123, Example Street, City 123@abc.com 123-456-7890 lasantha.wam

Writing is the most fun you can have by yourself. - Terry Pratchett

Friday, July 22, 2016

Tentang Kerelaan & Air di Sudut Mata



( 19 + 9 / 12 ) × 365 × 24 × 3600 = 622.836.000 (s). 
Kau tau? 622 juta sekian2 detik lamanya aku hidup. Dan pada bilangan waktu itu aku pernah jatuh, lalu bangun lagi. Jatuh, jatuh, jatuh, lalu bangun lagi. Kau tau perjuangan yg mana yg mampu mmbuatku bangun setelah jatuh berkali2??

"Air mata" & "Keikhlasan". Dua hal yg apabila kau hidup di dalamnya, maka kau bersama ketegaran. Sungguh, aku pernah memimpikan menggenggam bintang. Sesuatu yg dekat sekali dg kemustahilan. Tak usah kau tanya seberapa besar air mata, peluh, pun pengorbanan yg kupersembahkan, tapi tetap saja -jatuh, jatuh lagi, makin jatuh, bahkan tersungkur. Sampai suatu waktu hatiku bilang, "Sudah. Ikhlaskan saja. Itu bukan rizkimu." Ya, sang waktu mengajariku tentang keikhlasan. Melepas apa yg menjadi angan/impian/cita2/harapan,--yangtelahmeraung2dikhayalansedariakumasihberstatusmenjadiseorangputrikecil. Ikhlas dg setulus2nya kerelaan. Merelakan apa2 yg telah Ia tuliskan. Dan kau tau, apa yg terjadi setelahnya?? Sungguh, ia menggenggamku setelah kulepaskan. Ya, mimpi yg kubilang mustahil itu sekarang telah berada didekapan. Berjalan beriringan. Berjuang lagi menggapai mimpi yg lebih tinggi. Dan aku, -aku terbangun dr keterjatuhan, berdiri, atau bahkan menang. Ya, aku menang.

622.836.000 detik lamanya. Dan 1 hal yg menjadi paling spesialnya pelajaran dan ingin kuutarakan adalah 
bahwa, "Perjuangan yang sejatinya mendekatkanmu pada keberhasilan adalah perjuangan yang paling banyak air matanya. Air mata yang bermuara dari keikhlasan. -Kerelaan." 

Bukan apa2. Tak usah kau baca. Sekian. ๐Ÿ˜Š




#Syukuritawamu
#Syukuritangismu
#Alhamdulillah




Jprdise, 21/07/16
-dfz-

Monday, July 18, 2016

Dagelan


Selamat malam rindu, moga kasihNya selalu menaungi lelapmu. Hingga kau terjaga, pun kembali bersahaja.

Tidak. Aku tak ingin mengganggumu. Aku tahu mentari telah hanyut, dan kejora di kedua bola matamu pun telah layu. Maka tenang saja, aku tak ingin mengganggu lelapmu. Aku hanya ingin mendongeng. Haha. Ya, mendongeng utk diriku sendiri. 
Rindu, kau tau tak? Baru saja air kecengenganku menderai karnamu. Ehh bukan. Bukan karnamu, tapi lebih tepatnya karna kehidupan yg telah kujalani. Sekali lagi bukan karnamu. Haha. Tapi, bagaimana mungkin engkau bukan salah satu sebab dr deraian itu, sedang kaulah satu dari beberapa elemen yg mempondasikan kehidupan milikku? Pun bagaimana mungkin kau sama sekali tak ikut andil, sementara kaulah sepertiga dr elemen itu? Bagaimana kau tak ikut andil, sementara mendengar namamu saja membuat siapapun yg mendengarnya merasakan lara? Bagaimana mungkin?
--Rindu, kau tau rasanya tak?

Konon, orang bilang itu -Rindu.
Sebuah rasa yg membuat hati manapun yg merasakannya menderaikan air dikedua sudut bola mata. Ya, orang bilang "rindu" adalah sebutan utk sebuah perasaan yg menyesakkan dada. Lain halnya dgku. "Rindu" bagiku adalah "kamu". "Sesosok", bukan sebatas julukan tak bernyawa. Lebih tepatnya, "Rindu" bagiku adalah kombinasi dari keduanya, -kamu dan rasa rindu. Jelas saja, mengapa kunamai kau dg "Rindu"? Sebab tiap kali hatiku menderu, satu2nya alasannya berderu yaitu kamu. kamu. Dan kamu, -yang slalu kurindu. Maka jangan tanyakan lagi, mengapa kau kupanggil "Rindu".

Hmm.. bila orang bilang "rindu" adl bara yg kehadirannya selalu ingin cepat2 dipadamkan, bagiku "rindu" adalah bara yg ingin selalu kukobarkan. Bila orang bilang rindu adalah penyakit hati yg ingin segera dipulihkan, maka aku adalah sosok langka yg tetap membiarkan jiwaku teridap penyakit itu. Dan pabila begitu, lalu siapakah sosok rindu bagiku hingga jadikanku sosok langka yg menggilaimu seperti itu? Siapakah kau? Siapakah sosokmu yg kunamai "rindu"?? Hey, bersyukurlah. Karna kau *istimewa. Dikagumi oleh makhluk langka, pun dirindui olehnya. Ya, aku merinduimu sepanjang waktu. Rinduuuuuuuu.... rinduuuuuu.... dan rinduuuuuu.... du du du du du duuuuuuu........ . ๐Ÿ˜‚LOL

Ahhh sudahlah.. aku hanya ingin mendongeng tentang rindu. Menggerakkan penaku dengan huruf2 "R - I - N - D - U". Jadi jangan mual membaca dongengan gilaku. Ahh sudah cukup.. tak usah kau baca lagi!! Haha. Ini sama sekali tak penting. Ahh sekali lagi aku hanya ingin mengekspresikan rasa. Rasa rindu yg kubuat2 dg irrasionalku. Entah benar2 rindu atau hanya semu. Ahhh jelasnya, aku memang benar2 sedang merindumu. Ehh taukan siapa dirimu?? KAMU!! IYA KAMU!! -Yang aku pun tak tahu siapa dirimu, si pemilik sulbiku, si pelengkap hidupku, si pendegup jantungku, si penyempurna imanku, pun si pemilik hatiJiwa&Ragaku -di masa depanku. Itu kamu. Siapa kamu?? Hahaha. 

Dan satu lagi,
"kamu" adalah kamu, -yang kata Tuhan,
"Kejarlah togamu dulu sayang.. ia masih dalam perjalanan."


HAHAHA

-SELESAI- 




#BELAJARLAHYANGBENERDULUSAYANG!!
#KEJARTOGAMU!!
#JANGANMACEM2DULU

#MARIBERCERMINDULU
#SUDAHISTIMEWAKAHKAMU??



-Selamat Malam =D
Wassalam-


:p #LOL

Saturday, June 18, 2016

Dongeng Sebelum Tidur :v

~iLovEDyou~~
Tuhan itu Maha Romantis. Mempertemukanku dengan makhluk-makhluk kesayanganNya ~untuk ajarkanku hidup. Hadir tanpa kuminta. Merangkul, mengajari, pun tunjukkan berbagai makna. Ahh hidupku benar-benar romantis semenjak ada mereka. Mereka yang bukan siapa-siapa dan pada akhirnya memperoleh tempat istimewa di hati. Dari yang hanya teman, sahabat, dan bahkan sosok istimewa yang berhasil memberitahuku makna degupan hati. Ya, aku bersyukur atas kasihNya, yang telah pertemukanku dengan mereka: sosok-sosok istimewa. Tuhan, terimakasih. :)

Sekali lagi kukatakan, Tuhan memang benar-benar romantis. Ia mengenalkanku cinta. Pertemukanku dengan sosok teristimewa. Meski sempat sakit, tapi aku bahagia. Karna menjadi pecinta, bagiku adalah sebuah anugerah. Dan 'terluka' adalah penyedap rasanya. 

"Mencintai.. ." dimana kita menjadi sosok paling peduli, tanpa harapkan dipedulikan lagi. Dimana kita menjadi sosok paling penyayang, meski terkadang hati meradang ~tak punya nyali tuk ungkapkan. Pun dimana kita, kita dengan sekejap saja bisa tertawa bahagia hanya karna saksikan pancaran senyuman bahagia miliknya. Ya, mencintai adalah anugerah dari Sang Maha Cinta. Dan aku bersyukur, karna Ia telah memberiku kesempatan untuk mencintai kamu: kesayanganNya.

Hmm.. Sekali lagi kutegaskan, Tuhan benar-benar maha romantis. Teramat romantis. Mengapa? Karna mengenalmu adalah anugerah terromantis yang selalu kusyukuri. Ya, Ia mengenalkanku dengan-mu ~yang dulu siapa namamu saja aku tak tahu. Tak hanya itu, Ia pun tepiskan segala kecanggungan hingga jadikan-mu sosok yang jauh dari kata "kuasingkan". Ya, kau begitu dekat di nadi. Kau begitu... Ahhh kau segalanya. Hahaha:v

Sekali lagi, aku bersyukur ~karna kau menjadi apa adanya bila denganku. Lebihmu, kurangmu, pun segala elemen negatifmu ~aku tau. •Apa adanya• dan aku suka itu. Meski kuakui, sakit rasanya tiap kali bergurau denganmu.. Karna setiap detiknya aku harus menekan perasaanku agar tak jatuh makin dalam. Ya, aku mulai membiasakan itu, ~~tak membiarkan perasaanku makin hanyut ke dalam lubuk, agar ku mampu hentikan bisingnya cemburuku yang kesekian kalinya. Ya, aku mencemburuimu -untuk kesekian kalinya, dan aku tak berhak. Tak berhak mencemburuimu. Jadi maaf bila aku masih suka nakal, masih suka mencemburuimu yang jelas2 ~Untuk Cemburupun Aku Tak Berhak. Maafkan, karna tahu-diriku belum cukup mahir men-jera-kan hatiku.
:')


Ahh tak mengapa kawan.. . Tak perlu kau dengarkan. Aku hanya ingin mengabadikan tiap-tiap serpihan hati. Bukan ingin kubawa mati, hanya saja rasa di hatiku punya harap ~suatu saat nanti, saat ketika kusudahi segala tentangmu, pun saat dimana kita bisa bertatap muka lagi dg bahagia kita masing2, aku bisa mngenangmu. Mengenangmu sebagai sosok terkasih yang dulu pernah membuatku rapuh tapi pada akhirnya bisa menjadikanku sekuat saat itu. Mengenangmu sebagai teman terkasih yang berkatmu, aku menjadi lebih tegar dan penyabar. Pun tentunya pada hari itu, kau akan kukenalkan pada-nya ~si penyempurna agama yg telah kutemukan. Mungkin ia akan cemburu, tapi pada akhirnya ia akan berterimakasih padamu, karna pada hari itu aku tak akan mengenalkanmu sebagai sosok terkasih di masa lalu, melainkan teman karib yang telah mengajariku banyak hal ~~tangis, tawa, haru, pun pilu. Pun mengenalkanmu sebagai teman karib yang telah berjanji akan berkarib selamanya. Meski pada akhirnya kebahagiaan kita akan terpisah dengan kata "masing-masing" sehingga peduliku padamu pun akan tersekat oleh kata "sewajarnya", tapi semua itu takkan mampu menghapusmu dari daftar teman karibku. Ya, selamanya kau tetap teman karib. Moga saja, ~serpihan hati yang kuabadikan ini dapat membawa-ku dan kau pada ruang pertemanan sejati. Hingga menua, hingga beruban, hingga kembali pulang, pun sampai nanti --di keabadian, ~kau tetap teman. Teman karib. Teman seperjuangan. Teman tak hanya dalam khayalan. Semoga saja.

Maka kuakhiri goresan pena bertema serpihan hati ini dengan sederet kata,
"Aku bersyukur, berkesempatan menjadi pecinta sekaligus teman karibmu. Aku bersyukur, menjadi pemilik dari hati yang PERNAH ~mencintamu.. 1/2mati. Sekian."


Tuhan, terimakasih. ๐Ÿ’





Jprdise, 23/06/16
-zfd-

Tuesday, June 14, 2016

Bila Dia Bukan Milikmu

 Membiarkanmu terlelap dalam kalbu, adalah derita yang tak kuingini kepulihannya. Biar saja, berkawan luka. @>--

Bila dia bukan milikmu, berhentilah mengagumi. Bila dia bukan untukmu, berhentilah menyayangi, dan bila dia bukan takdirmu, berhentilah mencintai.
Berhentilah. Lalu berlarilah temukan yg sejati utkmu.
Hatimu tak salah. Jangan kau hujat ia. Karna mencintai selalu di luar kendali. Maka hapuslah rasa bersalahmu. Rasa bersalah karna telah salah menjatuhkan hati. Tiada yg salah. Hanya saja kau perlu sedikit teliti, -menyikapi sosok yg diam2 mencari celah utk menerobos ke dlm  benda kecil bernama *hati.


Sudahlahh... tak usah berlarut-larut. Setiap orang pasti punya masa lalu kan? Masa lalu yg tak selalu mulus, pun tak selalu kelam. Bisa jadi masa lalumu itu pernah mencabik2 hatimu hingga memar sampai sekarang. Hingga kau trauma rasakan lara. Hingga kau  ingin sekali pergi, berlari menjemput masa depan, tp nyatanya kau masih di sini saja. Tak selangkahpun bergerak. Hanya karna rasamu telah membabi buta, dan kau tak sanggup menoleh ke arah selainnya. Pernahkah kau alami yang demikian??

Ku rasa semua orang pernah mengalaminya. Mencoba berlari menjemput masa depan, tapi bayang-bayang masa lalu masih lekat menghantui. Sakit memang. Mencintai sosok yang jelas2 bukan tercipta untukmu. Dan bodohnya lagi, berkali2 kau hendak berlari, mencoba menerima sosok lain yg ingin memilikiku setengah mati, sialnya tak pernah bisa. Lagi2 kau campakkan mereka: yg mencintaimu sepenuh hati -hanya demi dia, si perobek hati. Mau bagaimana lagi? Begitulah konsekuensi dari 'terlalu mencintai', hingga matamu seakan buta tuk saksikan dunia. Seakan-akan duniamu hanya satu: dia. Hanya dia. Lalu, adakah jalan setapak tempatmu mengistirahatkan semua gemuruh di hati? Sungguh, ia perlu sejenak tuk pulihkan diri. Berhenti rasakan sayatan cintanya, dan pelan2, mencoba pergi tuk sambut cinta yg lain. Ya, kau perlu beristirahat. Agar hatimu tak makin bengkak.
  
Kau -duhai jiwa2 yg sedang tersakiti.. . Mari bergegas memerdekakan diri! Berhijrah dari masa kelabu -masa lalumu. 
Karna apa??


Karna di luar pintumu, ada yg telah merdeka dari itu. Tak hanya satu, tapi -beribu. Jiwa2 yg telah berhasil terobosi luka meronta di masa lalu. Memulih seiring dg berjalannya waktu. Kini ia merdeka. Terbebas dari jeruji cinta-buta yg ia buat sendiri.
Dan kamu? Tak mampukah kau?? Tak mampukah *ku?


Ahhhh.... andai hatiku tak seceroboh dulu,
Pasti kau takkan mungkin bisa tertidur pulas di relungnya. Seperti saat ini. Kala kau begitu lelap, hingga aku tak tega tuk berhenti menimangmu dalam hati.



Maka lekaslah terjaga. Aku sudah terlalu lelah dan menderita. :')


Smg, 13/06/16
-dfz-



#words
#art

Wednesday, May 25, 2016

Sebingkis Kenangan Traumatik di Kota Lumpia // Short Story

“Ayaaaahhhhhhhhhhh aku datangggggg!!!!!!”

Perjalanan panjang telah membawaku pada peran seorang istri sekaligus ibu bagi kedua putriku. Ya, sang waktu telah mendewasakanku dan jadikanku ibu tertangguh bagi keduanya. Memang benar kata ibu, masa lalu tak pernah miliki hak tuk halangi seseorang menjadi berbeda di masa depannya.

“Masa lalu ya masa lalu. Biarkan itu berlalu! Sekarang kau hidup di masa yang tak lagi seperti dulu nak! Jadi jangan biarkan masa kelammu itu membungkammu dalam ketidakberdayaan! Kau harus berjuang! Seperti ayahmu dulu!” kata ibu yang selalu tertanam dalam memori.

***

Aku mulai lelah menunggu. Menanti detakan jarum jam di tanganku yang sedari tadi berputar teramat pelan. Ini benar-benar perjalanan terpanjang bagiku. Jalur rel kereta api yang  membentang dari ujung timur pantai utara hingga pertengahan pulau jawa telah kulewati, namun kereta api bisnis ini tak kunjung berhenti. Aku benar-benar lelah menanti. Bayang-bayang masa lalu mendorongku untuk ingin segera beranjak dan meluapkan rindu di kota lama penuh kenangan itu. Sementara suamiku yang sedari tadi menjagaku di sisi kirinya, hanya geleng-geleng menyaksikan ulahku yang tak henti-hentinya menggerutu. Ia tak banyak tanya, karna memang sebelumnya aku selalu marah bila ia tanya macam-macam tentang tujuanku di perjalanan kita kali ini. Yang ia lalukan hanyalah tenangkanku dalam rangkulan hangatnya, lalu meyakinkan bahwa ialah dia, sang suami yang seharusnya menjadi tempatku berbagi –suka maupun duka. Sementara yang ku katakan hanyalah janji. Seribu janji yang selalu kulontarkan bahwa suatu saat aku pasti akan berbagi. Suatu saat. Di suatu tempat, pada waktu yang tepat. Aku akan berbagi.

30 menit berlalu. Akhirnya kereta itu membawaku pada tujuan. Ya, ia berhenti persis pada saat dimana senja dan sayup-sayup patah mulai terdengar. Aku pun berlari menggandeng suami terkasihku untuk keluar gerbong. Berlari.. terus berlari hingga ku temui sebuah plang besar bertuliskan “Stasiun Kereta Api Tawang Semarang”. 

-TAWANG. Satu kata penuh kenangan.

Dug. Kakiku seketika berhenti melangkah. Lalu ku pandangi tulisan itu, meresapinya dalam-dalam sembari menekan kedua sudut mata agar butiran air yang mulai mencair tak sampai mengalir. Aku khawatir bila suamiku tahu. Aku  benar-benar khawatir bila suamiku tahu –sesuatu di balik air mataku.  

---

***

20:30 WIB.

Kita duduk berdua. Tepat di tepi polder Tawang yang tak jauh dari penginapan. Aku bersender di bahunya. Menikmati indahnya kerlap-kerlip kota, pun semilir udara malam  yang dengan ramahnya menyapaku melalui sentuhan lembut penuh kehangatan.

[Hening]

Aku mulai bercerita. Kataku pada abang, 

“Dulu, 35 tahun lalu ayah dan ibu juga seromantis ini. Duduk berdua menikmati indahnya suasana malam di kota ini. Persis di tempat ini. Aku dan kak Panji pun tak mau kalah, kita sama-sama unjuk kemesraan di depan mereka. Sampai-sampai tak jarang orang di sekeliling kota mengira bahwa kita adalah sepasang kekasih, sama sekali tak nampak bila sebenarnya adik-kakak. Kita teramat dekat bang.. Kerap sekali kita menghabiskan waktu berdua di kota tua ini. Berlarian kesana-kemari menyusuri tiap-tiap bangunan kuno itu, pun bangunan tersadis itu. Ak.. …”

“Bangunan kuno? Bangunan tersadis? Maksudmu?” potong suamiku.

Aku memejamkan mata. Mencoba tenangkan rindu yang mulai meronta. Mencoba menepis bayang-bayang kelam tuk jawab tanyanya, “Bangunan-bangunan kuno itu.. …” Ahh aku tak berhasil. Air mataku berderai. Kali ini aku benar-benar tak bisa sembunyikan kecengenganku di depannya.

Tanda tanya di benaknya pun semakin menjadi-jadi. Ingin ia luapkan, tapi ia mencoba meredam. Ya, ia memang begitu. Selalu punya cara tuk tenangkan hati istri. Ia merangkulku dan memegang erat jemariku. Sementara yang ia katakan hanyalah, “Menangislah dik, kau boleh menangis sejadi-jadimu. Menangislah hingga bebanmu berlalu. Menangislah bila itu dapat tenangkan hatimu. Menangislah.. tapi jangan kau lupakan ini, ini bahuku. Bahu suamimu, –tempatmu menyandarkan semua bebanmu.” 

15 menit berlalu.

Waktu yang terbilang singkat itu ternyata mampu meredakan sesak di dada. Kala itu aku putuskan untuk beranjak dari tempat itu. Aku menggiring suamiku untuk berpetualang menjelajahi tempat-tempat indah lainnya. Aku terbayang suatu tempat. Lalu ku ajaklah suamiku ke tempat itu. Kita menyusuri Jl. Cendrawasih yang lumayan panjang. Sembari berjalan, aku mulai bercerita lagi, 

“Bang, abang tahu sejarah kota Semarang? Tahu  sejarah kota lama?”

“Kota lama sih tahu dik, peninggalan Belanda kan? tapi tak tahu kalo sejarah detailnya.. sebenarnya abang mau tahu sejarah lengkapnya, tapikan tiap kali abang singgung ini dik Lastri selalu pasang muka tak enak. Sebenarnya ada apa? ”

“Dulu sekali, setelah peristiwa pemberontakan Trunojoyo berakhir, kota Semarang resmi jadi hak milik Belanda. Kala itu kerajaan Mataram menyerahkan daerah ini pada VOC sebagai imbalan karna VOC sudah membantu Mataram di pemberontakan Trunojoyo. Mulai dari situlah Belanda mengadakan pembangunan di kawahan kota lama ini. Ada gedung pemerintahan, perkantoran, tempat peribadatan, rumah-rumah warga, dan masih banyak lagi. Coba abang tengok kanan-kiri, serasa berada di Eropa tak? Bangunan-bangunan di sini benar-benar mirip miniatur Belanda bang.. unik dan indah sekali..!”

“Iya dik, abang baru pertama kali lihat kawasan peninggalan Belanda macam ini. Tapi abang heran, kenapa dik Lastri selalu sedih bahkan menangis kalau abang singgung kota lama ini?”

Pertanyaan abang kali ini membuatku tak bisa berkata apa-apa. Aku serasa di sekak oleh pertanyaan yang sekian puluh tahun selalu kuhindari. Memang ini bukan kali pertama abang tanya tentang hal ini. Tapi tiap kali ia tanya, akan selalu bisa berkelip. Dan kali ini, ahh aku benar-benar ingin meluapkan segalanya. Kisah di masa lalu itu. Kisah yang tak pernah kuceritakan pada orang-orang di masa depanku, termasuk suamiku sendiri.

“Hmm.. kan Lastri pernah menetap di sini bang. Tak lama sih, tapi kota ini meninggalkan banyak kenangan buat Lastri.” kataku berusaha tepiskan kegundahan. 

Tak terasa obrolan kita mengenang masa lalu Semarang itu telah membawa langkah kita pada jalan panjang yang menyimpan banyak kenanganku di masa lalu. Rinduku semakin menjalar. Di Jl. Letjen Suprapto itu ku percepat langkahku. Abang pun begitu. Jalan kaki di malam hari ternyata melelahkan juga. Tapi kita tetap menikmati moment itu. Aku pun melanjutkan ceritaku. Aku memperkenalkan gedung-gedung yang berdiri di sepanjang Jl Letjen Suprapto itu. Kuceritakan juga moment-moment bersejarahku dengan mendiang kakakku di beberapa tempat di jalan itu. Tapi tetap saja, abang belum tahu. Tetap kusimpan rapat tragedi memilukan itu.

Setelah beberapa puluh menit berjalan, akhirnya sampailah kita di tempat yang ku tuju. Sebuah taman bernama Srigunting yang merupakan pusat dari kawasan kota lama. Aku pun kembali berkisah. Kuperkenalkan padanya seluk beluk dari taman itu, pun bangunan-bangunan kuno lain di sekelilingnya. Seperti Gereja Blenduk, gedung Marba, dan gedung Jiwasraya. Aku benar-benar serasa bak pakar sejarah pada waktu itu. ”Kau saudaranya tuan Herodotus ya?” celetuk suamiku menggoda.

Beberapa jam di tempat itu membuat kita serasa berkunjung ke dalam alam nostalgia. Tak hanya suamiku yang terkesima akan miniatur-miniatur di kota lama itu, tapi aku pun sama. Aku terkagum-kagum, ternyata suasana kuno di kawasan Eropa versi Indonesia ini masih lestari sampai sekarang. Saking terbawa suasana, kita bahkan tak sadar kalau malam sudah berada di pertengahan. Ya, kita menghabiskan waktu hingga larut malam. Tak lama berselang, kita pun kembali ke penginapan.

***

Semarang, 17 Oktober 1973

Pagi hari. Di sebuah gedung angker di kawasan tugu muda. Ini adalah tempat terakhir yang kukunjungi bersama suamiku sebelum kita kembali ke tempat asal. Aku sudah mempersiapkan mental. Jauh-jauh hari sebelum kakiku menginjak tempat terbengas ini. Maka, di tengah-tengah langkah kita mengitari lorong-lorong milik gedung dengan 1000 pintu itu aku mengutarakan yang sebenarnya. Sebuah rahasia traumatik yang tak pernah kuceritakan kepada siapapun.

Di sepanjang lorong angker itu aku berkisah,

“Bang, maaf kalau selama ini aku terlalu munafik padamu pun pada kedua putri kita. Sebenarnya aku tak setangguh dan setegar itu. Aku tak sekuat itu bang. Sering kali aku bersembunyi tuk keluarkan air mata kepedihanku. Akupun punya rahasia kelam tentang hidupku yang tak pernah kuceritakan pada kalian. Maafkan aku bang. Aku hanya ingin menutupi kerapuhanku. Aku ingin mengubur sejarah kelamku itu dalam-dalam dan menghilangkannya dari bayangan masa depanku. Tapi kali ini abang harus tahu. Abang harus tahu apa alasan di balik tangis-tangis  tak jelasku.

Bang, kau tahu? Dulu, sekitar 30 tahun lalu aku mengalami kejadian terburuk dalam hidupku. Bukan hanya aku, tapi mendiang ibu dan kak Panji. Jiwa kami benar-benar terguncang pada waktu itu. Kala itu, kita hidup di tengah-tengah kebiadapan Jepang. Kami benar-benar bak tawanan perang yang teramat merindukan kebebasan. Sampai suatu ketika, kami menerima kabar kalau ayah yang pada waktu itu termasuk salah satu pejuang kemerdekaan, ditangkap oleh tentara Jepang dan dimasukkan ke dalam penjara bawah tanah. Abang tahu? Di tempat inilah para durjana Jepang itu melancarkan kebengasannya. Tepatnya di sebuah lorong bawah tanah yang terletak di bangunan paling bawah dari gedung ini. Lorong itu sangat sempit dan pendek sehingga para tawanan di penjara itu harus jongkok dan tak bisa berdiri. Kebayang tak, betapa penjara yang sering di sebut penjara duduk itu sangat menyiksa ayah? Penderitaan ayah tak berhenti di situ bang. Lebih tragis dari sekedar jongkok di lorong gelap nan pengap, hidup ayah berakhir dengan sangat tragis. Ayah di penggal bang. Kepala ayah di penggal di tempat itu setelah mengalami berbagai macam siksaan. Jasad beliau pun di buang di sungai. Kami sama sekali tak bisa berbuat apapun. Kami pun serasa menjadi keluarga paling tak berguna pada waktu itu. Ayah gugur dalam kondisi jasad terpisah dari kepala.

Abang tahu kan rasanya jadi Lastri pada saat itu? Itulah sebabnya kenapa selama ini Lastri tak ceritakan kisah ini pada siapapun. Karna tragedi itu terlalu membekas, pun tinggalkan trauma mendalam.”

Aku menangis sejadi-jadinya. Mengisahkan kisah traumatik itu, di tempat kejadian perkara, dan di depan suami yang sedari dulu mengenalku sebagai pribadi tertegar, tak ubahnya menaburi luka di atas garam. Tapi bagaimanapun aku berusaha tuk tegar.

“Bang, kisahku tak berhenti di situ. Dengarkanlah lagi. 

Dua tahun setelah itu, tragedi memilukan menimpa keluargaku lagi. Dua tahun pasca ayah tiada, salah satu anggota keluargaku pun menyusulnya. Kala itu, tepat di tanggal yang sama dengan hari ini, 17 Oktober 1945, tepat 28 tahun silam, terjadi tragedi pertempuran 5 hari di Semarang. Pertempuran itu merenggut puluhan pemuda bangsa yang berjuang mempertahankan kemerdaan RI pada saat itu, termasuk pemuda terkasihku. Ya, kakak semata wayangku gugur dalam pertempuran itu. Tepat di hari ketiga pertempuran, kak Panji terkena tembakan tentara sadis Jepang. Ia pun gugur sebagai pemuda bangsa pejuang kemerdekaan, tak jauh beda dengan Dr Karyadi yang juga tertembak kala itu. Pertempuran 5 hari itu benar-benar menciptakan goresan luka baru di jiwa Lastri dan ibu. Kami kehilangan 2 sosok lelaki terpenting dalam hidup kami. Ohh.. andai kata ‘mengutuk’ tak dianggap tabu, aku ingin sekali mengutuk penjajah Jepang pada waktu itu.

Tapi sudahlah.. yang lalu biarkan berlalu. Karna yang sepantasnya kulakukan adalah bersyukur terhadap apa-apa yang telah Tuhan berikan. Ya, aku sangat bersyukur karna dari kejadian itu Tuhan mengajariku banyak hal. Seperti yang abang lihat sekarang, aku masih jadi wanita terkuat dan tertangguh kan?”

***

Semarang. –satu kata penuh kenangan.

“Dear you, kota lumpia penuh kenangan.. sekelam apapun kau di masa lalu, tapi di mataku, kau tetap jadi kota terindah dan tergagah. Kau luar biasa, Semarang. Semakin hari semakin menyejahterakan, pun tak pernah abaikan kelestarian kota lamamu. Semarang, kau terlalu spesial.”

 

***theEnd***


 

Semarang, 02/05/2016

-dfz-

 

 ------------------------------------------------------------------------------------------------------------

///Hmmm.. gk jelas banget ya cerpennya-_- jadi ceritanya cerpen ini itu saya tulis buat lomba cerpen Forwakot Smg. Itu saya nulisnya dalam kurun waktu setengah malam looo.. (disitu kadang saya merasa nyesell wkwk) Ngebutt.. amburadul.. endingnya juga hambar.. jadi yaa begini.. haha :v Maklumlahh mahasiswa super sibuk..wkwk

Ahh nyesel bangetlahh.. coba saya bikinnya agak niat dikit begitu yaa.. kali aja bisa menang.. wkwk

Tapi yaa sudahlahh.. pada intinya saya kembali diingatkan bahwasanya "sesuatu yg dilakukan dengan tergesa-gesa, hasilnya tak akan maksimal. Betul? :)) Karna pada suatu perlombaan, yang berhak menyandang predikat sebagai pemenang yaitu dia --yang paling khusyu' doanya, dan paling besar usahanya." itu ajasihh.. SAYA MAH APA ATUHH WKWK :v //

Friday, April 22, 2016

'Ali @>--


Untukmu yang entah di mana..

 ๐ŸŒท..ูŠุง ุนู„ู‰.. ูู‰ ู…ุณุชู‚ุจู„ู‰
Maaf. Ku ucap maaf karna telah mendua terlalu lama. Maaf. Ku ucap maaf, karna telah berpaling terlalu dalam. Maaf bila kau cemburu. Maksudku tak begitu. 

Hey, kau yang entah sedang apa..
Bolehku berkisah? Sebentar saja. Aku ingin bersandar di bahumu --dalam fatamorganaku. Tak penting kisahku. Hanya saja ku ingin kau tau. Sudikah kau dengar? Aku hanya ingin mengadu, "Aku lelah. Aku lelah rasakan lukaku." Sudikah kau dengar? Atas nama luka yang sedang ku perjuangkan kepulihannya, aku ingin sampaikan maaf. MAAF, karna hatiku terlalu nakal hingga tak bisa jaga rasa. Aku tak bisa jaga hati. Ya, aku terjatuh. Aku jatuh berkali-kali --pada cinta yang tak semestinya ku lintasi. Aku terjatuh pada sosok yang salah. Yap. Aku salah. Aku telah salah menjatuhkan hati. Jadi maaf. Maaf, bila kau cemburu. Bukan makudku begitu.
Kau maafkankah ku?

Ohh barangkali kau tak tega saksikan lukaku. Tak maukah kau percepat langkahmu? Cepatlah.. temuiku, -si pemilik jiwa yang dilanda cedera. Cepatlah.. datangiku, sebab di dekapmulah kujumpai kepulihan. 

Duhai yang entah bagaimana dirimu,
bagaimana perjalananmu? masih panjangkah? atau bahkan tersesat? Katakan! cepat katakan! karna hatiku lelah menunggu. Karna kaulah sebab pulihku. Maka cepat katakan! Di manakah jalan setapak tempat kau pijakkan langkahmu? Karna rasa-rasanya aku tak pernah temukan itu. Atau barangkali kau sudah pernah lewat di seberang jalan kehidupan milikku? atau bahkan pernah bermukim di dalamnya? Ahh tapi mengapa tak kau jumpai ku? Ahh barangkali kita memang belum pernah bertegur sapa. Semoga saja. Semoga saja kau bukan bagian dari mereka --yang datang lalu pergi, yang datang lalu menyakiti, pun yang datang namun sama sekali tak ku ingini. Semoga bagaimana kau, adalah apa-apa yang terkriteriakan dalam hati. 

Jadi, untukmu yang entah sedang berpaling pada siapa.,
Semoga Tuhan menjagamu, memudahkan jalanmu, pun menaungimu di berbagai keadaan.
Maaf, aku hanya punya itu --sebingkis doa yang tak sering ku mohonkan di setiap pagi dan petangku. Sekali lagi maaf --Jika kau masih menjadi bagian asing dalam angan. Maafkan, aku hanya punya itu --sebingkis doa. Tak punya cinta, tak punya rasa. Maafkan. Karna jika ku katakan "aku mencintaimu, kamu yang entah siapa dirimu (?)" -itu sama saja ku bohongi kau. Karna cinta selalu punya alamat. Maka cepatlah!! cepatlah temuiku, agar ku ketahui alamatmu. Barangkali tak perlu banyak waktu, benih cintaku kan cepat tertuju -padamu. Cepatlah.. aku ingin cepat jadikanmu satu-satunya. Agar jiwaku pulih, agar jiwaku tak letih. Sudikah kau cepatkan langkahmu?

Sekali lagi maafkan,
Karna ku masih belajar. Belajar mencintai, kamu -yang entah bagaimana dirimu. Belajar mengistiqomahkanmu dalam munajat pagi dan petangku. Belajar menjaga hati, pun belajar pantaskan diri. Maafkan, karna barangkali kau masih ku duakan -dengan sosok yang mungkin dan ku yakin bukan dirimu. Maafkan aku.


                  Untukmu, 'Ali di masa depanku..

                      Tak rindukah kau pada Fathimahmu??




#'Ali



Smg, 22/04/2016
-dfz-

Tuesday, April 19, 2016

Rahasia: Ternyata Lelaki itu Gampang Stress // ah masa sih?


Suatu hari, di akhir sesi perkuliahan Ibu Dosen bercerita. Beliau bercerita perihal kolam ikan di rumahnya yang tak pernah meluap walau hujan mengguyurnya seharian.  

“Dulu ibu selalu resah kalo musim hujan. Kolam ikan ibu selalu meluap, jadinya ikan-ikan ibu pada hanyut ke selokan. Tapi sekarang sudah nggak lagi dong.. kan sudah nggak pernah meluap. Jadi ikan-ikan ibu bisa tetep awet dan hidup harmonis,” katanya sambil memamerkan paras bangganya.

Lalu salah seorang temanku bertanya, “Bu, kok bisa sih? Atasnya di kasih atap ya?  Genteng atau esbes bu?” celetuknya yang spontan membuat seluruh isi kelas tertawa geli. 

“Ya bisa dong nak.. nyembuhin orang stress aja bisa, kenapa ngebahagiain makhluk-makhluk kecil macam ikan aja nggak bisa? HAHAHA,” jawabnya yang membuat kami semakin penasaran.

“Begini loh nak.. kalian tahu kanal kan? Nah.. ibu membuat beberapa kanal kecil di dinding-dinding kolam bagian atas. Ja.. …” 

“Kanal bu? Maksudnya?” potong salah seorang  teman dengan muka polosnya. 

“Kanal nak.. maksud ibu saluran pembuangan air. Jadi, meskipun ada hujan badai berminggu-minggu pun kolam ibu gak akan meluap. PAHAM??”

“Ohh iya iya bu..  benar juga ya bu, pada dasarnya selalu ada masa dimana segala sesuatu yang ditumpuk dan dipendam terlalu lama akan menjadi buyar dan tumpah ruah,” kata si jenius.

“Yap.. itulah sebabnya kenapa makhluk bumi berkromosom XY (laki-laki) itu lebih mudah stress dari pada makhluk berkromosom XX (perempuan).”

"Seriously bu?"

"Kamu belum tau nak? Kasian banget deh.. makanya banyak baca buku dong..! Jadi ada riset yang mengatakan bahwa pasien Rumah Sakit Jiwa itu lebih didominasi oleh kaum lelaki.." jelas Ibu Dosen dengan raut muka jailnya.

---

Hmm. Ternyata begitu.. Memang selalu ada fakta menakjubkan di balik kisah-kisah yang diceritakan ibu dosen yang satu ini. Pada cerita kolam ikan tersebut, ibu mengibaratkan kondisi psikis seseorang dengan kondisi di kolam tersebut. Kolam beserta isinya adalah ibarat sebuah jiwa beserta segala hal yang berkecamuk di dalamnya. 

Dalam membahagiakan psikisnya, seseorang perlu untuk melakukan katarsis. Apasih katarsis itu? Lalu apa hubungannya dengan kolam dan kanal?

Katarsis adalah proses meluapkan perasaan yang menghasilkan kelegaan dalam jiwa. Jelasnya, katarsis itu kegiatan dimana kamu menceritakan segala unek-unek (perasaan, emosi) yang menggerutu di jiwamu, seluas-luasnya, seterang-terangnya, kepada orang yang kamu percaya (keluarga/sahabat/teman dekat) sehingga perasaanmu menjadi lega dan plong. Nah, ibarat sebuah kolam, katarsis adalah kanal yang berada di dinding kolam tersebut. Sehingga sama halnya dengan kolam, jiwa seseorang tidak akan terguncang (stress) apabila kita menyiapkan kanal-kanal (melakukan katarsis) setiap kali ada tekanan yang hendak mengguncang jiwa kita. Lebih jelasnya, seseorang tidak akan mudah stress atau depresi jika tidak ada tekanan-tekanan yang menumpuk di jiwanya. Dan sebaliknya, seseorang akan mudah terguncang jiwanya jika ia selalu memendam segala permasalahannya dan tidak mau mencari problem solving dari orang lain. Akibatnya, jika jiwa sudah tidak bisa menampung seluruh tekanan (tumpukan permasalahan) yang ia simpan rapat tersebut, maka seluruh isinya akan meluap dan mengakibatkan psikis terguncang. Pada saat itulah tercipta sebuah gangguan psikis yang disebut stress. Jadi, membuat kanal di kolam yang keruh itu sangat penting dilakukan.

*Kolam      = Jiwa
*Air keruh = berbagai tekanan dalam jiwa
*Kanal      = katarsis

Lalu, mengapa penderita stress di muka bumi ini lebih didominasi oleh makhluk berkromosom XY (laki-laki)?

Stress datang, emosi meledak tidak terkontrol. -lelaki-

Faktanya, kebanyakan lelaki memiliki sifat introvert (tertutup) dalam hal perasaan. Lelaki cenderung menutupi perasaannya dengan mengunggulkan rasionalnya. Itulah sebabnya mengapa lelaki terbebas dari julukan mister baper. =)) Hal itu dapat dibuktikan dengan tidak ditemukannya budaya curhat-curhatan (budaya katarsis) di kalangan lelaki. Akibatnya, segala permasalahan yang menimpanya selalu mereka simpan dalam-dalam dan tidak menghendaki orang lain untuk tahu. Hal itulah yang kemudian memicu terjadinya stress. Karena apabila stressor demi stressor ditumpuk dan tidak dilakukan upaya reduksi (pengurangan) tekanan, maka suatu saat seluruh stressor itu akan tumpah ruah dan mengimplikasi menjadi stress. Dan dari situlah kita dapat menjawab pertanyaan “Kenapa sih, lelaki yang nggak baperan malah lebih gampang stress? kenapa sih lelaki kalo depresi sembuhnya lama? kenapa sih.. kenapa sih..” dan kenapasih-kenapasih lainnya.

Jadi, masih bilang kalau baper itu nggak banget?

Baper juga perlu kelles.. karena baper itu salah satu bentuk mekanisme pertahanan diri seorang wanita (laki-laki juga boleh kok :p) dalam menghadapi stressor. Maka dari itulah budaya wanita yang sangat kental dengan kegiatan katarsis atau curhat-curhatan atau baper-baperan –itu harus dilestarikan. wkwk

Asal nggak baperan banget ajasih.. =))

So, the main point is, KATARSIS itu perlu ya teman-teman.. katarsis itu salah satu cara untuk menghindari stress. Kamu boleh introvert soal perasaan, tapi jangan kebangetan. Kamu juga boleh banget ekstrovert soal perasaan, tapi juga jangan kebangetan.. kan misterius juga perlu, tapi jangan keterlaluan!! HAHAHA

UNGKAPKAN APA YANG INGIN KAMU UNGKAPKAN. DAN JANGAN UNGKAPKAN APA YANG TIDAK INGIN KAMU UNGKAPKAN. BUATLAH SEGALANYA SEIMBANG. BAHAGIAKAN JIWA, BAHAGIAKAN RASA.

 

#Sekian. Semoga bermanfaat. ;)

 #Stressor #Stress #Katarsis


Smg, 19/04/16
-dfz-

Categories

Follow me on Facebook

Follow me on Tumblr

Writing is the most fun you can have by yourself. - Terry Pratchett

Powered by Blogger.
Adsense Indonesia

About Author

Hamba Tuhan yang sedang belajar menulis.

Video of Day | Click on the link below to download the video!

Popular Posts