Suatu
hari, di akhir sesi perkuliahan Ibu Dosen bercerita. Beliau bercerita perihal
kolam ikan di rumahnya yang tak pernah meluap walau hujan mengguyurnya seharian.
“Dulu
ibu selalu resah kalo musim hujan. Kolam ikan ibu selalu meluap, jadinya
ikan-ikan ibu pada hanyut ke selokan. Tapi sekarang sudah nggak lagi dong.. kan
sudah nggak pernah meluap. Jadi ikan-ikan ibu bisa tetep awet dan hidup
harmonis,” katanya sambil memamerkan paras bangganya.
Lalu salah seorang temanku bertanya, “Bu,
kok bisa sih? Atasnya di kasih atap ya? Genteng
atau esbes bu?” celetuknya yang spontan membuat seluruh isi kelas tertawa
geli.
“Ya bisa
dong nak.. nyembuhin orang stress aja bisa, kenapa ngebahagiain makhluk-makhluk
kecil macam ikan aja nggak bisa? HAHAHA,” jawabnya yang membuat
kami semakin penasaran.
“Begini
loh nak.. kalian tahu kanal kan? Nah.. ibu membuat beberapa kanal kecil di dinding-dinding
kolam bagian atas. Ja.. …”
“Kanal
bu? Maksudnya?” potong salah seorang teman dengan muka polosnya.
“Kanal
nak.. maksud ibu saluran pembuangan air. Jadi, meskipun ada hujan badai
berminggu-minggu pun kolam ibu gak akan meluap. PAHAM??”
“Ohh iya
iya bu.. benar juga ya bu, pada dasarnya selalu ada masa dimana segala sesuatu yang ditumpuk dan dipendam terlalu
lama akan menjadi buyar dan tumpah ruah,” kata si
jenius.
“Yap..
itulah sebabnya kenapa makhluk bumi berkromosom XY (laki-laki) itu lebih mudah
stress dari pada makhluk berkromosom XX (perempuan).”
"Seriously bu?"
"Kamu belum tau nak? Kasian banget deh.. makanya banyak baca buku dong..! Jadi ada riset yang mengatakan bahwa pasien Rumah Sakit Jiwa itu lebih didominasi oleh kaum lelaki.." jelas Ibu Dosen dengan raut muka jailnya.
---
Hmm.
Ternyata begitu.. Memang selalu ada fakta menakjubkan di balik kisah-kisah yang
diceritakan ibu dosen yang satu ini. Pada cerita kolam ikan tersebut, ibu
mengibaratkan kondisi psikis seseorang dengan kondisi di kolam tersebut. Kolam
beserta isinya adalah ibarat sebuah jiwa beserta segala hal yang berkecamuk di
dalamnya.
Dalam
membahagiakan psikisnya, seseorang perlu untuk melakukan katarsis. Apasih
katarsis itu? Lalu apa hubungannya dengan kolam dan kanal?
Katarsis
adalah proses meluapkan perasaan yang menghasilkan kelegaan dalam jiwa. Jelasnya,
katarsis itu kegiatan dimana kamu menceritakan segala unek-unek (perasaan, emosi)
yang menggerutu di jiwamu, seluas-luasnya, seterang-terangnya, kepada orang
yang kamu percaya (keluarga/sahabat/teman dekat) sehingga perasaanmu menjadi
lega dan plong. Nah, ibarat sebuah kolam, katarsis adalah kanal yang berada di
dinding kolam tersebut. Sehingga sama halnya dengan kolam, jiwa seseorang tidak
akan terguncang (stress) apabila kita menyiapkan kanal-kanal (melakukan katarsis)
setiap kali ada tekanan yang hendak mengguncang jiwa kita. Lebih jelasnya,
seseorang tidak akan mudah stress atau depresi jika tidak ada tekanan-tekanan
yang menumpuk di jiwanya. Dan sebaliknya, seseorang akan mudah terguncang
jiwanya jika ia selalu memendam segala permasalahannya dan tidak mau mencari
problem solving dari orang lain. Akibatnya, jika jiwa sudah tidak bisa
menampung seluruh tekanan (tumpukan permasalahan) yang ia simpan rapat
tersebut, maka seluruh isinya akan meluap dan mengakibatkan psikis terguncang.
Pada saat itulah tercipta sebuah gangguan psikis yang disebut stress. Jadi,
membuat kanal di kolam yang keruh itu sangat penting dilakukan.
*Kolam =
Jiwa
*Air keruh
= berbagai tekanan dalam jiwa
*Kanal =
katarsis
Lalu, mengapa penderita stress di muka bumi ini lebih didominasi oleh makhluk berkromosom XY (laki-laki)?
 |
| Stress datang, emosi meledak tidak terkontrol. -lelaki- |
Faktanya,
kebanyakan lelaki memiliki sifat introvert (tertutup) dalam hal perasaan.
Lelaki cenderung menutupi perasaannya dengan mengunggulkan rasionalnya. Itulah
sebabnya mengapa lelaki terbebas dari julukan mister baper. =)) Hal itu dapat dibuktikan
dengan tidak ditemukannya budaya curhat-curhatan (budaya katarsis) di kalangan
lelaki. Akibatnya, segala permasalahan yang menimpanya selalu mereka simpan
dalam-dalam dan tidak menghendaki orang lain untuk tahu. Hal itulah yang
kemudian memicu terjadinya stress. Karena apabila stressor demi stressor
ditumpuk dan tidak dilakukan upaya reduksi (pengurangan) tekanan, maka suatu
saat seluruh stressor itu akan tumpah ruah dan mengimplikasi menjadi stress.
Dan dari situlah kita dapat menjawab pertanyaan “Kenapa sih, lelaki yang
nggak baperan malah lebih gampang stress? kenapa sih lelaki kalo depresi
sembuhnya lama? kenapa sih.. kenapa sih..” dan kenapasih-kenapasih lainnya.
Jadi,
masih bilang kalau baper itu nggak banget?
Baper
juga perlu kelles.. karena baper itu salah satu bentuk mekanisme pertahanan diri
seorang wanita (laki-laki juga boleh kok :p) dalam menghadapi stressor. Maka
dari itulah budaya wanita yang sangat kental dengan kegiatan katarsis atau
curhat-curhatan atau baper-baperan –itu harus dilestarikan. wkwk
Asal
nggak baperan banget ajasih.. =))
So, the
main point is, KATARSIS itu perlu ya teman-teman.. katarsis itu salah satu cara
untuk menghindari stress. Kamu boleh introvert soal perasaan, tapi jangan
kebangetan. Kamu juga boleh banget ekstrovert soal perasaan, tapi juga jangan
kebangetan.. kan misterius juga perlu, tapi jangan keterlaluan!! HAHAHA
UNGKAPKAN
APA YANG INGIN KAMU UNGKAPKAN. DAN JANGAN UNGKAPKAN APA YANG TIDAK INGIN KAMU
UNGKAPKAN. BUATLAH SEGALANYA SEIMBANG. BAHAGIAKAN JIWA, BAHAGIAKAN RASA.
#Sekian.
Semoga bermanfaat. ;)
#Stressor #Stress #Katarsis
Smg, 19/04/16
-dfz-