-esokan harinya tepat pukul 09:00 am, kami bertiga sudah berada di terminal Sukabumi. Suamiku bergegas menuju antrian tiket, sementara aku dan ibuku menunggu di sebuah kantin kecil tak jauh dari loket pembelian karcis. 30 menit berlalu, suamiku berjalan lesu menemui kami berdua.
"Sudah ku duga mi, pasti kehabisan tiket!" Celetusku pada ibu.
Tanpa merespon perkataanku, ibu segera beranjak dari tempat duduknya dan menyambut menantu kesayangannya itu dengan sebotol aqua dingin,
"Gimana nak?? Dapat karcisnya??" Tanyanya dengan raut muka penuh harap.
Dengan mimik wajah kecewa yang tampak jelas di wajahnya, ia pun menjawab, "Maafkan Muhsin umi.. Muhsin gagal memperoleh tiket VIP. Semuanya habis tinggal tersisa mini bus biasa. Apa umi tak keberatan??"
"Tentu aku keberatan kak!! Aku tak terbiasa bepergian dengan busmini dengan jarak sejauh itu!!" Celetusku kesal.
"Aqilah..!! Apa2an kamu! Sudahlah ayo berangkat! Umi sama sekali tak keberatan!!" Kata ibu meyakinkan.
"Tak usah cemas sayang.. aku akan mengapitmu dari sisi kanan dan kiri!!" Jelas suamiku yang membuatku semakin kesal dan muak.
Di sepanjang jalan aku hanya diam dan menikmati irama lagu dari headset yang ku pasang di telinga kanan dan kiriku. Sementara itu kak Muhsin terlihat begitu kewalahan menjagaku di sisi kanannya dan ibuku di sisi kirinya. Sopir bus yang ugal2an dan penumpang yang mayoritas kaum lelaki membuat suasana bus semakin rusuh. Aku terus saja menikmati alunan musikku dan tampak tak mau tau dengan suasana rusuh yang sedang terjadi, tapi sebenarnya aku memerhatikan setiap tingkah laku suamiku itu sedari tadi. Oh alangkah perhatiannya ia. Sosok lelaki yang begitu santun dan penyayang, bukan hanya denganku tapi juga ibu mertuanya.
Sesekali kantuk melanda, dan aku dengan tak sadar menjatuhkan kepalaku ke arah jendela. Dan secepat kilat kak Muhsin segera meraihnya dan menyandarkannya tepat di bahunya. Akupun tersadar, tapi tetap ku biarkan mataku terpejam agar seolah-olah aku memang sedang tertidur. Dalam kepura-puraanku aku mengamatinya. Lalu aku semakin terharu ketika ia memegangi kepalaku dengan begitu lembutnya, agar aku bisa tetap tertidur pulas walau dengan suasana yang begitu panas dan tak nyaman. Sementara tangan kirinya masih menggenggam jemari ibuku yang duduk berjarak 3 jengkal di samping kirinya.
Bahkan ia berusaha melawan kantuknya sendiri dengan sesekali menggerak-gerakkan kepalanya. Padahal aku tau persis ia tak pernah bisa melawan rasa kantuknya, sekalipun dengan secangkir kopi. Tapi entahlah.. bagaimana ia bisa melakukan semua itu dengan begitu tulus.
"Ya rabb.. istri macam apa aku ini?? :'( ku mohon, bantu aku menyayanginya..!!" Gumamku dalam hati.

 ***

Tak terasa, sudah 1 minggu ku jalani rutinitasku di kediaman suamiku. Sendiri, tanpa seorang ibu disisiku. Pasalnya setelah 2 hari menginap ibu memutuskan untuk kembali pulang karna ada suatu hal yang harus di urus. Ya, mau bagaimana lagi.. sekarang aku sudah menjadi milik suamiku, dan memiliki keluarga baru yang juga membutuhkanku.
Ahh tapi tak mengapa, aku sudah merasa cukup nyaman berada disini. Tak ku sangka, ternyata semua anggota keluarga menyambutku dengan penuh kasih sayang. Mereka pun memaklumi segala kekuranganku, bahkan mereka dengan senang hati mengajariku hingga aku benar2 bisa. Aku sampai tak habis fikir, "Apa ini yang dinamakan keluarga bidadara??" Sungguh, aku tak pernah di perlakukan seperti ini sebelumnya.
Pernah suatu ketika ayah mertuaku mengajakku menghadiri pesta pernikahan rekan kerjanya. "Biasanya abi selalu meminta umimu (ibu mertuaku) untuk menemani abi menghadiri suatu acara. Tapi kali ini abi akan mengajakmu sebagai pengganti umi. Sekaligus abi akan memperkenalkanmu kepada semua rekan kerja abi. Kamu mau kan nak??" Bujuk ayah mertuaku.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk kecil sebagai isyarat setuju.
Dalam perjalanan abi mulai bercerita. Ia menceritakan segala kenangan2 indah bersama keluarga, termasuk hal2 konyol yang di lakukan suamiku semasa kecilnya. Ia juga menceritakan tentang kisah cinta suamiku di masa remajanya. "Muhsin itu anak yang sangat pemalu. Apa lagi sama perempuan. Dia pernah suka dengan seorang perempuan yang kebetulan teman sekelasnya waktu SMP. Tapi akhirnya dia sakit hati karna cintanya di tolak =D setelah itu dia tak berani lagi suka dengan perempuan manapun. Sampai akhirnya dia menemukanmu. Jadi kamu ini perempuan kedua yang disukainya setelah cinta monyetnya itu. Dalam artian kamu ini cinta pertamanya nak, sungguh.. dia sangat bahagia bersamamu. Abi tak pernah melihatnya sebahagia itu sebelumnya." Ulasnya panjang lebar.
Aku tertegun. Jiwaku seperti ingin melayang-layang tak karuan, tapi belum sempat terbang tiba2 pertanyaan sadis mendebarkan menghantam hati naluriku.
"Kamu juga mencintainyakan?? Kamu sungguh2 mencintainya, iyakan??" tanyanya meyakinkan.
Aku terdiam beberapa saat. Denyut nadiku berdebar teramat kencang. Rasa bersalah semakin menyiksaku, menghujat lisanku, hingga satu patah katapun tak sanggup keluar dari bibirku.
Karna merasa tak di respon, ia pun bertanya lagi dengan suara yang lebih lantang, "Menantu kesayangan abi, KAMU JUGA SANGAT MENCINTAI PUTRAKU MUHSIN KAN nak????"
Spontan akupun menjawab, "TTE.. TENTU SAJA dong abi.. kalo Aqilah tak cinta, mana mau Aqilah jadi istrinya..!! Whehe"

(Huadduuuhhhhhhh seperti tersambar geledek hati adek bang=_=)

Setelah pesta pernikahan selesai, abi memutuskan untuk segera pulang. Entah apa yang membuatnya terburu-buru, tapi hal itu menguntungkanku sehingga aku bisa segera terbebas dari rasa nervous ku yang tak jelas itu.
Dalam perjalanan pulang abi kembali membuka pembicaraan dengan topik yang agak menegangkan.
"Sebenarnya ada yang mau abi katakan padamu!!" Ucapnya yang spontan memunculkan virus kepo di benakku.
"Hmm.. ada apa bi? Katakan saja..!" Jawabku mencoba tenang.
"Beberapa waktu lalu Muhsin mendapat surat pemberitahuan dari pondok pesantren tempatnya dulu mondok.."
"Pemberitahuan apa bi??" Potongku tak sabar.
"Dia terpilih mjd salah satu ikhwan yang mendapatkan beasiswa ke Irak." Ia menghela nafas, lalu melanjutkan, "Beasiswa itu harus di tempuhnya selama 4 tahun. Tapi bisa pulang 2 tahun sekali kalo mau. Jadi kalo kamu tak keberatan, dia akan berangkat akhir bulan ini. A.. ..."
"Akhir bulan ini bi????" Tanyaku tercengang.
"Iya nak, jadi gimana? Semua keputusan ada di tanganmu. Kalo kamu setuju ya dia berangkat, kalo kamu keberatan ya... dia tetap disini. Kau setuju????"
Ya Tuhan..... @$#^÷@#$:[ Entah mengapa hatiku jadi tak karuan. Di satu sisi aku bahagia, tapi di sisi lain rasa2nya aku tak rela. Ahh apa iya aku tak rela melepasnya?? :/

    ***

Setelah 2 minggu menetap di kediaman mertuaku, kak Muhsin mengantarkanku kembali ke Sukabumi. Bukan karna aku tak betah, tapi karna ada amanah tak terduga yang harus ku emban. Jadi satu hari setelah suamiku mendapat surat pemberitahuan itu, datang pula sebuah selembaran resmi ke rumahku. Selembaran itu berisi pernyataan bahwa aku dinyatakan sebagai siswi berprestasi yang berhak menerima beasiswa penuh di universitas swasta terbaik di Jawa Barat. Entah bagaimana bisa keberuntungan itu berpihak padaku, yang jelas bagiku ini benar2 kado terindah dari Tuhan. Lalu kami pun bersepakat untuk menerima beasiswa kami masing2. Karna ku pikir Irak adalah sebaik2nya tempat untuk para pejuang ilmu, dan bukan sembarang orang bisa memperoleh beasiswa itu. Sementara aku akan menghabiskan penantianku dengan meneruskan perjuanganku yang sempat terhenti, yakni menjadi sarjana berprestasi.

*Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan???*
Jumat, 14 September 2014. Hari itu adalah hari terakhirku bersama suamiku sebelum ia terbang ke Irak. Sebenarnya aku ingin mengajaknya ke suatu tempat terindah di Sukabumi. Aku ingin berbakti padanya dan memberikan kesan terindah di hari terakhir itu. Tapi karna suatu hal, ia harus kembali ke Surabaya pada hari itu juga. Akupun harus mengurungkan niatku dan bergegas mengantarkan suamiku menuju halte bus. Siang itu sang waktu terasa sangat kejam. Ia memutar roda tiap detiknya dengan begitu cepat. Denyut nadiku pun tak kalah hebatnya berdenyut mengalahkan detakan jantung yang sedang terkejut. Entah karna saking terburu-buru takut ketinggalan bus, atau karna rasa kehilangan.. aku tak paham. Sampai pada akhirnya sebuah bus jurusan Sukabumi-Surabaya berhenti tepat di depan kami. DUGG kali ini aku tak bisa membohongi perasaanku, aku mulai merasakan kehilangan. "Kak MUHSIN....!!!" Jeritku dalam hati. Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi lidahku kelu. Jantungku berdebar lebih dahsyat. Kernet bus yang juga sedang memburu waktu berteriak kencang menyuruh suamiku untuk segera menaiki bus. Dan spontan aku menghentikan langkahnya lalu mengecup keningnya dan memeluknya begitu erat, sangat erat. Di sebuah halte di pinggir jalan raya, di hadapan berpuluh2 orang yang sedang berlalu lalang, dan persis di depan para penghuni bus yang seketika terdiam dan tercengang.
Dan kau tau?? 1 bulan setelahnya aku baru tersadar. Apa hal memalukan yang telah ku lakukan di hari itu?? Ya, aku baru tersadar setelah ia membahasnya via telepon bahwa itu adalah hadiah terindahnya yang selama ini ia impikan. Yaitu merasakan dekapan tulus dari sosok bidadari kesayangannya.
(Duhhhhhhhh MALUUU adek bang X_X)

Dengarlah, ini adalah saat2 yg paling mengharukan dalam hidupku. Kala itu...

.

.

.

(Uhuk-uhuk):p

.

.

.

"Tertanggal, 17 September 2014. Sang penyempurna agamaku terbang ke negeri 1001 Malam" ~> (memo)
Memo yang sedari tadi menderingkan handphoneku tak ku lirik sedikitpun. Hari ini adalah hari pertama ospek fakultas. Dan aku sangat kewalahan dibuatnya. Di tambah tingkah laku dari si kakak2 panitia ospek yang membuatku kebakaran jenggot, memaksaku untuk memperbudak diri seharian sehingga tak bisa menyentuh handphone sedikitpun.
Sampai ketika ku dengar adzan asar berkumandang, aku terperanjak dari tempat dudukku dan tertegun beberapa saat. Lalu tanpa permisi aku berlari secepat kilat menuju tenda peristirahatan. Ya, aku baru teringat tentang peristiwa penting itu. Benar2 baru teringat. Aku terus berlari tanpa memedulikan panitia2 bengas yang terus2an berteriak menyuruhku kembali. "Pantas saja sedari tadi terasa ada yang ganjal. Kk Muhsin......!!!! maafkan aku!! " isakku dalam hati.
Setibanya di tenda aku segera membuka handphone. Dan betapa terkejutnya setelah ku dapati 35 panggilan tak terjawab, 27 panggilan dari suamiku dan  sisanya dari ayah mertuaku. Lalu dengan air mata yang terus berlinang aku segera menelponnya kembali. 2 kali, tapi tak ada jawaban. Lalu ku coba lagi, tapi tetap tak ada jawaban. Jiwaku mulai rapuh tak ada harapan. Tapi tiba2 aku di kagetkan dengan dering handphone yang ada di genggamanku. Ternyata sebuah pesan singkat dari suamiku. Lalu ku hela nafas panjang dan mulai membacanya.

Istriku sayang, mungkin saat kau baca pesan ini kakak sudah tidak ada di Indonesia lagi. Maaf jika kakak meneleponmu di waktu yang tak tepat. Dan maaf pula jika kakak terus menerus menderingkan handphonemu sementara mungkin kamu terlalu sibuk shg tak sempat mengangkatnya. Sebenarnya kakak cuma mau pamit dan mendengar suaramu untuk yang terakhir kalinya sebelum pesawat kakak take off. Kamu jaga diri baik2 ya disana. Jangan lupa untuk selalu mengamalkan amalan2 yang telah kakak ajarkan padamu. Jangan lupa pula untuk selalu membentengi diri dari hal2 yang merapuhkan imanmu. Jaga dirimu, pribadimu, juga akhlakmu. Semoga Allah selalu menjagamu sayang..
Kakak juga ingin mengucapkan beribu-ribu terimakasih untuk kebahagiaan yang telah kau berikan selama sebulan ini. Kakak tau, satu bulan adalah waktu yang teramat singkat. Tapi ketahuilah, detik2 bersamamu adalah masa2 terindah yang tak pernah ku lalui sebelumnya. Meskipun sebenarnya dalam hati aku menerka-nerka, "Apa istriku juga merasakan hal yang sama sepertiku?" Tapi aku tak pernah menghiraukan terkaanku itu. Yang ku lakukan hanyalah memohon di setiap pagi dan petang agar istriku ini sama bahagianya sepertiku atau bahkan lebih, dan akupun meminta.. dengan setulus2nya pinta, agar suatu saat nanti aku bisa mendengar kata2 keluar dari bibirmu bahwa kau mencintaiku. Ya.. aku selalu menanti kata2 itu duhai istriku, aku selalu berharap kalimat "احبك ايضا يا زوجى" keluar dari bibirmu tiap kali ku katakan rasaku. Tapi ternyata sampai pada saat pertemuan terakhir kita, aku pun masih belum bisa mendengarnya. Ya, semoga suatu saat nanti.. kau bisa mengatakannya dengan sepenuh hati.
Maafkan kakak karna telah meninggalkanmu. Bersabarlah.. Aku hanya ingin memantaskan diri menjadi sebaik2 pemimpin untuk keluargaku. Agar aku menjadi pantas untukmu, dan engkaupun pantas untukku.
Jadi tak usah cemas, aku akan kembali padamu, ya.. aku akan kembali dengan membawa beribu ilmu. Doakan keberhasilanku ya sayang.. Aku menyayangimu slalu.
Sekian.
                  
                                Dariku, yang selalu berharap sapaan cinta darimu
                                                                        Your beloved husband♡

                                     --Short message service--

Aku tersungkur tak berdaya di bawah tenda kecil yang sedang tak berpenghuni. Dadaku terasa amat sesak, pikirku buntu, dan batinku seperti tersayat2 pedang sadis tak berperasaan. Rasa bersalah dan penyesalan yang begitu besar menghujatku dengan begitu sadisnya. Ia membantai batinku hingga meraung2 kesakitan. Ia menguras air di sudut mataku hingga mengucur berhamburan. Ahh berkali-kali aku merasakan kehilangan, tapi tak pernah sesakit ini=_=
Ya Tuhan......!! Apa ini yang dinamakan cinta?? cinta yang tumbuh setelah aku kehilangannya?? Atau karna egoku yang terlalu muna untuk mengakuinya?? bahwa aku juga mencintainya?? Ohh aku telah mencintainyakah??  :'(
                                                   
 ***

19:25 WIB. Aku bersimpuh di atas sajadahku dengan luka yang tak lagi menganga. Di atas sajadah itu ku bersimpuh memohon ampun dan petunjukNya, meminta belas kasihan atas kerapuhan jiwaku, serta mencurahkan seluruh gumpalan rasa perih yang membantai kalbu.
Di atas sajadah itu, aku mengaku, dengan setulus-tulusnya pengakuan, dan dengan sesadar-sadarnya penyadaran, bahwa aku.. aku telah mencintainya dengan sepenuh hati. Ya, aku telah mencintaimu suamiku, aku telah berhasil mencintaimu.
BAHWA DEMI NAMA TUHANKU, KAULAH CINTA SEJATIKU.

   MAKA, SUDIKAH KAU KEMBALI DAN MEMBAWAKU TERBANG BERSAMAMU?? 


انا فى انتظاركم يا زوخي♡
                                     



-theEnd-


Jepara, 2015
~dfz~

Thursday, June 4, 2015

When 'Comfortable' Makes U Blind

Kau bilang perasaan nyaman adl sumber cahaya dlm hati. Tp sadarkh kamu? Bhw pd akhirny mata hatimu akn buta krn sengatan sinarny. Dn pd saat itu kau hny bisa diam d balik jeruji nyaman itu dn menikmati setiap percikan penyedap rasa d dlmnya. Penyedap rasa yg pada umumnya begitu manis d awal waktu dn pd akhirnya akn mjd sesuatu yg hambar bahkan pahit sekalipun. Tapi kau masih tertunduk dlm diammu. Tiada mampu utk skedar berpindah posisi, apalagi mencari celah utk menerobos keluar. Karna ragamu ingin tp jiwamu tidak.
Perasaan nyaman itu tlh membutakan mata hatimu shg tak dpt kau lihat keindahan sosok2 lain d luar jeruji itu. Sosok2 yg bahkan jauh lebih indah dr sosok yg tlh mmbutakanmu, sosok2 yg pasti akan membuatmu terperangah krn kelihaiannya dlm mmperindah pribadinya, dn sosok2 terbaik yg bisa jadi sedang menunggumu, tapi kau tak mampu melihatnya, ya.. kau tak mampu menoleh ke arahnya. Karna ragamu ingin tapi jiwamu melarang.
Dan kau tak menyadari seberapa bnyk wkt yg tlh kau habiskn hanya utk brsemayam tiada arti d jeruji tua itu. Entahlah sampai kapan, mungkin sampai pd suatu wkt dimana jiwamu tlh berada pd keringkihan. Hingga akhirnya kau baru menyadari bhw perasaan nyaman yg d sematkn oleh sosok yg katamu 'pernah mmbuatmu nyaman' itu, telah memperbudakmu dlm penantian panjang yg menyakitkan.

#Lalu, untuk apa kau memperbudak diri??

〰〰cintailah sewajarnya, bencilah sekedarnya.. karna esok atau lusa kita tak pernah tau kemana hati akan bermuara.

RibuanTahunLalu | ©DFZ

Wednesday, May 6, 2015

How are U 'D R E A M' ??


"Life is a game with obstacles encountered and when there is a chance, we have to seize it."

Life without DREAMS is NOTHING. So, have U had the biggest dream in Ur life?? WHAT IS THAT??
When we are talking about dream, we shall find five basic questions that related with dream. There're :
·         What (What’s your dream?)
·         Where (Where will you find it?)
·         When (When will you reach it?)
·         How (How the way to get it?)
·         Whom (Who is someone you need to accompany you to reach it?)
The five question above are the basic and important question that mustn’t be forgotten.
The first is What. Is this the basic question? Of course. But sometimes many people are confuse to answer this question. Somehow, maybe because they dont have dream or they have many dreams. As like, “Later, I wanna be lecture and then doctor after that president or ambassador, then ....”  So that, they are still gloomy to choose which one is the big dream. That’s way, for you who are still gloomy to choose your dream, start from now to choose which one is the best for you.
The second is where. Where will we get it? The meaning is the best place for you to make your dream become true. The place which you have many reason to enter it. And it is the poin of your reason why there are many amazing place but you choose it become your choice. Of course, it must be related with your condition. For example is when you choose where you will enter the University.
The third is When. When must the dream be in your hand?  We have to have the target how long we have to fight for it, how long we have to have finished our struggle to enter the success gate. Because life is a choice. We shall reach our dream soon when we fight harder than another people. So, if you want to be success soon, make your target from now.
The fourth is How. How the beautiful way so that you are able to reach your dream soon. If we have had target when we must get our dream, so the next step is thinking about HOW. How the way to get it, in the beautiful time is as beautiful as your target. So, you have to use your brain goodly and find which the best way.
And the last is Whom.  Who is someone who you need to accompany you in your struggle? Everyone must need arms to hug them when they tired, mustn’t they? We need support, advise, and spirit from someone who we love. So that we can get up again and keep fighting although we have failed again and again. And who are they? Of course, they
are our parents, our family, our beloved someone, and everyone who we love. So that’s way, look for your best angel in your life!
So, the conclution is if you want your dream become real, dont ever underestimate that five question. Now, ask your self about the five question above. Can you answer all of it fluently? So, let’s reach our dream until the God hug your dream and put it in your hand.


-Dream for God will embrace your dreams-

Thursday, April 2, 2015

-If U're not the one- @>--

If U're not the one then why does my soul feel glad today??
If U're not the one then why does my hand fit yours this way??
If U're not mine then why does Ur heart return my call??
If U're not mine would I've the strength to stand at all

I'll never know what the future brings
But I know U're here with me now
We'll make it through
And I hope U're the one I share my life with

I dont wanna run away but I cant take it, I dont understand
IF I'M NOT MADE FOR U THEN WHY DOES MY HEART TELL ME THAT I'M? ??
 Is there any way that I can stay in Ur arms??

If I dont need U then why am I crying on my bed??
If I dont need U then why does Ur name resound in my head??
If U're not for me then why does this distance maim my life??
If U're not for me then why do I dream of U as my prince??

I dont know why U're so far away
But I know that this much is true
We'll make it through
And I hope U're the one I share my life with
And I wish that U could be the one I die with
And I pray in U're the one I build my home with
I HOPE I LOV U ALL MY LIFE

'Cause I miss Ur body and soul so strong
that it makes my breath away
And I breathe U into my heart and pray for the strength to stand today

'Cause I lov U, wether it's wrong or right
And I though I cant be with U to nite
U know my heart is by Ur side

I dont want to run away but I cant take it, I dont understand
If I'm not for U then why does my heart tell me that I'm? ?
Is there any way that I could stay in Ur arms? ?? =')

-If U're not the one- @>--

Monday, March 23, 2015

SELEPAS KAU PERGI @>--

                                                                               بسم الله الرحم الرحيم - اللهم صلى على محمر و اله  
                                                                         Tertanggal 22 Maret 2015, pukul 23:51
     
     Ayah, izinkan aku untuk sejenak bercerita. Aku ingin bercerita tentang petualanganku selama 4 bulan terakhir, tanpa dirimu. Aku ingin ayah tau segalanya yang telah putri kesayanganmu ini alami selepas kau tiada.
Ayah, saat ini.. ketika jemariku mengetik tombol demi tombol milik si keyboard lusuh ini sebenarnya mataku tengah berkaca-kaca. Hatiku seperti tersambar awan pekat tak berwarna. Apa kau tahu mengapa? Mengapa mataku  berkaca-kaca? Mengapa hatiku meronta-ronta? Ayah.. apa kau tahu itu?? semua ini karenamu ayah. Karna rinduku yang meronta-ronta padamu. Ku ingin kau tahu,  AKU MERINDUMU AYAH..! aku teramat merindumu. 3 bulan lamanya telah ku arungi hidup tanpa dirimu, tanpa jiwamu, tanpa kasih sayangmu, tanpa nasehat bijakmu, tanpa bara dukunganmu, tanpa amarahmu yang kau lontarkan tiap kali aku tersesat, tanpa rangkulan hangatmu ketika aku mulai menyadari sebuah kesalahan, tanpa jabatan tanganmu yang sering kali membangkitkanku ketika jiwaku berada pada keringkihan, tanpa waktu dan segalanya yang telah kau korbankan hanya untuk si gadis nakalmu yang tak tahu diri ini. Aku rindu. Sungguh ku katakan aku merindumu ayah...! Aku rindu saat-saat bersamamu.
     Apa kau tahu, AKU TERAMAT KEHILANGANMU. Aku kehilangan sosok lelaki paling berharga dalam hidupku. Sosok lelaki yang selalu menjadi pelindung dalam setiap nafasku, sosok lelaki yang tiada pernah mengecewakanku, dan sosok, sosok yang... ahh sampai kapanpun tiada yang bisa menggantikanmu. Kini aku tersadar, bahwa tiada yang dapat menandingi kasih sayangmu, tiada perhatian yang lebih tulus dr perhatianmu, dan tiada pengorbanan yang lebih agung dan mulia selain pengorbananmu ayah.
     Sehari, dua hari, tiga hari, dan bahkan sampai detik ini keluarga kecilmu ini masih tertatih karna rindu kami yang tak berujung padamu. Terlebih ketika aku tak sengaja menyaksikan ibu sedang menangis tersedu karna tak terbiasa hidup tanpamu, ketika si adik bungsu berpolah super nakal hingga membuat ibu kewalahan menghadapinya, sementara ku tahu kenakalannya itu hanyalah luapan dari rasa kesalnya karna kehilanganmu di usianya yang masih sangat balita. Ohh.. seandainya engkau ada di tengah-tengah kami ayah.. mungkin keluarga kecil ini tak akan sehampa ini.
     Tapi aku tak akan mengulasnya di sini. Aku tak ingin memamerkan kerapuhanku di hadapanmu ayah.. Aku tak ingin menceritakan hal-hal yang akan membuatmu semakin khawatir karna telah meninggalkan kami. Karna Tuhan yang telah memanggilmu, dan aku yakin sekarang kau sudah bersahaja di surgaNya dan terbebas dari rasa sakit yang kau derita selama hidup di dunia fana ini.  Sekarang dengan jiwa yang tak lagi cengeng putri pertamamu ini akan bercerita, bahwa selepas kau pergi ada berjuta makna yang telah ku peroleh sehingga bisa menjadikanku sekuat baja seperti saat ini. Ketahuilah ayah, putrimu yang tak tahu diri ini bukanlah putri manja yang kau kenal dulu. Aku telah berubah ayah. Aku tak lagi sama seperti dulu. Aku bersyukur karna di balik kepedihan ini Tuhan mengajariku banyak hal.

       Sekarang aku mengerti apa makna dari sebuah KEIKHLASAN. Aku telah merasakan betapa pahitnya tersiksa karna kehilangan orang tersayang. Dan keikhlasanlah obat terampuh dari pahitnya rasa sakit. Ya, hanya satu, IKHLAS. Ikhlas merelakan kepergian orang tersayang, ikhlas menerima kenyataan menyakitkan, ikhlas mencicipi bumbu tak sedap dalam kehidupan, dan tentunya ketika kita telah mengenal tentang hakikat sebuah keikhlasan kita akan terbebas dari segala bentuk kekecewaan dan rasa ketidakpuasan.

        Lalu aku pun memahami betapa nikmatnya BERSYUKUR ketika kecewa. Betapa berharganya waktu yang telah ku buang sia-sia, betapa berharganya kebersamaan yang telah lalai ku jaga, betapa banyaknya kenikmatan-kenikmatan yang membanjiri hidupku tapi tak sempat ku syukuri, dan setelah setitik kenikmatan saja Ia hilangkan dari hidupku, aku baru menyadari betapa berharganya ia. Di situlah Tuhan mengujiku, Ia ingin tahu seberapa kecewanya aku karna kehilanganmu ayah.., seberapa marahnya aku menghadapi takdir pahitNya, dan dapatkah aku bersyukur dan mengambil bermilyaran hikmah di dalamnya??? Ya, sang waktu telah mengajariku tentang BETAPA PENTINGNYA BERSYUKUR sebagai penawar rasa kecewa. Dan dengan setulus-tulusnya hati, ‘Kini aku bersyukur padaMu Tuhan, karna kau telah menguatkanku melalui berbagai ujian yang telah kau berikan.’

Karna pada akhirnya, manusia akan bersyukur tiada henti atas kegagalan/kekecewaan yang pernah ia alami. Kapan? Ketika badai dahsyat melanda, dan ia masih tegap berdiri. ;)

        Kemudian aku semakin terkagum dan tercengang, setelah menyadari betapa dahsyatnya KASIH SAYANG seorang IBU. Betapa hebatnya ia, betapa berharganya ia, dan betapa tulusnya kasih sayangnya. Kini aku merasakan kehebatan kasih sayangnya, jauh berlipat-lipat ganda lebih besar setelah kepergianmu ayah.. ya, mungkin aku baru menyadarinya karna dulu masih ada dirimu sebagai tumpuan keduaku. Kau harus tau ayah.. sungguh, istrimu itu teramat luar biasa. Luar biasa ketangguhannya, luar biasa ketabahannya, dan luar biasa kepandaiannya dalam memimpin keluarga kecil ini tanpa dirimu. Jadi tak usah cemas, karna kau telah menitipkan kedua putrimu ini dengan seorang wanita yang tepat dan sangat luar biasa hebatnya.
     Aku terharu ayah, aku terharu tiap kali aku mengenang jerih payah istrimu itu. Padahal aku tahu bahwa di dalam jiwanya masih ada luka yang menganga karna kepergianmu. Tapi ia tak pernah memperlihatkannya kepada kedua putrinya. Ia menyimpan keluh kesahnya rapat-rapat ayah. Ia tak mau membagi kesakitannya padaku, juga pada putri bungsumu. Ia terlihat sangat tegar di hadapan orang-orang yang berlalu lalang, tapi aku tahu persis bahwa batinnya masih merintih kesakitan. Hmm.. mungkin dengan cara itulah ia mengajari kami untuk menjadi wanita tangguh dan penyabar.
Aku tak tahu ayah, bagaimana diriku harus membalut luka bersama dengan ibu. Yang ku lalukan hanyalah mendekapnya erat-erat dan mengatakan, “Aku menyayangimu ibu! Kesedihanmu adalah kesedihanku pula, maka berbahagialah.. maka kedua putrimu juga akan bahagia.” Hanya kata-kata itu yang kerap kali ku lontarkan pada ibu, karna aku tak sanggup lagi menahan air mataku ketika aku harus melontarkan satu kalimat lagi.. rasa-rasanya lidahku kelu dan bibirku membisu. Maafkan aku ayah.. karna aku masih terlalu cengeng!! Maka sudilah bertamu ke dalam mimpiku, agar kita dapat berbincang-bincang bersama, dan ku mohon ajari aku bagaimana cara untuk menjadi seorang anak yang berbakti.
     Tak hanya itu ayah, sebenarnya banyak sekali pelajaran berharga lainnya yang telah ku petik dari kejadian ini. Hanya saja, ku rasa untuk saat ini cukup sepucuk kisah singkat ini yang ingin ku ceritakan padamu. Karna ku yakin, di alam sana engkau pasti selalu memantauku dan mengetahui segala perubahan yang ada padaku. Walau tak seberapa, walau masih belum bisa menjadi putri kebanggaanmu, tapi ku yakin di alam sana engkau pasti tersenyum melihatku bisa mengusap air mata kepiluan dengan tanganku sendiri. Maafkan aku ayah.. Bersabarlah, aku berjanji bahwa aku akan berjuang untuk ayah, untuk ibu juga untuk putri bungsumu. Setidaknya, aku akan terus berusaha entah dengan cara yang bagaimana agar di hadapan Tuhan engkau tidak malu mengakuiku sebagai putrimu. Dan ku mohon, sampaikan pada Tuhan agar Ia senantiasa membimbing kami pada kemuliaan. Menopang kami agar selalu tegar dan penyabar, hingga kelak kami akan menjadi seperti yang engkau harapkan, dan pada akhirnya kami akan berkumpul menjadi satu keluarga kembali dengan seizin Tuhan. Cukup sekian ayah. 

-Thanks for every moments we spent together :) I'll be Missing U Until the End of Time-


Salam rindu dariku,

Putri kesayanganmu.



_______________________________________________________________________________

Assalamualaikum wr wb.
Hallo visitors :)) Terimakasih sudah bersedia meluangkan waktunya untuk mampir di blog tak penting ini. Semoga  mendapatkan 'sesuatu' yg dapat dijadikan ibroh yes ;)

Sebelumnya saya ucapkan syukron katsir,---Mohon utk siapapun yg membaca postingan tak bermakna ini --baik sahabat Pena Fathimah maupun visitors yg gak sengaja mampir (hehe).. saya meminta keikhlasan Anda untuk membacakan Surah Al-Fathihah untuk ayah saya (Bp. AMINUR RACHMAN bin ASHADI). Semoga beliau selalu dalam naungan kasihNya. Ilahi Amin.

-Jazakumullahu khairon katsiron- 
:))

Saturday, March 14, 2015

Biarkan Sang Intuisi Berbicara

Ketika kamu merindukan seseorang, apa yang akan kamu lakukan??
Bergegas menemuinyakah? mencurahkan perasaan itu padanya? atau bahkan memaksa dia untuk merasakan hal yang sama sepertimu?
Apakah PANTAS ?? seorang perindu mengemis rindu pada yang di rindukannya..?
Lalu bagaimana cara meluapkannya?? tanpa kau harus bersuara, tapi ia bisa mendengar. Tanpa kau harus memaksanya, tapi ia bisa merasakan. Tanpa harus kau jatuhkan imagemu di hadapannya dengan mengatakan "Aku teramat merindukanmu." Tapi dia bisa mengerti.

Tidakkah kamu percaya dengan kekuatan 'Intuisi' dan 'Telepati' ?? Sebenarnya semua pikiran manusia itu terhubung satu sama lain. Dan semua pikiran manusia mempunyai kemampuan untuk menangkap Vibrasi kekuatan pikiran orang lain (INTUISI). Dan pikiran kita juga mempunyai kemampuan untuk menyebarkan kekuatan vibrasi kepada orang lain (TELEPATI). Hanya saja kita tidak cukup pandai untuk memainkannya. Entah karna kurang percaya dan menganggap suara hati hanyalah suatu ilusi belaka, atau karna kita tidak mempedulikannya. Sejatinya kedua kemampuan menakjubkan ini memang benar adanya.

Sebenarnya cukup sederhana, untuk meluapkan perasaan kita kepada seseorang entah siapapun dia. Perasaan rindukah, cintakah, atau benci sekalipun.

Apa kau pernah merindukan seseorang tetapi kamu malu mengatakannya??
itulah problematika anak muda yang teramat populer bukan?
Lalu bagaimana mengatasinya??
Wahai kaum muda yang beradab, tak perlu kau cemas, persoalan ini sebenarnya sangatlah sederhana. Yang perlu kau lakukan hanyalah MENGADUKAN SELURUHNYA PADA TUHAN. Adukan seluruh perasaanmu, luapkan seluruh rindumu, adukan ia dihadapanNya, sebut namanya pada munajat tulusmu, katakan sekencang-kencangnya bahwa "Aku merindukanNya Tuhan...!! sampaikan salamku untuknya..!!" ungkapkan hal itu SETULUS-TULUSNYA. Di hadapan Tuhan, CUKUP DI HADAPAN TUHAN. Dan percaya dan Yakinlah bahwa dia mengetahui dan merasakan apa yang kamu rasakan.

Percaya atau tidak, kekuatan telepati yang telah kau bangun dengan setulus hati itu pasti akan sampai. Dan ia akan menanggapimu melalui kekuatan intuisi yang ia rasakan. Karna kedua kekuatan itu tak mungkin berkhianat dan juga tak mungkin salah alamat =D. Selama kau YAKIN.

Karna sesuatu yang di sampaikan dari hati, pasti akan sampai ke hati.

AYO, MAINKAN INTUISI&TELEPATI DALAM DIRIMU !! ;)

Friday, March 13, 2015

HUJAN DI PENGHUJUNG RINDU || Short Story

                                                                              بسم الله الرحم الرحيم - اللهم صلى على محمر و اله  

Kala itu sinar mentari meyapaku dari kejauhan. Ia mengisyaratkanku bahwa sinarnya telah tiba di penghujung siang. Orang-orang terlihat sempoyongan kesana kemari karna sengatan sinarnya. Sementara aku masihlah terdiam menggigil di sudut kamar flamboyan no 1 RSU Kartini.
“Ahh kalo bukan karna ayah yang minta, udah gue matiin nih AC!!” gumamku dalam hati.
Hening.
“Ayah, besok Fathimah balik Jogja ya..!” kataku memecah keheningan.
“Besok? lusa aja gimana?”
“Aduh nggak bisa ayah, Fathimah banyak tugas yang harus diselesaikan. Pokoknya Fathimah balik besok!  TITIK!!”

***

Mentari sudah terlihat lelah. Sinarnya tak lagi benderang. Dan akhirnya ia pun tak lagi terlihat. Ya, nampaknya ia bersembunyi di balik rembulan sabit nan cantik.
“Yee.. besok aku balik jogja loh.. ehh ini malam terakhir  dong..!” Celetusku pada penghuni Flamboyan n0.1
“Ehh apa sih terakhir, ellu mao kemane dek?? Kayak mau pergi lama aja haha..”
Kami pun tertawa terbahak-bahak.
“Enak ya, kumpul bareng-bareng begini! Bareng-bareng keluarga besar.. yahh sayang, momennya nggak tepat :( cepet sembuh ya ayahh..!”
Malam itu begitu hangat. Hangat sekali, berada di tengah-tengah keluarga besar yang begitu perhatian. Tapi, entah mengapa kehangatan itu perlahan ciptakan luka. Aku tak tahu apa. Hanya saja kala itu aku merasa seperti tersayat-sayat puluhan belati. Seketika itu aku pun menangis tersedu-sedu.  Ya Tuhan... aku tak kuasa menyaksikan ayah terbaring tak berdaya.. sungguh.. aku tak ingin pergi!! :’)
---
“Ayah, mama, Fathimah pamit ya.. ayah cepat sebuh!!”
Kecupan hangat dari kedua malaikatku itu mengiringi kepergianku.

***
OMG HELLOOOOO!!!!!!!!!!! LELAH adek bang-__-
“Baru semester awal aja udah kayak gini, gimana nanti kedepannya???” gerutuku pada teman sebelahku.
Inilah lika-liku kehidupan mahasiswa. Hanya berkecimpun di satu dunia ‘perkuliahan’, tetapi sangat melelahkan.  
“Ciyee yang baru pulang kampung, inget yaa besok DEADLINE Lap. Kimia:p” Jelas Sinta meledek.
“ASTAGAA!!!! GUE KELUPAAN!!! :[ KOPI.. KOPI.. MANA KOPI??”
Dan malam rabu itupun menjadi malam sadis mendebarkan. Bagaimana tidak? DEADLINE laporan yang maha penting itu belum sama sekali ku sentuh. Mau tak mau aku harus merelakan waktu tidurku untukmu LAPORAN KESAYANGAN>.<  Perlahan tapi pasti  dendrit-dendrit dalam otak pun bekerja.  Sementara itu, jemariku dengan lincahnya ciptakan goresan berbentuk segrombolan angka yang nantinya akan menjadi sebuah hasil dari ‘analisis data’. Kemudian, dari analisis data tersebut, terciptalah beberapa lembar pembahasan. Tentu saja, itu memerlukan pemikiran yang panjang. Yaa cukup melelahkan memang. Beberapa kali kantuk melanda, tetapi secepat kilat ku tepis dengan secangkir kopi hangat yang ku buat dengan penuh cinta. Haha:p
Dan pada akhirnya sebuah laporan bertuliskan tangan dengan tebal 15 lembar kertas folio itu siap untuk di kumpulkan.
“Oh My God!! Akhirnya beban mendebarkan itu telah terselesaikan. Ohhh leganyaaa I-O Sekarang tinggal buat skema kerja dan belajar untuk pretest besok-_-“
Ku lirik jam arloji di sebelahku. Dan alangkah terkejutnya ternyata jarum pendek sudah menunjukkan pukul 03.00 pagi. Haha aku tertawa geli, mungkin karna terlalu asiknya menikmati kebersamaanku dengan laporan kesayangan:p sampai-sampai lupa waktu-__- 
Aku tertidur beberapa saat. Sampai pada akhirnya bunyi alarm membangunkanku. Seusai sholat subuh, aku segera membuka buku untuk persiapan pretest nanti. Kata demi kata ku olah dalam memori, sampai aku tak sadar  jam sudah menunjukkan pukul 06:10. Lalu aku pun segera bangkit dari ranjang dan bersiap-siap ke kampus. Tapi tiba-tiba ada yang menyusik fikirku. Lalu dengan sigap ku ambil handphone dan ku lihat agenda hari ini. Dan ternyata..
“Ya Tuhan...!!! aku salah lihat schedule. Hari ini kan praktikum pengolahan limbah, bukan pembuatan baterai  dari buah!! =;( Ahhh bodohh!!!!!!!!”
Dengan sigap ku keluarkan semua isi dalam tas dan mulai membuat skema baru. Waktu yang ku punya hanya 30 menit. Dan aku harus secepat kilat membuat skema  4 judul itu.
“Ahhhh cepatcepatcepatt!!! gue harus nyampe kampus sebelum jam 7-_- mana belajar pretestnya juga salah lagi!! Ahh gak ngurus dahh pretest dapet berapa nanti, yang penting gue bisa masuk lab. Dan ikut praktikum.” Gumamku dalam hati.

Beberapa menit berlalu. Dan akhirnya tepat pukul 07:00 4 lembar skema kerja itu selesai juga. Huhhhh-_- Secepat kilat aku berlari menuju parkiran motor. Lalu ku kendarai dengan kecepatan jauh di atas normal. Hahahh dan dalam waktu 4 menit, aku pun sampai  di parkiran FMIPA. Tanpa fikir panjang aku berlari terbirit-birit menuju Laboratorium Kimia. Sesampainya disana, O’oo :o
“Eitss mau kemana lo?” cegah Andi, teman sekelasku.
“Lahh?? Ya masuklah!! Nah lo ngapain di luar?” tanyaku heran.
Seketika ia pun tertawa dan berkata, “Woyy liat tuh jam di tangan lo!! Gua yang telat 3menit aja nggak boleh masuk, apa lagi ellu!!”
“JADI ??? beneran nih nggak boleh masuk?? Ahh bodo gue mau maksa masuk!!” Jawabku kesal.
“Ehh udah nggak bakalan boleh, mending sekarang kita temuin Pak Rudi minta surat keterangan buat ikut inhall..!” sergah Andi.
“YAELLAHHH-_- malang banget deh ah nasib gue! Dari kemaren cobaan adaa aje :I jadi fix nih, 100ribu melayang ?? CUMA gara2 telat 5 menit?!!”
“Hahh apaan 100ribu?? Bayar inhall bukannya 30ribu doang ya?”
“Ettdahhh nih orang! 30ribu, lu pikir fisika? Ya 100ribu lahh!!”
“ALAMAKK bisa kere mendadak nih gua ..”

Beberapa menit kemudian,  sampailah kami di depan kantor Rektorat.
“Fathimah, liat deh.. panjang banget antriannya!!”
“Ya Tuhan... ya udahlah sabar aja. Ehh tapi bukannya kalo mau bayar inhall itu langsung masuk banknya ya?? Nggak usah ngantri gini kali..!”
“Ehh kata sapa? Sok tau lo! Temen gua pernah kok, dia juga ngantri kayak gini.”
---
Dan akhirnya setelah 30menit mengantri, aku pun berada di antrian awal.
“Ibu, saya mau membayar inhall praktikum kimia dasar. Atas nama Fathimah dari prodi ilmu kimia.”
“Oh maaf dek, Loket ini hanya melayani pembayaran untuk prodi Farmasi. Sedangkan pembayaran prodi kimia ada di sebelah kanan.”
WALLAHIIIIII =;(
“ANDIIII!!! SALAH LOKET!! :I”
“Hahahahaahahahaha GUA JUGA! =;(“

Dengan raga yang sudah mulai lesu, kami berjalan gontai menuju loket sebelah dan berdiri pada antrian paling akhir. 20 menit kami menunggu, dan hasilnya..
“SALAH LOKET AGAIN!!*boxing*”
“Astaga Fathimah.. ternyata bener, bayarnya di banknya langsung! Nggak usah ngantri-ngantri loket HEHE”
“HHMMMMMMMMM :I YAUDAH gue cabut ke kost dulu!! Dehidrasi berat*sick*!!, nitip ini minta tolong bayarin sekalian ke bank ya!!”
“EHH gua anterin ya...?”
“KAGAK USAH*run*”
*INNALLAHAMA’ASHOBIRIN*
Entahlah, apa yang terjadi pada ku hari ini. Berbagai rintangan menghadangku dengan semena-mena. Yaa mungkin ini tak seberapa, namun itu cukup membuatku hampir kehilangan daya. Haha:( Ya Tuhan.. ampuni daku atas kecerobohan picikku, yang karnanya hampir menjadikanku kehilangan kendali. Mohon ingatkanku slalu, bahwa KASIHMU SENANTIASA MENYERTAI ORANG-ORANG YANG SABAR :’)

***

“Iya ayah.. maaf telponnya di matiin. Lagi ada kelas.” (short message service)
Minggu ini jadual kuliah begitu padat merayat. Sampai-sampai untuk sekedar mengangkat telepon dari orang rumah pun tak sempat. Ya, mau gimana lagi? Aku harus tetap konsekuen dengan kewajibanku sebagai mahasiswa.
Terkadang aku merasa lelah.. lelah sekali dengan keadaan seperti ini. Hahh ‘Jauh dari orang tua’ SUDAH BIASA :D. Bukan itu masalahnya. Hanya saja aku merasa belum cukup pintar untuk memanage waktu. Memprioritaskan suatu  kewajiban, tanpa harus mengorbankan  kewajiban penting lainnya. Itu SULIT. Hahahh tapi aku tak mempersoalkannya. Karna  ku rasa semua orang pun pasti pernah mengalami hal serupa, atau bahkan lebih. Yakin saja, suatu saat ketertatihan itu lah yang akan menggiring manusia menuju kesuksesan. 
“NOTHING IS DIFFICULT, AND NOTHING IS NOT EASY. JIKA KAMU *MAU*”
Itulah nasehat ayah yang selalu terngiang-ngiang di benakku. Yaa memang tidak ada yang susah jika kita mau, MAU merubahnya menjadi nyata J.
“Fathimah.....!!! WOYYWOYYWOYYY bengong aja!! Besok kita presentasi, abis gini kita ke perpus ya bahas makalah..”  teriak Sinta menyadarkanku.
“Hahh?? HMMM iya..ya..-_-“
“Kenapa kau ni?”
“Haha gpp. Its oke wae:p”
Seharian itu kami pun berkecimpung di perpus.  Seolah tak mengenal waktu, dengan seriusnya ku jelajahi buku satu per satu.
“Kita harus bergerak cepat! Hari ini harus kelar semuanya..! semangat2J  kataku membangkitkan gairah.
Hari itu sang waktu terlihat sangat kejam. Gerakan jarum pendeknya yang begitu cepat membuatku gusar.  Aku tak faham betul, apa karna mataku yang terlalu rabun sehingga tidak bisa membedakan jarum panjang dan pendek:D ataukah memang aku nya yang linglung :/  however.. what the hell for today, yang penting tugas kelar haha.
Dan tahukah kamu apa yang terjadi setelahnya?
“WOOO Handphone gue kemana??????? BB gue???DASAR CEROBAH!!!” -___-
*Pelajaran saya hari ini, Kelinglungan menghadirkan KEAPESAN-_-* (MEMO)

***

Dering HandPhone berbunyi.
“Wa’alaikumsalam ayah.. hehe ayah, Fathimah mau bilang sesuatu.. tapi jangan dimarahin yaa*peace*”
“Kenapa nak??”
“Hehehe BB Fathimah ilang yah.. udah dicari keliling nggak ketemuL gpp ya yah..”
“HMMM.. itu peringatan dari Tuhan!”
“Maksud ayah?”
“Kan kamu kalo udah pegang BB kayak orang autis!:p”
“AYAAAHHHHHHHHH :I”

---
Beberapa hari berlalu, dan di hari-hari itu pula beberapa kejadian mengesalkan telah ku lalui. Ah tak mengapa, mungkin Tuhan sedang menunjukkanku apa itu bumbu kehidupan.
“Eh Fathimah.. apa kabar kamu? Aku denger kemarin lusa kamu abis nabrak beberapa motor di parkiran? kamu gak kemana-napa kan?”
“Hahaha gpp kok tenang aja.. alhamdulillah semuanya udah clearJ
“Tapi ku perhatiin sekarang kamu lebih suka menyendiri, murung gitu.. kenapa?”
“Ah masa sih?? Itu perasaanmu aja. Yaa memang agak gak enak dikitlah ini hati.. kemarin ayahku masuk rumah sakit lagi. Pengen banget pulang rasanya, tapi.. ya sudahlah mau gimana lagi haha..”
“Masyaallah.. yang sabar ya fathimah, abis acara pesantrenisasi ini kamu izin pulang aja.. insyaallah boleh kokJ

Tentu kamu tahu bagaimana rasanya menjadi aku. Hidup sebagai seorang anak perantauan yang jauh dari belaian lembut sesosok ibu. Bertahan di tengah kesibukan yang menderu tanpa bisikan hangat sosok penyemangat seperti ayah. Jika bukan demi sebongkah asa, jika bukan demi seberkas pelangi di masa depan duhai kawan, mungkin aku takkan bertahan. Lalu rindu itu semakin meronta-ronta manakala ku dengar suara sesosok wanita tersayangku di seberang sana sedang menangis tersedu dan berbisik,
“Kamu pulang ya sayang, ayah rindu sekali padamu. Kamu harus pulang sekarang! Sakit yang ia derita tak seperti biasanya.. mungkin dengan kedatanganmu kesini..berada di sisinya, ia bisa cepat pulih dari sakitnya..!”
Dan bagaimana perasaanmu duhai kawan?  Bagaimana ?? bagaimana bila ibumu berkata demikian..? apakah sakit? Ataukah perih?? Ahh kau pasti bisa merasakannya.
Dengan air mata yang terus mengucur deras akupun berkata, “MAAF MAMA, aku tidak bisa!! Tidak sekarang! Mungkin nanti.. nanti setelah semua urusanku selesai. Katakan pada ayah, bahwa aku akan selalu datang.. jiwaku akan selalu datang melalui munajat panjangku memohon kesembuhan untuknya=’(..“

27, 28, 29 November 2014. Tiga hari sudah aku menjalani kegiatan kampus yang mewajibkanku untuk tinggal di asrama. Di hari-hari itu kamipun dituntut untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang cukup menguras energi dan fikiran. Walaupun begitu aku tak merasa kesal. Ku nikmati semuanya dengan penuh semangat. “Hmm jd anak asrama again... SUDAH BIASA B-)” Kataku membangkitkan semangat. Pagi itu aku mengikuti kajian keasramaan. Akan tetapi di tengah-tengah kajian konsentrasiku mulai buyar. Rupanya sang waktu ingin mengingatkanku pada kisah pilu beberapa hari lalu. Kala itu kakak sepupuku bercerita kepadaku. Katanya,
Malam itu begitu sunyi. Angin begitu besar, begitu pula petir dan hujan yang terus mengguyur membuat suasana semakin mencekam. Sementara itu, rumah teramat sepi. Hanya ada ibu, ayah, dan adik kecilmu yg sudah tertidur pulas. Ibumu meratap penuh kegundahan. Ia menyaksikan ayahmu beberapa kali mengeluh kesakitan. Ia menangis, ayahmu pun menangis. Kaki ayahmu yang begitu kaku sulit sekali untuk di gerakkan. Ya, ia menderita radang sendi sayang..  kata ibumu, “Beberapa kali aku hendak memapahnya untuk ke kamar mandi, tetapi ia selalu terjatuh. Sampai akhirnya tak ada cara lain, ku dudukkan ia di atas kursi berat yang terbuat dari kayu jati, lalu ku dorong ia sekuat tenaga menuju kamar mandi yang terletak di penghujung ruang rumahku. Obat yang diminumnya bereaksi sangat cepat. Sehingga mengharuskanku untuk melakukan hal yang sama berulang-ulang kali. Ya.. memapahnya, mendudukannya di atas kursi, lalu mendorongnya sekuat tenaga dengan kursi berat itu. Ahh sampai-sampai aku berhayal, andai anakku Fathimah ada disini.. mungkin tak seberat ini.” Begitulah cerita ibumu beberapa waktu lalu, tapi jangan cemas.. sekarang keadaannya sudah membaik. Doakan selalu dan tetaplah semangat..! ;)

Mengingatnya, membuatku harus menengadah agar air di sudut mataku tak jatuh berderai. Nafasku sesak, fikirku buntu. Rasa-rasanya rinduku telah berujung, tak tertahan lagi.. dan ingin segera ku luapkan. Tetapi, lagi-lagi kepadatan mengatakan, “Bersabarlah sayang, karna sang waktu TIDAK MENGIZINKAN !!” -_____-

***

Tepat pukul 5 pagi dering handphone berbunyi. Dengan mata yang sembab dan luka yang masih menganga, ku lirik handphone dan ternyata sms dari mama tercinta.
Salam. Fathimah, kamu pulang pagi ini ya nak. Sekarang kemasi barang-barangmu, pagi ini juga kamu harus pulang. Tolong, turuti apa kata mama.
Tanpa fikir panjang, akupun berlari menuju kantor asrama. Di sana ku jelaskan semua persoalan yang ada pada pihak asrama. “Ku mohon, izinkan saya pulang pagi ini dan mengikuti test final examination susulan. Ayah koma, dan saya harus pulang!!” pintaku pilu.
“Maaf dek, kamu hanya memiliki 2 pilihan. Tetap disini, menunggu sampai pelaksanaan test selesai (pukul 15:00) atau kamu tetap pulang pagi ini dan harus *mengulang* 4hari masa kepesantrenan setelah kamu kembali. Karna tidak ada test susulan dek. Tunggulah beberapa jam lagi.”
Aku terduduk tak berdaya. Fikirku buntu. Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan. Tetap pulang, atau menunggu untuk beberapa waktu? Seorang kakak memelukku dengan erat. Ia berusaha menenangkanku, lalu berbisik agar aku segera menelepon mamaku. Terjadilah perbincangan singkat via telepon. Dan seusai itu aku sedikit lega, syukurlah mama mengizinkanku untuk menunggu sampai pelaksanaan test selesai, karna keadaan ayah sudah mulai membaik. Lalu aku pun segera beranjak dari kantor asrama dan bersiap-siap mengikuti kajian keasramaan pukul 08:00 nanti.
2 jam berlalu. Kini aku sudah berada di ruang kelas menyimak materi yang di sampaikan oleh bapak dosen yang terhormat. Namun, beberapa saat kemudian dering handphone berbunyi lagi. Seketika ia membuatku terkejut. Akupun berlari meninggalkan ruang kelas dan segera mengangkatnya. Ku dengar suara seseorang di seberang sana. Parau dan terdengar asing. Bukan mama,  bukan pula ayah. “Fathimah.. k..kamu pulang sekarang ya dek..! s..sekarang!!” Ya Tuhan... air di sudut mataku sudah tak dapat ku tahan lagi. Ia berlinang, terus berlinang. Dengan terisak akupun menjawab, “Iya mbak, aku pulang. Mama mana? Aku mau bicara!!” Ku dengar suara rintihan seseorang di seberang sana semakin kuat, ia mencoba tenang dan berkata, “Mama.. mamamu sedang berbincang-bincang dengan ayahmu. Sudah.. pulanglah sekarang!!”
AYAAAAHHHHHHHHH=’( =’( =’( Sungguh... denyut di nadiku seakan berhenti. Segala fikiran negatif berkecamuk dalam memori. Ahh aku tak tahu pertanda apakah ini?? Ahh tapi ku tahu. Aku bisa merasakan kenyataan pahit itu. Tapi sekuat hati aku menolak. TIDAK!! Itu tak mungkin terjadi=’(
Dengan air mata yang terus bercucuran ku berlari menaiki beberapa tangga menuju kamar asrama. Beberapa kali aku terjatuh. Lalu bangkit lagi. Terjatuh lagi, bangkit lagi, dan terjatuh lagi. Sampai pada akhirnya langkahku terhenti, dan aku tersadar.. aku berada pada lantai teratas asrama. Ya Tuhan... lantai 3 terlewatkanX_X aku pun bergegas menuruni beberapa anak tangga lagi menuju lantai 3. Dug. Langkahku terhenti, tepat di depan pintu kamar 202. Sesaat aku tersenyum kecil, pandanganku tertuju pada 2 burung merpati berwarna putih yang tiba-tiba hinggap di jendela kamar itu. Sayapnya sungguh elok, damai menyentuh kalbu. Duhai merpati.. kemarilah, temani langkahku.

 1 jam berlalu. Kini aku sudah duduk di bangku no. 11 Travel Jogjes tujuan Jogja-Semarang. Sepanjang jalan aku hanya terdiam membisu.  Ku pejamkan mataku agar mereka mengira aku baik-baik saja.  Aku tak mau seorangpun mengganggu. Bahkan, handphone yang sedari tadi berderingpun tidak ku toleh. Padahal sebelumnya sudah ku katakan melalui short message service bahwa aku enggan menerima telepon dari siapapun. Aku meminta mereka agar tetap diam dan tidak mengusikku. Tapi mereka tetap keras kepala. Tak henti-hentinya orang rumah menderingkan handphoneku. Ahh apa mereka tak mengerti perasaanku? AKU TAK INGIN DI GANGGU!! Teriakku dalam hati. Saking kesalnya, akhirnya aku mengirim sebuah short message service.
“SUDAH DIAM SAJA!! SUDAH KU BILANG, AKU TAK INGIN MENGANGKAT TELEPON DARI SIAPAPUN! AKU TAK INGIN MENDENGAR BERITA APAPUN! DIAM SAJA. AKU HANYA SEORANG DIRI DI TRAVEL INI. APA KALIAN MAU AKU PINGSAN KONYOL DI SINI??”
Beberapa menit kemudian pesan itu di balas.
“Tenang Fathimah. Aku tak ingin memberitahu kabar apapun. Aku hanya ingin memberitahumu tempat di mana om akan menjemputmu. Kau ku tunggu di depan Plaza Semarang. Berhentilah di situ.”
Astagfirullah, ternyata aku salah sangka. Maafkan aku, aku hanya tak ingin siapapun mengatakan sesuatu yang akan membuat lukaku semakin menganga. Lalu ku matikan handphone, ku pejamkan mata, dan mencoba tenang. Dalam ketenangan itu memoriku mengembara jauh menyusuri tiap-tiap kenangan usang yang pernah ku rajut bersama keluarga tersayang. Lalu ia berhenti pada satu kenangan di masa lalu. Sebuah kenangan mengharukan yang ku rajut bersama sahabat SMAku. Kala itu pelajaran sedang kosong. Kamipun bercandaria dan bercerita tentang peristiwa-peristiwa konyol yang kerapkali kita alami. Di tengah-tengah keramaian itu salah satu temanku menghentikan keramaian itu. Katanya, “Silent please, dengerin deh.. ini ada kata-kata tentang ayah sumpah ajib banget!! Dengerin perlahan, resapi, dan hayati!”

DI BALIK SIKAP KERAS AYAH
(Unknown)

Ketika anda masih kecil, ibulah yang lebih sering mendongeng untuk anda. Tapi tahukah anda bahwa sepulang bekerja , dengan wajah lelah, yang pertama kali di tanyakan kepada ibu adalah ‘kabar anda’ dan apa yang anda lakukan seharian?
Ketika anda belajar naik sepeda di masa kanak-kanak, ayah akan melepaskan roda bantu di sepeda anda, dan ibu khawatir jika anda terjatuh. Tapi tahukah anda, bahwa itu ayah lakukan karna dia yakin ‘anak kesayangannya pasti bisa melakukannya’?
Ketika anda merengek minta mainan baru, ibu menatap anda dengan iba, tapi ayah berkata dengan tegas, “TidakSekarang!” Tapi tahukah anda, bahwa hal  itu ‘mendidik anda’ menjadi anak yang tidak manja lantaran tidak semua keinginan anda terpenuhi dengan segera?
Ketika anda sakit pilek, ibu merawat dan memberikan perhatian ekstra pada anda, tapi ayah justru membentak, “Sudah di bilang jangan minum es!” Tapi tahukah anda, bahwa sebenarnya ‘ayah sangat mengkhawatirkan anda’?
Ketika anda beranjak remaja dan menuntut untuk dapat izin keluar malam, ayah akan sering membentak dan melarang. Tahukah anda bahwa ayah melakukan itu karna ‘ia sangat ingin menjaga anda’?
Ketika anda mulai berlama-lama menelepon atau menerima telepon dari seseorang, ayah akan berada di sekitar anda dan mendengarkan pembicaraan anda dan teman anda di telepon. Tahukah anda, bahwa rasa ingin tahu ayah akan teman spesial anda, di sebabkan karna ‘ia ingin memastikan bahwa anaknya memiliki teman istimewa yang tepat’?
Ketika anda lulus SMA, ayah akan memaksa anda menjadi dokter atau insinyur. Tapi tahukah anda, bahwa itu semata-mata karna ‘ayah sangat memikirkan masa depan anda’? dan pada kenyataannya ayah akan tetap tersenyum dan mendukung anda saat pilihan anda tidak sesuai keinginannya.
Ketika anda harus berkuliah di luar kota, ayah harus melepasmu. Tahukah anda bahwa pada saat itu ‘badan ayah terasa kaku untuk memelukmu’?
Ketika itu, ayah hanya tersenyum sambil memberi nasihat ini-itu dan menyuruh anda berhati-hati. Padahal ‘ayah ingin sekali menangis seperti ibu dan memeluk anda erat-erat. Yang ayah lakukan hanyalah menghapus sedikit air mata di sudut matanya dan menepuk pundak anda sambil berkata, “Jaga dirimu baik-baik ya..!” Tahukah anda bahwa ayah melakukan hal ini agar ‘anda kuat dan dewasa’?
Ketika anda membutuhkan uang untuk biaya kuliah dan kehidupan sehari-hari anda, ayah adalah orang pertama yang akan mengerutkan kening. Tapi tahukah anda, bahwa ‘ayah akan bekerja keras’ untuk mengirim sejumlah uang yang anda butuhkan, agar anda bisa merasa sama dengan teman-teman anda di kampus?
Ketika anda di wisuda, ayah adalah orang pertama yang akan berdiri dan memberikan tepuk tangan untuk anda.
Ketika anda memilih pasangan hidup, ayah adalah orang pertama yang yakin bahwa anda telah memilih pasangan yang tepat.
Ketika anda duduk di pelaminan, ayah akan tersenyum bahagia, tapi tahukah anda bahwa dalam hati kecilnya ayah merasa ‘kehilangan’ anak kesayangannya?
Setelah itu ayah hanya bisa menunggu kedatangan anda bersama cucu-cucunya yang sesekali menjenguknya. ‘Dengan rambut yang telah dan semakin memutih, dan badan serta lengan yang tak lagi kuat menjagamu dari bahaya,’
*ayah telah menyelesaikan tugasnya.*

 Syair itu masih teringat jelas di memoryku. Kata demi kata yang di rangkainya memang benar-benar menjelaskan sosok ayah dalam kehidupan nyata. Maka tak heran, jika kami yang pada waktu itu masihlah menjadi anak asrama (boarding school) yang hidup jauh dari orang tua sangat tersentuh dan bercucuran airmata mendengar syair itu. Dan pada saat ini.. apa kau tahu duhai kawan? ...
“MBAK??? MBAK JADI TURUN DI MANA????”
“ASTAGA:/ ehmm iya pak, sudah sampai yaa” (Teriakan sopir menyadarkanku dari nostalgilaku-_-)

Aku segera turun dari travel dan berjalan terlontang-lantung menuju pintu masuk Plaza Semarang yang agak jauh dari tempat pemberhentian travel. Sesampainya di plaza aku duduk beberapa saat seraya mengusir letih, sampai akhirnya beberapa keluarga menghampiriku. Aku terheran, mengapa harus mereka yang menjemputku? Kemana paman dan kerabat terdekatku? Mereka adalah saudara jauhku, ya Tuhan... fikiranku semakin kacau pada waktu itu. Intuisiku berteriak semakin kencang mengisyaratkan bahwa apa yang ku takutkan memang benar-benar terjadi. Tetapi lagi-lagi aku menampik fikiran negatif itu dan bersegera masuk ke dalam mobil. Aku sengaja diam dan enggan bertanya sepatah katapun. Mereka pun diam, terlihat berusaha tenang seolah-olah semuanya baik-baik saja. Tapi aku faham betul, mereka hanya berpura-pura. Di sepanjang jalan aku diam membisu dan ku pejamkan mataku agar air mata kepiluan ini tak lagi menetes. Dalam benak sebenarnya aku sangat takut membuka mata dan melihat ke arah jalan. Aku takut jika ketika aku membuka mata RSU Kartini sudah terlewati. Aku sangat ketakutan bila mobil ini terus melaju dan tidak berhenti di RS itu. Saking letihnya menahan gerutu hati yang tak karuan, akhirnya aku tertidur. Beberapa saat kemudian aku terbangun dan betapa terkejutnya ketika ku menoleh ke arah luar kaca mobil, ternyata ....
“Mengapa kau lewati RSU Kartini om? Om sudah lupa jalan ya? Jangan mengigau om!! Ohh atau ayah sudah boleh di bawa pulang? Sudah sembuh?”
Penghuni mobil hanya diam tak merespon. Sementara dalam diamku jiwaku meronta-ronta tak karuan. ENTAHLAH.... .
Beberapa menit kemudian. . . . . . .
AHHH TUHAN... =’( ternyata intuisiku benar. Dengan jiwa yang tak utuh lagi aku berjalan gontai memasuki rumah. Dan ku temui ayah tercinta telah terbujur kaku dengan kain putih yang menutupi sekujur tubuhnya. Mama memelukku. Memeluk dengan eratnya.. kamipun hanyut dalam lautan duka yang mendalam.
Ya, Tuhan telah menjemputnya menuju taman surgawi yang kekal nan abadi. APA KAU TAU KAWAN, BAGAIMANA RASANYA menjadi aku pada waktu itu??? RAPUH!!!! Teramat rapuh. Ketika kau menyaksikan sesosok lelaki yang menjadi pahlawan dalam hidupmu, yang mengorbankan segalanya untukmu, yang bersedih karna kesedihanmu, yang tertawa karna kebahagiaanmu, dan SESOSOK LELAKI YANG TAKKAN PERNAH MENYAKITIMU SEPANJANG HIDUPMU, tentu kau sangat mendambakannya bukan? Bahkan ketika kamu jauh darinya dan tak bisa melihatnya beberapa waktu saja rasa rindu pasti sangat menggelayuti hatimu. Dan kau tahu kawan? Aku, aku sang anak perantauan yang sudah 2 bulan lamanya tak berjumpa dengannya, tak melihat senyuman di wajahnya, tak merasakan hangatnya rangkulan dan peluknya, dan ketika rasa rindu itu sudah berada di ujung keringkihan dan ingin segera ku luapkan, BELIAU SUDAH TIDAK BERNYAWA. Beliau tiada mampu lagi menjawab salamku, membalas pelukku, dan mengatakan “I really miss U too, my beloved daughter!” Beliau tak mampu lagi melakukannya untukku. Ternyata benar, RINDUKU BENAR-BENAR ABADI.  

Beberapa minggu berlalu, aku tersadar. Aku harus bangkit untuk mama, juga untuk adik mungilku. Walau kerinduan abadi itu teramat menyakitkan, namun itulah Takdir Tuhan. Dan hidup harus terus berjalan.
“Kamu harus bangkit nak!! Kamu harus meraih pelangi itu!”
“Tapi ma, apa aku bisa?? Sedangkan ayah telah tiada. Butuh perjuangan besar untuk meraihnya..!”
“KAMU BISA NAK!! Mama akan selalu berjuang untuk itu. Untuk kebahagiaanmu, dan adikmu.. kalian akan menjadi bintang yang bersinar!! Percayalah!!”
Kini dengan jiwa yang tak lagi lemah akan ku arungi rindu ku, bersama mama dan adik kecilku. Akan ku buktikan pada dunia bahwa kami mampu, walau keadaan sudah tak seperti dulu. Aku akan berjuang untukmu mama.. untuk mama yang dengan tangguhnya berusaha menjadi ibu terbaik bagi kami berdua. “Tenang sayang, meskipun mama hanyalah seorang wanita karier yang upahnya tak seberapa, tetapi percayalah rahmat Tuhan pasti akan senantiasa tercurah. Dan kamu harus tetap berpendidikan tinggi walau semua itu tak murah.”
Maka Tuhan, terimakasih, terimakasih atas hujan kelabu yang selama ini kau turunkan di tengah-tengah kami. Aku bersyukur karna dengan begitu aku merasa semakin dekat denganmu, semakin menyayangi kedua orang tuaku, dan semakin bersemangat untuk maju. Aku tak pernah sesali apapun yang telah menjadi kuasaMu. Karna ku selalu percaya, “AKAN ADA PELANGI SETELAH HUJAN.” Yaa aku percaya, suatu saat nanti Engkau akan berikan pelangi itu kepada kami. Karna “Sesungguhnya Setelah kesulitan, terdapat kemudahan.” Maka Tuhan, ku mohon izinkan daku memberikan seberkas pelangi itu untuknya. Untuk mama tercinta, untuk sesosok wanita yang telah menjadikanku sekuat baja, yang telah berusaha mendidikku dengan sebaik-baik didikan, dan selalu menggiringku agar dapat menuju kesempurnaan. Kini kami akan berjuang menjadi insan kamil kesayanganmu Tuhan. Dan kami berharap, agar rindu itu bukanlah rindu abadi.. “Kumpulkanlah kami kembali bersama ayah tercinta di surgamu nanti!! Ilahi Amin.”

‘CAUSE I KNOW, *ALWAYS THERE’S A RAINBOW AFTER THE RAIN* 





_______________________________________________________________________________

Assalamualaikum wr wb.
Hallo visitors :)) Terimakasih sudah bersedia meluangkan waktunya untuk mampir di blog tak penting ini. Semoga  mendapatkan 'sesuatu' yg dapat dijadikan ibroh yes ;)

Sebelumnya saya ucapkan syukron katsir,---Mohon utk siapapun yg membaca postingan tak bermakna ini --baik sahabat Pena Fathimah maupun visitors yg gak sengaja mampir (hehe).. saya meminta keikhlasan Anda untuk membacakan Surah Al-Fathihah untuk ayah saya (Bp. AMINUR RACHMAN bin ASHADI). Semoga beliau selalu dalam naungan kasihNya. Ilahi Amin.

-Jazakumullahu khairon katsiron- 
:))

Categories

Follow me on Facebook

Follow me on Tumblr

Writing is the most fun you can have by yourself. - Terry Pratchett

Powered by Blogger.
Adsense Indonesia

About Author

Hamba Tuhan yang sedang belajar menulis.

Video of Day | Click on the link below to download the video!

Popular Posts