123, Example Street, City 123@abc.com 123-456-7890 lasantha.wam

Writing is the most fun you can have by yourself. - Terry Pratchett

Thursday, July 16, 2015

Andai Saja Dulu.. || short story

"Dasar Culun!!"
Sapaan menyakitkan yang diam2 mulai ku rindukan.


Gerimis hujan di luar jendelaku menghanyutkanku pada kenangan masa lalu. 2 tahun lalu, ketika aku masih sedekat nadi dgmu. Ya, kamu yg selalu menyakitiku tapi tetap saja ku rindu.

Ketika hujan itu, hanya ada kau, aku dan kunang2 yg menemani sang malam. Di taman itu ujarmu, "Udah
tenang aja!! Suatu saat nanti gw bakal kesini lg kok Lun !! Kalo lo udah gk CULUN lagi!! Haha"

Sejak saat itu aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan merubah segala keculunan yg melekat pd diriku. Agar kau kembali? Haha 'tak' sama sekali. Bahkan aku tak pernah berharap kau akan menemuiku setelah perpisahan itu. Hanya saja aku sudah terlalu muak dg segala cibiranmu yg tak henti2nya menguras air di sudut mataku. Terkadang kau bak sahabat berhati malaikat, dn tak jarang pula kau seperti si bangsat yg tak henti2nya menorehkan luka. Dan bodohnya aku mengapa aku bisa jatuh hati pada sosok bangsat sepertimu. Sejak saat perkenalan singkat itu sampai ketika perpisahan malam itu. Dan setelahnya aku memutuskan mengakhiri rasa terpendamku padamu. Ya, setelah malam itu aku mulai memberhentikan cinta di hati, tapi nyatanya tak berhasil dn masih menjalar hingga kini.

Terkadang aku berfikir, "bodohkah aku?" Ketika semua hati berbangga dan mendamba akan kesetiaan cinta yg suci, tapi aku.. aku malah membenci hatiku sendiri karna kesetiaannya yg begitu tulus padamu. Ketika setiap dr mereka berbahagia karna setianya, tapi aku justru terluka karna hal yg sama. Ketika mereka yg disetiai mendamba penyetianya, tapi aku.. aku hanya terdiam sunyi tanpa pendamba, merasakan pahit karna gejolak rindu yg kian menderu.

--

Masih di sudut ruangan yg sama, menatap jendela yg sama, dn dalam suasana gerimis yg tak semakin deras jg tak semakin reda. Rinduku berlinang, semakin deras. Membasahi paras juga jemariku, dan terhenti tepat di jari manis berhias cincin cantik yg sedari tadi mengikuti jemariku menyeka linangan itu.
DUG. Cincin cantik itu?? AHH SHITT!!

"HEYY LUPAKAN MASA LALUMU!!" Teriakku pada diriku.

                                                      ***

"Undangan resmi REUNI SMA YAYASAN SUNDA BANDUNG"

Sehelai kertas undangan berpita merah itu tergeletak di meja kamarku. Tak ku hiraukan, karna aku tak berminat untuk datang.

"Datanglah, aku akan menemanimu!๐Ÿ“ž" Kata suara di seberang sana.
"Tapi..."
"Sudahlah, bersiap2lah.. 2 jam lagi aku jemput!"
"Hufft baiklah..!"

                                                        ***

"Atikah tunggu..!! Tunggu sebentar ada sesuatu yg harus lo tau!!"
"Sorry gue gk punya banyak waktu..!"
Lo inget gk ada sesuatu yg mau gw omongin tp gk jadi waktu malem itu??" Teriaknya yg spontan menghentikan langkahku.
"Hal penting yg gk jd gw utarakan gara2 lo keburu tersinggung ama perkataan gw duluan.. sebenernya gw mau jelasin kenapa gw bisa semalaikat itu dan sebrengsek itu!!" Ia menelan ludah, lalu melanjutkan, "Itu semua karna ... "
"Udah stop! Gk penting jg, gue gk punya banyak waktu..!" Potongku kesal dn mulai melangkah meninggalkan tempat itu.
"Gue Cinta sama Lo!!" Teriaknya yg spontan mendebarkan jantungku.
Aku berhenti, dan berbalik arah menghadap padanya. "SHITTT......!!!!!!" Jawabku gahar.
"Gw gk tau harus dg cara apa lg biar bisa deket sama lo. Kecuekan lo yg cuma bisa gw takhlukin dg cibiran2 pahit gw itulah yg bikin kita sedekat nadi. Iyakan?? Gw cinta lo dr sejak kita sedekat nadi sampe kita sejauh mentari kayak sekarang ini!! Rindu gw meronta2 dn terus meronta2 culun!!" Ia mulai berkaca2, tertunduk lemah dan melanjutkan, "Gw mau lo jadi istri gw!!"

"Atikah, ada apa?" tanya seorang lelaki yg tiba2 muncul di hadapanku.
"Ngg.. bukan apa2 sayang, ohiya kenalin ini teman SMAku Salim." Aku menelan ludah, lalu melanjutkan, "Salim, kenalin ini.. *tt tunangan gue*..!" Tegasku yg spontan membuatnya tercengang. Ku perlihatkan cincin cantikku dan melanjutkan, "Kita akan menikah akhir bulan ini."


Aku tertunduk tak berdaya. Lalu ku berbalik arah dan bergegas meninggalkan tempat itu.

Ohh andai saja dulu.. ...  </3

-###-



Monday, July 6, 2015

Kisah Kesyahidan Manusia Agung (Sy. Ali bin Abi Thalib) yg konon tak banyak telinga mendengar

Did U know??
-bacalah sejenak๐Ÿ˜Š-

Pada bulan Ramadhan tahun 40 Hijriah itu, setiap hari Imam Ali mendatangi anaknya untuk berbuka dan sahur bersama. Terkadang beliau mampir di rumah Imam Hasan, kemudian besoknya mendatangi Imam Husein, di hari ketiga mendatangi putrinya Zainab, dan di hari keempat berbuka dan bersahur di rumah putrinya Ummu Kalsum.
Hari itu adalah Jumat yang cerah, tanggal 19 Ramadhan tahun 40 H. Di rumah Ummu Kaltsum di Kufah, di wilayah yang sekarang disebut sebagai Irak, Ali seperti merangkum sejarah dan perjuangan pahit getir para Nabi sejak Adam hingga Ibrahim di tanah Babilonia.
Pada malam 19 itu, Ummu Kalsum mendapat giliran berbuka bersama ayah tercintanya. Dia menyuguhkan menu berbuka dalam dua nampan, satu berisi roti kering dan lainnya berisi susu masam. Imam Ali menegurnya: “Bukankah kau sudah tahu bahwa aku selalu mengikuti putra pamanku Rasulullah yang tidak pernah makan sajian dalam dua nampan sepanjang hidupnya? Maka mohon angkatlah salah satunya. Barangsiapa yang makan dan minumnya enak di dunia ini maka perhitungannya akan lama kelak di hadapan Allah… .”
Ummu Kulsum menuturkan bahwa malam itu Imam Ali makan sangat sedikit dari roti kering yang kusuguhkan dan memperbanyak ucapan hamdalah dalam tiap suapnya. Selesai makan sedikit, Imam segera bangkit untuk melaksanakan shalat yang lama. Imam terus dalam keadaan rukuk, sujud, bermunajat, berdoa yang khusyu, dan sering-sering keluar rumah untuk melihat langit. Sekali di antaranya dia berujar: “Ya, ya…inilah malam yang dijanjikan kekasihku Rasulullah.”
Di malam itu, Ali sempat tertidur sejenak dan terbangun cepat.
Ummu Kaltsum, putri bungsu Fathimah Azzahra ‘alayhas-salam itu, lantas menuturkan apa yang terjadi di detik-detik yg paling mempesona dari kehidupan ksatria langit, kekasih Allah dan Rasulullah ini sebagai berikut.
Ummu Kaltsum mengatakan: “Aku melihat ayahku shalat hingga tengah malam. Di serangkaian shalatnya, beliau sebentar-sebentar keluar rumah, menengok sejenak ke langit dan kembali lagi untuk shalat. Tangisannya lebih panjang dari biasanya. Rukuknya lebih lama, sujudnya lebih lama. Lantunan munajatnya pun lebih syahdu dari hari-hari biasanya.”
Malam itu, dalam perjalanan menuju Masjid Kufah, Imam Ali beberapa kali menengok ke langit.
Sesampainya di masjid Kufah, dia mendapati Ibnu Muljam tidur telungkup. Dia pun menasehatinya: “Innas sholata tanha ‘anil fahsyai wal munkar. Sesungguhnya shalat mencegah perbuatan fasik dan munkar."
Yang disapa dan dinasehati membatu, tak kunjung beranjak.
Lalu Imam Ali berkata lirih: “Kau sepertinya bertekad mengerjakan sesuatu yg sangat berbahaya, sangat mengerikan. Kalau aku mau, akan kuceritakan padamu apa yang ada di balik bajumu itu...”
Setelah azan subuh tanggal 19 Ramadhan berkumandang, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib kembali keluar masjid, dan menengok ke fajar yang menyingsing. Kemudian dengan suara parau, beliau mengucapkan selamat berpisah kepada fajar:
”Wahai Fajar.. sepanjang Hayat Ali.. Pernahkah engkau muncul dan mendapatkannya tertidur ??
Di mihrabnya, Ali memulai shalatnya seorang diri. Dia seperti sengaja memperpanjang ruku' dan sujudnya. Ibnu Muljam tahu persis, betapa Ali tak pernah mempedulikan apapun saat shalat. Dia kemudian datang mendekat. Dan dari depan, dia mulai mengayunkan pukulan ke kepala Ali, tepat saat Ali ingin bangun dari sujud pertamanya.

Darah lalu mengucur deras. Dahi Ali koyak. Janggutnya meneteskan darah. Tapi tak ada erangan dari mulut Ali. Justru yang keluar dari mulut sucinya adalah pujian pada Allah: “Bismillah, wa billah wa ‘ala millati Rasulillah…
Dengan suara lantang, Imam Ali kemudian berteriak: “Fuztu wa Rabbil Ka’bah…Demi Tuhan Ka’bah, sungguh aku telah berjaya.”
Seiring dengan suara Imam Ali, seluruh penduduk Kufah mendengarnya. warga berhamburan keluar rumah untuk menuju masjid jami Kufah.
Ummu Kalsum yang mendengar suara itu dari rumah sontak menjerit lirih: “Waaah Abataaah, Waaah Aliyaah”
(Oooh Ayahku, Ooooh Aliku).
Yang pertama datang menyaksikan Imam Ali bercucuran darah adalah putra sulungnya, Hasan.
Imam Hasan menuturkan bahwa Imam Ali terus berusaha melengkapi rangkaian shalatnya sambil duduk. Badannya menggigil. Setelah salam, dia mengusapkan tanah sujud ke dahinya yang merekah sembari mengucapkan firman Allah dalam surat Thaha ayat 55: “Dari tanah, kalian Kami ciptakan, dari tanah pula kalian Kami kembalikan dan bangkitkan.” 
Semua kejadian dimalam itu disaksikan oleh seluruh putranya, terutama Hasan yang tak kuasa menahan airmata. Imam Ali meminta Hasan untuk mengimami jamaah shalat. Beliau mengikuti dari belakang dengan gerakan isyarat sambil terus membersihkan cucuran darah dari kening sucinya.
Seusia shalat, Hasan langsung kembali menengok ayahnya, didampingi Husein dan seluruh putra Ali yang lain.
Hasan: Duhai Ayahku, tak kuasa aku melihatmu begini…sungguh ini sangat menghancurkan hatiku. Berat sekali bagiku melihatmu seperti ini.
Imam Ali membuka matanya lalu berkata: Anakku Hasan…jangan bersedih. Sebentar lagi aku tidak akan merasakan kegetiran apapun. Aku telah melihat Kakekmu Muhammad Al-Musthafa, Nenekmu Khadijah Al-Kubra, Ibumu Fathimah Azzahra, dan para penghuni surga berjejer menyambut kedatanganku... Tegarlah dan kuatkan hatimu.
Hasan kemudian meletakkan kepala ayahnya di pangkuannya untuk membersihkan darah yang tak berhenti mengucur. Tak lama berselang, Imam Ali pingsan dalam pelukan Hasan. Jerit tangis membahana ke seluruh arah. Hasan pun langsung menciumi wajah ayahnya demikian pula putra-putra Imam yang lain.
Derasnya airmata Hasan menyadarkan Imam Ali. Imam pun langsung bertanya: “Anakku Hasan, untuk apa tangisan ini? Jangan bersedih atas keadaan ayahmu. Apakah kau bersedih atas keadaanku padahal esok kau akan dibunuh dengan cara diracun dan adikmu Husein akan dibunuh dengan tebasan pedang. Lantas kalian semua akan menyusulku bersama kakek dan ibu kalian.”
Setelah kekacauan terjadi, salah seorang di antara khalayak belakangan masuk membawa Ibnu Muljam. Orang curiga dia lari menjauh dari mesjid dengan pedang berlumur darah sementara seluruh penduduk justru menuju masjid.
Kematian telah mendekati Ali. Luka di dahinya begitu dalam. Tapi musibah itu tak merusak karakter keadilan yang larut dalam darah dan dagingnya. Dia melarang orang membalas pada Ibnu Muljam.
Imam Ali berkata kepada manusia terkutuk itu “Aku tahu engkau akan membunuhku…Pasti…Tapi sesungguhnya aku masih berharap pada Allah adanya perubahan pada diri dan nasibmu.”
Ibnu Muljam tak kuasa mendengar kalimat setinggi itu. Dia menangis dan bertanya “Ya Amirul Mukminin, afa anta tunqidzhu man finnaar (apakah engkau bisa menolong orang yang sudah masuk neraka)?”
Ali menjawab dengan memerintahkan anak-anaknya mencari susu. Dia kehausan dan meminta mereka mempersilahkan Ibnu Muljam meminumnya lebih dahulu, sedangkan Imam meminum sisanya. Dan inilah minuman susu terakhirnya...
Assalamu'alaika ya Amirul Mu'minin ya Abal Hasanain as...



                                  (ุงู„ู„ู‡ู… ุงู„ุนู† ู‚ุชู„ุฉ ุงู…ูŠุฑ ุงู„ู…ุคู…ู†ูŠู† (ุน

Saturday, June 27, 2015

kau TANTANG Aku dengan MAKSIAT, dan kau 'tidak malu'

Wahai keturunan Adam, Kubentuk kamu dalam perut ibumu.
Kulapisi wajahmu agar tidak ternodai dalam rahim dan Kuarahkan wajahmu menghadap punggung ibumu agar bau makanan yang masuk tidak mengganggumu.

Kubuat untukmu sandaran nyaman di kanan dan di kirimu, di kananmu adalah hati dan di kirimu adalah limpa.

Dalam perut ibumu sudah Kuajarakan kau berdiri dan duduk, gerangan siapakah yang mampu melakukan itu selain-Ku?

Ketika waktumu telah tiba, Kuwahyukan malaikat penjaga rahim untuk mengeluarkanmu dengan kelembutan sayapnya sementara kau masih belum punya gigi untuk menggigit atau tangan kuat untuk mendobrak ataupun kaki yang bisa beranjak.

Kemudian Kusalurkan dua urat tipis dalam dada ibumu demi menyuguhkanmu susu murni yang hangat di musim dingin dan sejuk di musim panas.

Lalu Kumasukkan rasa cinta dalam hati kedua orangtuamu sehingga mereka tak sudi kenyang sebelum kau kenyang dan tak bisa tidur sebelum kau tidur.

Maka ketika punggungmu sudah tegak dan dirimu sudah kuat, kau TANTANG Aku dengan MAKSIAT, dan kau tidak malu. Walaupun begitu, doamu tetap Kukabulkan, permintaanmu tetap Kupenuhi, dan kalau kau bertobat tetap Kuampuni.”  (Hadis Qudsi)

Wednesday, June 24, 2015

Imamku, Ajari Aku Mencintaimu || Short Story

                                                              ุณู… ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฑุญู… ุงู„ุฑุญูŠู… - ุงู„ู„ู‡ู… ุตู„ู‰ ุนู„ู‰ ู…ุญู…ุฏ ูˆ ุงู„ู‡   

Say good bye to putih abu2. Yeyy, inilah masa dimana para remaja mulai membentangkan sayapnya untuk bergegas terbang mendewasakan diri. Berhijrah dari pelabuhan ilmu berseragam resmi menuju pelabuhan ilmu nan lebih luas dn tentunya bukan menjadi si culun berdasi abu2 lagi. Yap, *Mahasiswa* satu kata yang terdengar kece dan begitu sensasional di telingaku. Seperti yang teman seperjuangan ku katakan, "Meskipun gue adalah calon mahasiswi jebolan dari pesantren tradisional nan kolot, tapi jangan salah.. gue punya ambisi sekuat baja untuk meraih impian gue menjadi mahasiswi fakultas kedokteran di Universitas Gajah Mada. Hal yang sangat nyleneh untuk seorang gue memang. secara orang2 bilang muka gue ini muka2 ustadzah dan sama sekali nggak cocok jadi ibu dokter."
Kali ini aku tertarik untuk berbagi sedikit kisah dari teman tengil ku ini. Beberapa hari yang lalu kami tak sengaja bertemu di sebuah mall di Jakarta. Spontan pertemuan itu membuatku tercengang lantaran teman karib nan jauh di seberang dan sudah beberapa bulan menghilang itu tiba2 ada di depan mata. Ia menggandeng ibu2 separuh baya yang terlihat sudah sangat akrab dengannya. Tanpa fikir panjang akupun segera menghampiri, berjabatan tangan dan berpelukan beberapa saat layaknya dua sahabat karib yang sudah lama tak jumpa. Lalu ku ulurkan tanganku, berjabat tangan dengan ibu separuh baya yang berdiri persis di sebelah kanannya.
"Perkenalkan saya teman pondoknya Aqilah, ibu.. ibu pasti tantenya ya..??" Sapaku percaya diri.
Seketika mereka berdua saling berpandangan dan tertawa kecil. Aku pun heran, mengapa beliau tak menjawab pertanyaanku, malah meresponnya dengan tawa kecil yang membuatku semakin penasaran..?
"Ehm.. ada yang salah dengan pertanyaan saya??" Tanyaku meyakinkan.
"Ehehe.. Ima, kenalin ini umi Aminah.. IBU MERTUA gue " Jawab Aqilah singkat yang spontan memunculkan tanda tanya sebesar gajah di kepalaku.
"Ahh YANG BENER???????" Tanyaku agak kesal karna merasa di bikin semakin kepo.
"SERIUS!!! SUMPAH!!! WALLAHI !!! BI HAQQI...."
"SSTTT!! IYA2 GUE PERCAYA!! IHHHH ASEEEMMM LO !!!!!!  "
KOK BISA SIH???????? KEDOKTERANNYA DI BAWA KEMANA?????????

      ***

Jadi gini critanya.. ...
KEPO ya ??  


Orang yang paling ambisius di pesantren ุงู„ุจุชุงุช ุงู„ุตุงู„ุญู‡ . Segala macam upaya di lakukan untuk menggapai ambisinya. Banting tulang membolak-balik segerombolan buku dari pagi sampai ketemu pagi lagi. Dan tiap di tanya "Woyy, why do U bother Ur self like that??"
"Pasti jawabannya, "Wes diemo!! semua ini demi UGM kesayangan"
                                                 (HADEHHHH)

Siang itu setelah mengantarkan umi Aminah pulang, kami memutuskan untuk makan siang berdua di sebuah restoran Arab tak jauh dari kediaman beliau. Sesampainya disana ku gelandang ia menuju gazebo paling pojok, lalu ku tatap matanya dengan tatapan tajam dengan ekspresi wajah datar tanpa terlukis senyum sedikitpun. Bak hakim yang sedang mengadili nara pidana kelas kakap, aku pun lantang berkata, "CEPAT KATAKAN!! KOK BISA LO MERRIED NGGAK NGUNDANG GUE???? WHAT JU MEAN HAHH??" (menggebrak meja)
Lantaran syok, dengan terbata-bata ia pun menjawab, "GGE.. GUE DI JODOHIN!!!!  LO PIKIR GUE MAO NIKAH MUDA HAHHH?? ENGGAKKK!!!!!!"

O M G HELLOOOWWW.. . D I - J O D O H - I N ???? ๐Ÿ˜ฒ๐Ÿ˜ฒ

Di temani segelas juiz alpukat kental Aqilah mulai bercerita,

Seusai farewell party itu aku memutuskan untuk bergegas pulang ke kampung halaman, tanpa mengikuti tour perpisahan. Karna kala itu teman SMPku sudah mendaftarkanku di sebuah bimbel terkenal di kotaku. Bimbel itu begitu ketat dan disiplin sehingga mengharuskanku untuk tiba di kampung halaman 1 hari sebelum bimbel di mulai, tepatnya ketika kalian tour perpisahan. Di masa2 itulah aku bertekat untuk fokus dalam bimbel itu agar persiapan menghadapi sbmptn bisa semaksimal mungkin. Oleh karenanya aku sengaja me-nonaktif-kan semua akun dan smartphoneku sehingga tiada satupun yang bisa menghubungiku kecuali keluarga dan teman kompleks rumahku.
Sampai akhirnya test ujian itu tiba. Sang waktu menjadi saksi bahwa aku telah berjuang pada hari itu, juga jauh sebelum perang perebutan universitas itu di mulai. Pada hari2 penantian pengumuman kelulusan entah mengapa aku serasa kehilangan harapan, padahal sebelumnya aku yakin sekali bahwa suatu proses tak akan pernah menghianati hasilnya. Dan ternyata kekhawatiranku benar, 1 bulan berlalu dan ku dapati namanku TIDAK tercantum dalam daftar peserta yang LOLOS sbmptn. Kau tahu, bagaimana luka bekas sayatan pedang yang masih menganga lalu di taburi garam di atasnya?? Bagaimana rasanya?? Itulah yang aku rasakan saat itu. Kecewa?? Tentu saja. Tapi pada akhirnya aku bisa mengikhlaskan dan yahhh entah apa yang di rencanakan olehNya, ku percaya ada jalan lain yang jauh lebih indah dari itu.Sejak saat itu aku mulai membuka hati dan fikiranku untuk bisa menerima nasehat bijak dari pamanku yang selama ini kontradiksi dengan apa yang aku cita2 kan.
"Apa kau benar2 yakin rela melepaskan lelaki yang teramat luar biasa itu?? Kamu tau kan gimana hukumnya menolak permintaan ikatan suci dari seorang lelaki yang semua mata pun tahu bahwa ia adalah sosok pangeran idaman berhati sufi??"
"Paman tau, semua wanita pasti butuh pada sosok pembimbing sejati yang memuliakannya seharum putri. Dan paman tau persis, dalam sujud panjangmu.. diam2 kamu telah menantinya kan??"
"Lalu tunggu apa lagi?? Mungkin dengan cara itu Tuhan menjagamu."
Perkataan2 pamanku itu selalu berlalu-lalang di benak, menggoyahkan ambisiku, bahkan menyusup hingga ke dalam relung jiwaku. Meraung2kan bahwa memang lelaki itulah sang penyempurna agamaku yang selama ini ku tunggu. Semua gerutu hati itu membuatku merasa semakin bersalah. Bersalah dan BERSALAH.


Akhirnya, tepat pada hari mahabbah, 1 Dzulhijjah 1436 H berlangsunglah akad nikah sederhana yang berselimut haru. Entah apa yang akan terjadi setelahnya, aku mencoba tegar dan menerima semua ini dengan IKHLAS. Harapanku setelah ini hanyalah, semoga aku bisa menjadi sebaik-baik makmum untuk imamku. Imamku yang semoga pula seiring dengan berjalannya waktu aku bisa mencintainya dengan segenap jiwa dan raga. 
Hari2 setelah pernikahan ku jalani dengan penuh kebahagiaan. Senyum lebar dan sapaan ramah selalu ku lukiskan di setiap hariku. Apa karna aku bahagia?? Entahlah, perasaanku masih campur aduk pada saat itu. Bisa jadi itu hanyalah senyum palsu. Tapi bukan maksudku untuk berdusta, hanya saja aku tak ingin suamiku tau bahwa istri yang selama ini ia kasihi belum bisa mengasihinya sepenuh hati.
"Apa kau tau, aku tak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Menggelar sajadahku berdekatan dengan sajadah wanitaku yang selama ini ku perjuangkan di hadapan Tuhan. Sungguh, aku sangat beruntung bisa memilikimu. Dan ku harap kau bersedia menemani perjuanganku menjadi insan kebanggaanNya. Ya, kita akan berjuang bersama. Tumbuh dan berkembang bersama. Dan menjadi lebih baik bersama. Bersediakan??" Kata suamiku lirih.
Aku tak bisa menjawab satu patah kata pun pada waktu itu. Hanya air mata haru yang terus mengucur deras membanjiri parasku. Nafasku sesak, entah mengapa tamparan keras seakan-akan mengenaiku dari sisi kanan dan kiri. Rasa bersalah yang begitu besar membungkamku dalam ketidakberdayaan. "Ya Tuhan.. bagaimana bisa jiwa yang begitu hina ini mampu menjadi yang terbaik untuk hamba kesayanganmu itu? Sementara hatiku ini masih saja belum bisa menerima keberadaannya. Ku mohon, bantu aku memantaskan diri. Bantu aku agar bisa mencintai. Agar aku bisa menjadi sebaik-baik istri.." (isakku dalam hati)
Seakan tau yang terlintas di benakku, ia menghela nafas panjang. Lalu mendekatiku dan merangkul pundakku. Dengan segenap hati ia mengatakan, "Aku mengerti. Tak usah cemas, aku disini untuk membimbingmu!!"
                                   
   ***

2 minggu berlalu. Setelah itu kami memutuskan untuk berhijrah ke kediaman suamiku di Surabaya. Awalnya aku menolak diajak berhijrah, karna dalam benakku sudah pasti aku tidak akan betah berada di rumah mertuaku itu. Dengan suamiku saja aku masih belum merasa nyaman, apa lagi hidup satu atap dengan keluarganya? Semua itu masih terasa asing bagiku. Beberapa kali aku membujuknya agar menunda rencananya untuk berhijrah. Ku bilang, "Kak, lalu bagaimana dengan umi? Dia pasti akan merasa sangat kesepian di rumah ini sendiri. Kita tunda saja ya sampai adik libur semesteran, jadi dia bisa pulang mรจnemani umi..!" Tapi ia malah bilang, "Tak usah cemas, nanti umi juga ikut menemanimu beberapa hari.. sampai kamu terbiasa! Kakak sudah bilang ke umi, dan beliau setuju."
Ke-esokan harinya tepat pukul 09:00 am, kami bertiga sudah berada di terminal Sukabumi. Suamiku bergegas menuju antrian tiket, sementara aku dan ibuku menunggu di sebuah kantin kecil tak jauh dari loket pembelian karcis. 30 menit berlalu, suamiku berjalan lesu menemui kami berdua.
"Sudah ku duga mi, pasti kehabisan tiket!" Celetusku pada ibu.
Tanpa merespon perkataanku, ibu segera beranjak dari tempat duduknya dan menyambut menantu kesayangannya itu dengan sebotol aqua dingin,
"Gimana nak?? Dapat karcisnya??" Tanyanya dengan raut muka penuh harap.
Dengan mimik wajah kecewa yang tampak jelas di wajahnya, ia pun menjawab, "Maafkan Muhsin umi.. Muhsin gagal memperoleh tiket VIP. Semuanya habis tinggal tersisa mini bus biasa. Apa umi tak keberatan??"
"Tentu aku keberatan kak!! Aku tak terbiasa bepergian dengan busmini dengan jarak sejauh itu!!" Celetusku kesal.
"Aqilah..!! Apa2an kamu! Sudahlah ayo berangkat! Umi sama sekali tak keberatan!!" Kata ibu meyakinkan.
"Tak usah cemas sayang.. aku akan mengapitmu dari sisi kanan dan kiri!!" Jelas suamiku yang membuatku semakin kesal dan muak.
Di sepanjang jalan aku hanya diam dan menikmati irama lagu dari headset yang ku pasang di telinga kanan dan kiriku. Sementara itu kak Muhsin terlihat begitu kewalahan menjagaku di sisi kanannya dan ibuku di sisi kirinya. Sopir bus yang ugal2an dan penumpang yang mayoritas kaum lelaki membuat suasana bus semakin rusuh. Aku terus saja menikmati alunan musikku dan tampak tak mau tau dengan suasana rusuh yang sedang terjadi, tapi sebenarnya aku memerhatikan setiap tingkah laku suamiku itu sedari tadi. Oh alangkah perhatiannya ia. Sosok lelaki yang begitu santun dan penyayang, bukan hanya denganku tapi juga ibu mertuanya.
Sesekali kantuk melanda, dan aku dengan tak sadar menjatuhkan kepalaku ke arah jendela. Dan secepat kilat kak Muhsin segera meraihnya dan menyandarkannya tepat di bahunya. Akupun tersadar, tapi tetap ku biarkan mataku terpejam agar seolah-olah aku memang sedang tertidur. Dalam kepura-puraanku aku mengamatinya. Lalu aku semakin terharu ketika ia memegangi kepalaku dengan begitu lembutnya, agar aku bisa tetap tertidur pulas walau dengan suasana yang begitu panas dan tak nyaman. Sementara tangan kirinya masih menggenggam jemari ibuku yang duduk berjarak 3 jengkal di samping kirinya.
Bahkan ia berusaha melawan kantuknya sendiri dengan sesekali menggerak-gerakkan kepalanya. Padahal aku tau persis ia tak pernah bisa melawan rasa kantuknya, sekalipun dengan secangkir kopi. Tapi entahlah.. bagaimana ia bisa melakukan semua itu dengan begitu tulus.
"Ya rabb.. istri macam apa aku ini?? :'( ku mohon, bantu aku menyayanginya..!!" Gumamku dalam hati.

 ***

Tak terasa, sudah 1 minggu ku jalani rutinitasku di kediaman suamiku. Sendiri, tanpa seorang ibu disisiku. Pasalnya setelah 2 hari menginap ibu memutuskan untuk kembali pulang karna ada suatu hal yang harus di urus. Ya, mau bagaimana lagi.. sekarang aku sudah menjadi milik suamiku, dan memiliki keluarga baru yang juga membutuhkanku.
Ahh tapi tak mengapa, aku sudah merasa cukup nyaman berada disini. Tak ku sangka, ternyata semua anggota keluarga menyambutku dengan penuh kasih sayang. Mereka pun memaklumi segala kekuranganku, bahkan mereka dengan senang hati mengajariku hingga aku benar2 bisa. Aku sampai tak habis fikir, "Apa ini yang dinamakan keluarga bidadara??" Sungguh, aku tak pernah di perlakukan seperti ini sebelumnya.
Pernah suatu ketika ayah mertuaku mengajakku menghadiri pesta pernikahan rekan kerjanya. "Biasanya abi selalu meminta umimu (ibu mertuaku) untuk menemani abi menghadiri suatu acara. Tapi kali ini abi akan mengajakmu sebagai pengganti umi. Sekaligus abi akan memperkenalkanmu kepada semua rekan kerja abi. Kamu mau kan nak??" Bujuk ayah mertuaku.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk kecil sebagai isyarat setuju.
Dalam perjalanan abi mulai bercerita. Ia menceritakan segala kenangan2 indah bersama keluarga, termasuk hal2 konyol yang di lakukan suamiku semasa kecilnya. Ia juga menceritakan tentang kisah cinta suamiku di masa remajanya. "Muhsin itu anak yang sangat pemalu. Apa lagi sama perempuan. Dia pernah suka dengan seorang perempuan yang kebetulan teman sekelasnya waktu SMP. Tapi akhirnya dia sakit hati karna cintanya di tolak =D setelah itu dia tak berani lagi suka dengan perempuan manapun. Sampai akhirnya dia menemukanmu. Jadi kamu ini perempuan kedua yang disukainya setelah cinta monyetnya itu. Dalam artian kamu ini cinta pertamanya nak, sungguh.. dia sangat bahagia bersamamu. Abi tak pernah melihatnya sebahagia itu sebelumnya." Ulasnya panjang lebar.
Aku tertegun. Jiwaku seperti ingin melayang-layang tak karuan, tapi belum sempat terbang tiba2 pertanyaan sadis mendebarkan menghantam hati naluriku.
"Kamu juga mencintainyakan?? Kamu sungguh2 mencintainya, iyakan??" tanyanya meyakinkan.
Aku terdiam beberapa saat. Denyut nadiku berdebar teramat kencang. Rasa bersalah semakin menyiksaku, menghujat lisanku, hingga satu patah katapun tak sanggup keluar dari bibirku.
Karna merasa tak di respon, ia pun bertanya lagi dengan suara yang lebih lantang, "Menantu kesayangan abi, KAMU JUGA SANGAT MENCINTAI PUTRAKU MUHSIN KAN nak????"
Spontan akupun menjawab, "TTE.. TENTU SAJA dong abi.. kalo Aqilah tak cinta, mana mau Aqilah jadi istrinya..!! Whehe"

(Huadduuuhhhhhhh seperti tersambar geledek hati adek bang=_=)

Setelah pesta pernikahan selesai, abi memutuskan untuk segera pulang. Entah apa yang membuatnya terburu-buru, tapi hal itu menguntungkanku sehingga aku bisa segera terbebas dari rasa nervous ku yang tak jelas itu.
Dalam perjalanan pulang abi kembali membuka pembicaraan dengan topik yang agak menegangkan.
"Sebenarnya ada yang mau abi katakan padamu!!" Ucapnya yang spontan memunculkan virus kepo di benakku.
"Hmm.. ada apa bi? Katakan saja..!" Jawabku mencoba tenang.
"Beberapa waktu lalu Muhsin mendapat surat pemberitahuan dari pondok pesantren tempatnya dulu mondok.."
"Pemberitahuan apa bi??" Potongku tak sabar.
"Dia terpilih mjd salah satu ikhwan yang mendapatkan beasiswa ke Irak." Ia menghela nafas, lalu melanjutkan, "Beasiswa itu harus di tempuhnya selama 4 tahun. Tapi bisa pulang 2 tahun sekali kalo mau. Jadi kalo kamu tak keberatan, dia akan berangkat akhir bulan ini. A.. ..."
"Akhir bulan ini bi????" Tanyaku tercengang.
"Iya nak, jadi gimana? Semua keputusan ada di tanganmu. Kalo kamu setuju ya dia berangkat, kalo kamu keberatan ya... dia tetap disini. Kau setuju????"
Ya Tuhan..... @$#^÷@#$:[ Entah mengapa hatiku jadi tak karuan. Di satu sisi aku bahagia, tapi di sisi lain rasa2nya aku tak rela. Ahh apa iya aku tak rela melepasnya?? :/

    ***

Setelah 2 minggu menetap di kediaman mertuaku, kak Muhsin mengantarkanku kembali ke Sukabumi. Bukan karna aku tak betah, tapi karna ada amanah tak terduga yang harus ku emban. Jadi satu hari setelah suamiku mendapat surat pemberitahuan itu, datang pula sebuah selembaran resmi ke rumahku. Selembaran itu berisi pernyataan bahwa aku dinyatakan sebagai siswi berprestasi yang berhak menerima beasiswa penuh di universitas swasta terbaik di Jawa Barat. Entah bagaimana bisa keberuntungan itu berpihak padaku, yang jelas bagiku ini benar2 kado terindah dari Tuhan. Lalu kami pun bersepakat untuk menerima beasiswa kami masing2. Karna ku pikir Irak adalah sebaik2nya tempat untuk para pejuang ilmu, dan bukan sembarang orang bisa memperoleh beasiswa itu. Sementara aku akan menghabiskan penantianku dengan meneruskan perjuanganku yang sempat terhenti, yakni menjadi sarjana berprestasi.

*Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan???*
Jumat, 14 September 2014. Hari itu adalah hari terakhirku bersama suamiku sebelum ia terbang ke Irak. Sebenarnya aku ingin mengajaknya ke suatu tempat terindah di Sukabumi. Aku ingin berbakti padanya dan memberikan kesan terindah di hari terakhir itu. Tapi karna suatu hal, ia harus kembali ke Surabaya pada hari itu juga. Akupun harus mengurungkan niatku dan bergegas mengantarkan suamiku menuju halte bus. Siang itu sang waktu terasa sangat kejam. Ia memutar roda tiap detiknya dengan begitu cepat. Denyut nadiku pun tak kalah hebatnya berdenyut mengalahkan detakan jantung yang sedang terkejut. Entah karna saking terburu-buru takut ketinggalan bus, atau karna rasa kehilangan.. aku tak paham. Sampai pada akhirnya sebuah bus jurusan Sukabumi-Surabaya berhenti tepat di depan kami. DUGG kali ini aku tak bisa membohongi perasaanku, aku mulai merasakan kehilangan. "Kak MUHSIN....!!!" Jeritku dalam hati. Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi lidahku kelu. Jantungku berdebar lebih dahsyat. Kernet bus yang juga sedang memburu waktu berteriak kencang menyuruh suamiku untuk segera menaiki bus. Dan spontan aku menghentikan langkahnya lalu mengecup keningnya dan memeluknya begitu erat, sangat erat. Di sebuah halte di pinggir jalan raya, di hadapan berpuluh2 orang yang sedang berlalu lalang, dan persis di depan para penghuni bus yang seketika terdiam dan tercengang.
Dan kau tau?? 1 bulan setelahnya aku baru tersadar. Apa hal memalukan yang telah ku lakukan di hari itu?? Ya, aku baru tersadar setelah ia membahasnya via telepon bahwa itu adalah hadiah terindahnya yang selama ini ia impikan. Yaitu merasakan dekapan tulus dari sosok bidadari kesayangannya.
(Duhhhhhhhh MALUUU adek bang X_X)

Dengarlah, ini adalah saat2 yg paling mengharukan dalam hidupku. Kala itu...

.

.

.

(Uhuk-uhuk):p

.

.

.

"Tertanggal, 17 September 2014. Sang penyempurna agamaku terbang ke negeri 1001 Malam" ~> (memo)
Memo yang sedari tadi menderingkan handphoneku tak ku lirik sedikitpun. Hari ini adalah hari pertama ospek fakultas. Dan aku sangat kewalahan dibuatnya. Di tambah tingkah laku dari si kakak2 panitia ospek yang membuatku kebakaran jenggot, memaksaku untuk memperbudak diri seharian sehingga tak bisa menyentuh handphone sedikitpun.
Sampai ketika ku dengar adzan asar berkumandang, aku terperanjak dari tempat dudukku dan tertegun beberapa saat. Lalu tanpa permisi aku berlari secepat kilat menuju tenda peristirahatan. Ya, aku baru teringat tentang peristiwa penting itu. Benar2 baru teringat. Aku terus berlari tanpa memedulikan panitia2 bengas yang terus2an berteriak menyuruhku kembali. "Pantas saja sedari tadi terasa ada yang ganjal. Kk Muhsin......!!!! maafkan aku!! " isakku dalam hati.
Setibanya di tenda aku segera membuka handphone. Dan betapa terkejutnya setelah ku dapati 35 panggilan tak terjawab, 27 panggilan dari suamiku dan  sisanya dari ayah mertuaku. Lalu dengan air mata yang terus berlinang aku segera menelponnya kembali. 2 kali, tapi tak ada jawaban. Lalu ku coba lagi, tapi tetap tak ada jawaban. Jiwaku mulai rapuh tak ada harapan. Tapi tiba2 aku di kagetkan dengan dering handphone yang ada di genggamanku. Ternyata sebuah pesan singkat dari suamiku. Lalu ku hela nafas panjang dan mulai membacanya.

Istriku sayang, mungkin saat kau baca pesan ini kakak sudah tidak ada di Indonesia lagi. Maaf jika kakak meneleponmu di waktu yang tak tepat. Dan maaf pula jika kakak terus menerus menderingkan handphonemu sementara mungkin kamu terlalu sibuk shg tak sempat mengangkatnya. Sebenarnya kakak cuma mau pamit dan mendengar suaramu untuk yang terakhir kalinya sebelum pesawat kakak take off. Kamu jaga diri baik2 ya disana. Jangan lupa untuk selalu mengamalkan amalan2 yang telah kakak ajarkan padamu. Jangan lupa pula untuk selalu membentengi diri dari hal2 yang merapuhkan imanmu. Jaga dirimu, pribadimu, juga akhlakmu. Semoga Allah selalu menjagamu sayang..
Kakak juga ingin mengucapkan beribu-ribu terimakasih untuk kebahagiaan yang telah kau berikan selama sebulan ini. Kakak tau, satu bulan adalah waktu yang teramat singkat. Tapi ketahuilah, detik2 bersamamu adalah masa2 terindah yang tak pernah ku lalui sebelumnya. Meskipun sebenarnya dalam hati aku menerka-nerka, "Apa istriku juga merasakan hal yang sama sepertiku?" Tapi aku tak pernah menghiraukan terkaanku itu. Yang ku lakukan hanyalah memohon di setiap pagi dan petang agar istriku ini sama bahagianya sepertiku atau bahkan lebih, dan akupun meminta.. dengan setulus2nya pinta, agar suatu saat nanti aku bisa mendengar kata2 keluar dari bibirmu bahwa kau mencintaiku. Ya.. aku selalu menanti kata2 itu duhai istriku, aku selalu berharap kalimat "ุงุญุจูƒ ุงูŠุถุง ูŠุง ุฒูˆุฌู‰" keluar dari bibirmu tiap kali ku katakan rasaku. Tapi ternyata sampai pada saat pertemuan terakhir kita, aku pun masih belum bisa mendengarnya. Ya, semoga suatu saat nanti.. kau bisa mengatakannya dengan sepenuh hati.
Maafkan kakak karna telah meninggalkanmu. Bersabarlah.. Aku hanya ingin memantaskan diri menjadi sebaik2 pemimpin untuk keluargaku. Agar aku menjadi pantas untukmu, dan engkaupun pantas untukku.
Jadi tak usah cemas, aku akan kembali padamu, ya.. aku akan kembali dengan membawa beribu ilmu. Doakan keberhasilanku ya sayang.. Aku menyayangimu slalu.
Sekian.
                  
                                Dariku, yang selalu berharap sapaan cinta darimu
                                                                        Your beloved husband♡

                                     --Short message service--

Aku tersungkur tak berdaya di bawah tenda kecil yang sedang tak berpenghuni. Dadaku terasa amat sesak, pikirku buntu, dan batinku seperti tersayat2 pedang sadis tak berperasaan. Rasa bersalah dan penyesalan yang begitu besar menghujatku dengan begitu sadisnya. Ia membantai batinku hingga meraung2 kesakitan. Ia menguras air di sudut mataku hingga mengucur berhamburan. Ahh berkali-kali aku merasakan kehilangan, tapi tak pernah sesakit ini=_=
Ya Tuhan......!! Apa ini yang dinamakan cinta?? cinta yang tumbuh setelah aku kehilangannya?? Atau karna egoku yang terlalu muna untuk mengakuinya?? bahwa aku juga mencintainya?? Ohh aku telah mencintainyakah??  :'(
                                                   
 ***

19:25 WIB. Aku bersimpuh di atas sajadahku dengan luka yang tak lagi menganga. Di atas sajadah itu ku bersimpuh memohon ampun dan petunjukNya, meminta belas kasihan atas kerapuhan jiwaku, serta mencurahkan seluruh gumpalan rasa perih yang membantai kalbu.
Di atas sajadah itu, aku mengaku, dengan setulus-tulusnya pengakuan, dan dengan sesadar-sadarnya penyadaran, bahwa aku.. aku telah mencintainya dengan sepenuh hati. Ya, aku telah mencintaimu suamiku, aku telah berhasil mencintaimu.
BAHWA DEMI NAMA TUHANKU, KAULAH CINTA SEJATIKU.

   MAKA, SUDIKAH KAU KEMBALI DAN MEMBAWAKU TERBANG BERSAMAMU?? 


ุงู†ุง ูู‰ ุงู†ุชุธุงุฑูƒู… ูŠุง ุฒูˆุฎูŠ♡
                                     



-theEnd-


Jepara, 2015
~dfz~

Thursday, June 4, 2015

When 'Comfortable' Makes U Blind

Kau bilang perasaan nyaman adl sumber cahaya dlm hati. Tp sadarkh kamu? Bhw pd akhirny mata hatimu akn buta krn sengatan sinarny. Dn pd saat itu kau hny bisa diam d balik jeruji nyaman itu dn menikmati setiap percikan penyedap rasa d dlmnya. Penyedap rasa yg pada umumnya begitu manis d awal waktu dn pd akhirnya akn mjd sesuatu yg hambar bahkan pahit sekalipun. Tapi kau masih tertunduk dlm diammu. Tiada mampu utk skedar berpindah posisi, apalagi mencari celah utk menerobos keluar. Karna ragamu ingin tp jiwamu tidak.
Perasaan nyaman itu tlh membutakan mata hatimu shg tak dpt kau lihat keindahan sosok2 lain d luar jeruji itu. Sosok2 yg bahkan jauh lebih indah dr sosok yg tlh mmbutakanmu, sosok2 yg pasti akan membuatmu terperangah krn kelihaiannya dlm mmperindah pribadinya, dn sosok2 terbaik yg bisa jadi sedang menunggumu, tapi kau tak mampu melihatnya, ya.. kau tak mampu menoleh ke arahnya. Karna ragamu ingin tapi jiwamu melarang.
Dan kau tak menyadari seberapa bnyk wkt yg tlh kau habiskn hanya utk brsemayam tiada arti d jeruji tua itu. Entahlah sampai kapan, mungkin sampai pd suatu wkt dimana jiwamu tlh berada pd keringkihan. Hingga akhirnya kau baru menyadari bhw perasaan nyaman yg d sematkn oleh sosok yg katamu 'pernah mmbuatmu nyaman' itu, telah memperbudakmu dlm penantian panjang yg menyakitkan.

#Lalu, untuk apa kau memperbudak diri??

〰〰cintailah sewajarnya, bencilah sekedarnya.. karna esok atau lusa kita tak pernah tau kemana hati akan bermuara.

RibuanTahunLalu | ©DFZ

Wednesday, May 6, 2015

How are U 'D R E A M' ??


"Life is a game with obstacles encountered and when there is a chance, we have to seize it."

Life without DREAMS is NOTHING. So, have U had the biggest dream in Ur life?? WHAT IS THAT??
When we are talking about dream, we shall find five basic questions that related with dream. There're :
·         What (What’s your dream?)
·         Where (Where will you find it?)
·         When (When will you reach it?)
·         How (How the way to get it?)
·         Whom (Who is someone you need to accompany you to reach it?)
The five question above are the basic and important question that mustn’t be forgotten.
The first is What. Is this the basic question? Of course. But sometimes many people are confuse to answer this question. Somehow, maybe because they dont have dream or they have many dreams. As like, “Later, I wanna be lecture and then doctor after that president or ambassador, then ....”  So that, they are still gloomy to choose which one is the big dream. That’s way, for you who are still gloomy to choose your dream, start from now to choose which one is the best for you.
The second is where. Where will we get it? The meaning is the best place for you to make your dream become true. The place which you have many reason to enter it. And it is the poin of your reason why there are many amazing place but you choose it become your choice. Of course, it must be related with your condition. For example is when you choose where you will enter the University.
The third is When. When must the dream be in your hand?  We have to have the target how long we have to fight for it, how long we have to have finished our struggle to enter the success gate. Because life is a choice. We shall reach our dream soon when we fight harder than another people. So, if you want to be success soon, make your target from now.
The fourth is How. How the beautiful way so that you are able to reach your dream soon. If we have had target when we must get our dream, so the next step is thinking about HOW. How the way to get it, in the beautiful time is as beautiful as your target. So, you have to use your brain goodly and find which the best way.
And the last is Whom.  Who is someone who you need to accompany you in your struggle? Everyone must need arms to hug them when they tired, mustn’t they? We need support, advise, and spirit from someone who we love. So that we can get up again and keep fighting although we have failed again and again. And who are they? Of course, they
are our parents, our family, our beloved someone, and everyone who we love. So that’s way, look for your best angel in your life!
So, the conclution is if you want your dream become real, dont ever underestimate that five question. Now, ask your self about the five question above. Can you answer all of it fluently? So, let’s reach our dream until the God hug your dream and put it in your hand.


-Dream for God will embrace your dreams-

Thursday, April 2, 2015

-If U're not the one- @>--

If U're not the one then why does my soul feel glad today??
If U're not the one then why does my hand fit yours this way??
If U're not mine then why does Ur heart return my call??
If U're not mine would I've the strength to stand at all

I'll never know what the future brings
But I know U're here with me now
We'll make it through
And I hope U're the one I share my life with

I dont wanna run away but I cant take it, I dont understand
IF I'M NOT MADE FOR U THEN WHY DOES MY HEART TELL ME THAT I'M? ??
 Is there any way that I can stay in Ur arms??

If I dont need U then why am I crying on my bed??
If I dont need U then why does Ur name resound in my head??
If U're not for me then why does this distance maim my life??
If U're not for me then why do I dream of U as my prince??

I dont know why U're so far away
But I know that this much is true
We'll make it through
And I hope U're the one I share my life with
And I wish that U could be the one I die with
And I pray in U're the one I build my home with
I HOPE I LOV U ALL MY LIFE

'Cause I miss Ur body and soul so strong
that it makes my breath away
And I breathe U into my heart and pray for the strength to stand today

'Cause I lov U, wether it's wrong or right
And I though I cant be with U to nite
U know my heart is by Ur side

I dont want to run away but I cant take it, I dont understand
If I'm not for U then why does my heart tell me that I'm? ?
Is there any way that I could stay in Ur arms? ?? =')

-If U're not the one- @>--

Monday, March 23, 2015

SELEPAS KAU PERGI @>--

                                                                               ุจุณู… ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฑุญู… ุงู„ุฑุญูŠู… - ุงู„ู„ู‡ู… ุตู„ู‰ ุนู„ู‰ ู…ุญู…ุฑ ูˆ ุงู„ู‡  
                                                                         Tertanggal 22 Maret 2015, pukul 23:51
     
     Ayah, izinkan aku untuk sejenak bercerita. Aku ingin bercerita tentang petualanganku selama 4 bulan terakhir, tanpa dirimu. Aku ingin ayah tau segalanya yang telah putri kesayanganmu ini alami selepas kau tiada.
Ayah, saat ini.. ketika jemariku mengetik tombol demi tombol milik si keyboard lusuh ini sebenarnya mataku tengah berkaca-kaca. Hatiku seperti tersambar awan pekat tak berwarna. Apa kau tahu mengapa? Mengapa mataku  berkaca-kaca? Mengapa hatiku meronta-ronta? Ayah.. apa kau tahu itu?? semua ini karenamu ayah. Karna rinduku yang meronta-ronta padamu. Ku ingin kau tahu,  AKU MERINDUMU AYAH..! aku teramat merindumu. 3 bulan lamanya telah ku arungi hidup tanpa dirimu, tanpa jiwamu, tanpa kasih sayangmu, tanpa nasehat bijakmu, tanpa bara dukunganmu, tanpa amarahmu yang kau lontarkan tiap kali aku tersesat, tanpa rangkulan hangatmu ketika aku mulai menyadari sebuah kesalahan, tanpa jabatan tanganmu yang sering kali membangkitkanku ketika jiwaku berada pada keringkihan, tanpa waktu dan segalanya yang telah kau korbankan hanya untuk si gadis nakalmu yang tak tahu diri ini. Aku rindu. Sungguh ku katakan aku merindumu ayah...! Aku rindu saat-saat bersamamu.
     Apa kau tahu, AKU TERAMAT KEHILANGANMU. Aku kehilangan sosok lelaki paling berharga dalam hidupku. Sosok lelaki yang selalu menjadi pelindung dalam setiap nafasku, sosok lelaki yang tiada pernah mengecewakanku, dan sosok, sosok yang... ahh sampai kapanpun tiada yang bisa menggantikanmu. Kini aku tersadar, bahwa tiada yang dapat menandingi kasih sayangmu, tiada perhatian yang lebih tulus dr perhatianmu, dan tiada pengorbanan yang lebih agung dan mulia selain pengorbananmu ayah.
     Sehari, dua hari, tiga hari, dan bahkan sampai detik ini keluarga kecilmu ini masih tertatih karna rindu kami yang tak berujung padamu. Terlebih ketika aku tak sengaja menyaksikan ibu sedang menangis tersedu karna tak terbiasa hidup tanpamu, ketika si adik bungsu berpolah super nakal hingga membuat ibu kewalahan menghadapinya, sementara ku tahu kenakalannya itu hanyalah luapan dari rasa kesalnya karna kehilanganmu di usianya yang masih sangat balita. Ohh.. seandainya engkau ada di tengah-tengah kami ayah.. mungkin keluarga kecil ini tak akan sehampa ini.
     Tapi aku tak akan mengulasnya di sini. Aku tak ingin memamerkan kerapuhanku di hadapanmu ayah.. Aku tak ingin menceritakan hal-hal yang akan membuatmu semakin khawatir karna telah meninggalkan kami. Karna Tuhan yang telah memanggilmu, dan aku yakin sekarang kau sudah bersahaja di surgaNya dan terbebas dari rasa sakit yang kau derita selama hidup di dunia fana ini.  Sekarang dengan jiwa yang tak lagi cengeng putri pertamamu ini akan bercerita, bahwa selepas kau pergi ada berjuta makna yang telah ku peroleh sehingga bisa menjadikanku sekuat baja seperti saat ini. Ketahuilah ayah, putrimu yang tak tahu diri ini bukanlah putri manja yang kau kenal dulu. Aku telah berubah ayah. Aku tak lagi sama seperti dulu. Aku bersyukur karna di balik kepedihan ini Tuhan mengajariku banyak hal.

       Sekarang aku mengerti apa makna dari sebuah KEIKHLASAN. Aku telah merasakan betapa pahitnya tersiksa karna kehilangan orang tersayang. Dan keikhlasanlah obat terampuh dari pahitnya rasa sakit. Ya, hanya satu, IKHLAS. Ikhlas merelakan kepergian orang tersayang, ikhlas menerima kenyataan menyakitkan, ikhlas mencicipi bumbu tak sedap dalam kehidupan, dan tentunya ketika kita telah mengenal tentang hakikat sebuah keikhlasan kita akan terbebas dari segala bentuk kekecewaan dan rasa ketidakpuasan.

        Lalu aku pun memahami betapa nikmatnya BERSYUKUR ketika kecewa. Betapa berharganya waktu yang telah ku buang sia-sia, betapa berharganya kebersamaan yang telah lalai ku jaga, betapa banyaknya kenikmatan-kenikmatan yang membanjiri hidupku tapi tak sempat ku syukuri, dan setelah setitik kenikmatan saja Ia hilangkan dari hidupku, aku baru menyadari betapa berharganya ia. Di situlah Tuhan mengujiku, Ia ingin tahu seberapa kecewanya aku karna kehilanganmu ayah.., seberapa marahnya aku menghadapi takdir pahitNya, dan dapatkah aku bersyukur dan mengambil bermilyaran hikmah di dalamnya??? Ya, sang waktu telah mengajariku tentang BETAPA PENTINGNYA BERSYUKUR sebagai penawar rasa kecewa. Dan dengan setulus-tulusnya hati, ‘Kini aku bersyukur padaMu Tuhan, karna kau telah menguatkanku melalui berbagai ujian yang telah kau berikan.’

Karna pada akhirnya, manusia akan bersyukur tiada henti atas kegagalan/kekecewaan yang pernah ia alami. Kapan? Ketika badai dahsyat melanda, dan ia masih tegap berdiri. ;)

        Kemudian aku semakin terkagum dan tercengang, setelah menyadari betapa dahsyatnya KASIH SAYANG seorang IBU. Betapa hebatnya ia, betapa berharganya ia, dan betapa tulusnya kasih sayangnya. Kini aku merasakan kehebatan kasih sayangnya, jauh berlipat-lipat ganda lebih besar setelah kepergianmu ayah.. ya, mungkin aku baru menyadarinya karna dulu masih ada dirimu sebagai tumpuan keduaku. Kau harus tau ayah.. sungguh, istrimu itu teramat luar biasa. Luar biasa ketangguhannya, luar biasa ketabahannya, dan luar biasa kepandaiannya dalam memimpin keluarga kecil ini tanpa dirimu. Jadi tak usah cemas, karna kau telah menitipkan kedua putrimu ini dengan seorang wanita yang tepat dan sangat luar biasa hebatnya.
     Aku terharu ayah, aku terharu tiap kali aku mengenang jerih payah istrimu itu. Padahal aku tahu bahwa di dalam jiwanya masih ada luka yang menganga karna kepergianmu. Tapi ia tak pernah memperlihatkannya kepada kedua putrinya. Ia menyimpan keluh kesahnya rapat-rapat ayah. Ia tak mau membagi kesakitannya padaku, juga pada putri bungsumu. Ia terlihat sangat tegar di hadapan orang-orang yang berlalu lalang, tapi aku tahu persis bahwa batinnya masih merintih kesakitan. Hmm.. mungkin dengan cara itulah ia mengajari kami untuk menjadi wanita tangguh dan penyabar.
Aku tak tahu ayah, bagaimana diriku harus membalut luka bersama dengan ibu. Yang ku lalukan hanyalah mendekapnya erat-erat dan mengatakan, “Aku menyayangimu ibu! Kesedihanmu adalah kesedihanku pula, maka berbahagialah.. maka kedua putrimu juga akan bahagia.” Hanya kata-kata itu yang kerap kali ku lontarkan pada ibu, karna aku tak sanggup lagi menahan air mataku ketika aku harus melontarkan satu kalimat lagi.. rasa-rasanya lidahku kelu dan bibirku membisu. Maafkan aku ayah.. karna aku masih terlalu cengeng!! Maka sudilah bertamu ke dalam mimpiku, agar kita dapat berbincang-bincang bersama, dan ku mohon ajari aku bagaimana cara untuk menjadi seorang anak yang berbakti.
     Tak hanya itu ayah, sebenarnya banyak sekali pelajaran berharga lainnya yang telah ku petik dari kejadian ini. Hanya saja, ku rasa untuk saat ini cukup sepucuk kisah singkat ini yang ingin ku ceritakan padamu. Karna ku yakin, di alam sana engkau pasti selalu memantauku dan mengetahui segala perubahan yang ada padaku. Walau tak seberapa, walau masih belum bisa menjadi putri kebanggaanmu, tapi ku yakin di alam sana engkau pasti tersenyum melihatku bisa mengusap air mata kepiluan dengan tanganku sendiri. Maafkan aku ayah.. Bersabarlah, aku berjanji bahwa aku akan berjuang untuk ayah, untuk ibu juga untuk putri bungsumu. Setidaknya, aku akan terus berusaha entah dengan cara yang bagaimana agar di hadapan Tuhan engkau tidak malu mengakuiku sebagai putrimu. Dan ku mohon, sampaikan pada Tuhan agar Ia senantiasa membimbing kami pada kemuliaan. Menopang kami agar selalu tegar dan penyabar, hingga kelak kami akan menjadi seperti yang engkau harapkan, dan pada akhirnya kami akan berkumpul menjadi satu keluarga kembali dengan seizin Tuhan. Cukup sekian ayah. 

-Thanks for every moments we spent together :) I'll be Missing U Until the End of Time-


Salam rindu dariku,

Putri kesayanganmu.



_______________________________________________________________________________

Assalamualaikum wr wb.
Hallo visitors :)) Terimakasih sudah bersedia meluangkan waktunya untuk mampir di blog tak penting ini. Semoga  mendapatkan 'sesuatu' yg dapat dijadikan ibroh yes ;)

Sebelumnya saya ucapkan syukron katsir,---Mohon utk siapapun yg membaca postingan tak bermakna ini --baik sahabat Pena Fathimah maupun visitors yg gak sengaja mampir (hehe).. saya meminta keikhlasan Anda untuk membacakan Surah Al-Fathihah untuk ayah saya (Bp. AMINUR RACHMAN bin ASHADI). Semoga beliau selalu dalam naungan kasihNya. Ilahi Amin.

-Jazakumullahu khairon katsiron- 
:))

Categories

Follow me on Facebook

Follow me on Tumblr

Writing is the most fun you can have by yourself. - Terry Pratchett

Powered by Blogger.
Adsense Indonesia

About Author

Hamba Tuhan yang sedang belajar menulis.

Video of Day | Click on the link below to download the video!

Popular Posts