123, Example Street, City 123@abc.com 123-456-7890 lasantha.wam

Writing is the most fun you can have by yourself. - Terry Pratchett

Showing posts with label social psychology. Show all posts
Showing posts with label social psychology. Show all posts

Sunday, March 4, 2018

Salah Ambil Jurusan, Salah Siapa?



Oleh : Diah Fatimatuzzahra
Dimuat di Tribun Jateng Edisi 1 Maret 2018

Dari waktu ke waktu, jasa konsultasi psikologi di area kampus selalu dipenuhi dengan mahasiswa yang mengeluh salah jurusan. Hal ini diperkuat dengan pernyataan direktur Talents Mapping dalam Konferensi Pers Indonesia Resources Forum (HRF) pada Rabu (27/8/2017) yang menyatakan bahwa sebanyak 87% mahasiswa Indonesia salah mengambil jurusan. Fenomena salah jurusan ini memang bukan fenomena baru, namun sudah ada sejak beberapa dekade lalu.

Sebagian besar mahasiswa yang mengaku salah jurusan tersebut mengungkapkan bahwa jurusan yang ia pilih bukanlah murni dari keinginan pribadinya, melainkan keinginan orang tuanya. Peran orang tua sebagai pengarah sekaligus sosok yang menurut norma sosial harus dipatuhi inilah yang membuat mahasiswa-mahasiswa salah jurusan tersebut mau tidak mau harus menuruti keinginan orang tuanya. Nyatanya, keputusan menyangkut masa depan para penerus bangsa memang masih didominasi oleh keinginan orang tua.

Meski demikian, ada pula yang mengaku bahwa saat menentukan jurusan, mereka terinspirasi orang-orang di sekitarnya yang terlihat sukses dengan karirnya. Kemudian muncul keinginan untuk menjadi seperti inspiratornya tersebut, tanpa mendalami lebih lanjut tentang bagaimana dan kemampuan apa saja yang harus dikuasai bila mengambil jurusan serupa. Dan setelah mereka terjun ke bangku perkuliahan, mereka baru menyadari bahwa ternyata jurusan yang digelutinya tidak sesuai dengan ekspektasi.

Kesalahan dalam pemilihan jurusan ini kemudian berimbas pada rendahnya semangat mahasiswa dalam menjalani proses pembelajaran. Akibatnya, nilai akademik mereka menjadi rendah. Beberapa penelitian pun menunjukkan bahwa ada banyak faktor yang memengaruhi prestasi akademik, dan salah satunya adalah jurusan sekolah/kuliah (Garkaz, Banimahd, & Esmaeili, 2011).

Dari segi psikologis sendiri, hal ini berhubungan dengan rendahnya motivasi berprestasi mahasiswa yang dalam hal ini dilatarbelakangi oleh ketidakmampuan mereka dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan belajar yang baru. Baik menyesuaikan diri secara kognisi, afeksi, ataupun psikomotorik. Apabila mahasiswa yang bersangkutan tidak bisa bertahan atau mencari jalan keluar, maka ia akan mengalami stres akademik. Setelah itu, timbul perasaan-perasaan semacam ancaman dan ketakutan. Ketakutan akan ketidakmampuan menyelesaikan studi tepat waktu, ketakutan akan persaingan di dunia luar, hingga ketakutan pada saat mencari lapangan pekerjaan.

Tidak bisa dimungkiri, fakta lain juga menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia belum berhasil menemukan pekerjaan yang tepat, di mana hal ini merupakan salah satu imbas dari fenomena salah jurusan. Seseorang akan mencari pekerjaan sesuai dengan ilmu yang selama ini dipelajarinya, bukan? Seorang mahasiswa Teknik Kimia tentu akan mencari pekerjaan di bidang kimiawi, seorang mahasiswa Psikologi tentu akan melamar kerja menjadi HRD atau konselor, dan bukan bekerja di bidang obat-obatan. Meski begitu, ternyata banyak sekali para pekerja yang mengaku tidak nyaman dengan pekerjaan yang saat ini digelutinya. Bukan karena tidak sesuai dengan bidang ilmunya saat kuliah, namun ada hal lain yang diam-diam menyakiti jiwanya. Mereka seolah bekerja di tempat itu namun jiwanya tidak hadir di situ. Lalu, apa yang membuat masalah ini sedemikian pelik? Siapa yang salah? Apa yang perlu diperbaiki?

Ternyata jawaban dari semua permasalahan ini cukuplah sederhana. Mereka yang merasa salah jurusan atau salah pekerjaan adalah mereka yang belum cukup mahir mengenali siapa dirinya. Bukankah pekerjaan paling menyenangkan adalah pekerjaan yang sesuai dengan pribadi kita? “Pribadimu, adalah profesimu.” Tiga kata penting yang menjadi kunci kesuksesan, namun kurang kita perhatikan.

Ada banyak orang gagal dalam menemukan jurusan atau pekerjaan, namun tidak sedikit pula yang sukses. Dan orang-orang sukses yang berhasil meraih mimpi-mimpinya adalah orang-orang yang berhasil mengajak hati, jiwa, dan raganya ikut melebur mewujudkan impiannya tersebut. Sebab pekerjaan yang tepat adalah pekerjaan yang mampu meningkatkan mutu hidup Anda. Pekerjaan yang tepat adalah pekerjaan yang sesuai dengan cara kerja yang Anda sukai serta menggambarkan siapa Anda. Dengan begitu, Anda akan mampu menggunakan kekuatan bawaan Anda dengan cara yang alami. Dan Anda tidak akan dipaksa untuk melakukan hal-hal yang sulit Anda lakukan.

Sebagaimana yang telah saya katakan sebelumnya, rahasia kepuasan karir adalah dengan mengerjakan hal yang paling Anda sukai. Hanya beberapa orang yang beruntung menemukan rahasia ini pada awal hidupnya, namun sebagian besar dari kita tidak berhasil menemukannya di waktu yang seharusnya. Kita terjebak di dalam sejenis pergulatan emosi antara ingin terjun pada dunia yang kita pikir atau orang lain pikir menarik dan harus kita lakukan, atau terjun ke dunia yang kita pikir ingin kita lakukan. Kita dihadapkan dengan dilema yang seperti itu bukan? Maka, cara terbijak untuk menjawab dilema itu adalah dengan berkonsentrasi pada passion yang ada dalam diri Anda. Berkonsentrasilah kepada siapa Anda dan hal lain yang lebih mudah Anda pahami. Kenali diri Anda, lebih dalam dan lebih dalam. Sebab kunci utama untuk bisa menaklukkan dunia adalah dengan mengenali diri sendiri. Anda bisa belajar dari Deddy Corbuzier tentang bagaimana ia bisa menjadi sukses di tengah deritanya sebagai penderita disleksia. Begitupun dengan para inspirator lain di sekitar Anda. Tanyakan kepada mereka apa kunci kesuksesan mereka. Maka jawaban mereka tidak lain adalah dengan mengenali diri sendiri, lebih dalam dan lebih dalam.

Di era modern ini, ada banyak cara untuk mengetahui kepribadian kita. Melalui tes kepribadian Myers Briggs Type Indicator (MBTI) dan Big Five Personality misalnya. Anda dapat mencobanya di situs online terpercaya.

Silakan mencoba! 

https://mbti.anthonykusuma.com/
https://www.16personalities.com/



*Ditulis guna memenuhi tugas kelas artikel hari pertama

Friday, May 19, 2017

Komunikasi Interpersonal pada Keluarga Broken Home

 Bagaimana mengembangkan komunikasi interpersonal pada keluarga broken home?

Kasus keluarga broken home, dewasa ini sudah menjadi fenomena umum yang sering dibicarakan. Akan tetapi siapa sangka bahwa ternyata masih banyak masyarakat yang salah paham dengan istilah broken home sendiri. Kebanyakan masyarakat awam hanya menerjemahkan broken home sebagai istilah yang digunakan untuk menjuluki kasus perceraian. Mereka tidak mengetahui bahwa yang dimaksud dengan keluarga broken home bukanlah sebatas perceraian saja, akan tetapi lebih dari itu. Menurut Sofyan S. Willis (2013), yang dimaksud kasus keluarga pecah (Broken Home) dapat dilihat dari dua aspek: pertama, keluarga itu terpecah karena strukturnya tidak utuh sebab salah satu dari kepala keluarga itu meninggal dunia atau telah  bercerai; kedua, orang tua tidak bercerai akan tetapi struktur keluarga tidak utuh karena ayah atau ibu sering tidak di rumah, dan atau tidak memperlihatkan hubungan kasih sayang lagi.
Kegagalan keluarga dalam menjalin komunikasi dengan baik merupakan salah satu faktor penting yang menyebabkan keluarga menjadi broken home. Komunikasi interpersonal yang tidak lancar di antara anggota keluarga menjadikan tidak adanya keterbukaan dan rasa saling peduli satu sama lain. Akibatnya, keharmonisan dalam keluarga menjadi berkurang dan lama kelamaan akan hilang. Di situlah kemudian akan timbul prasangka-prasangka negatif dalam keluarga yang disertai dengan masalah-masalah yang semakin pelik. Lalu, komunikasi yang bagaimanakah yang dapat membantu keluarga broken home mendapatkan keharmonisannya kembali?
Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk memperbaiki komunikasi dalam keluarga. Salah satunya yaitu dengan melakukan komunikasi interpersonal secara efektif. Dalam buku Komunikasi Antarpribadi, Alo Liliweri (1991:13) mengutip pendapat Joseph A. Devito mengenai ciri komunikasi interpersonal yang efektif, yaitu:

  • Keterbukaan (openness), Kemauan menanggapi dengan senang hati informasi yang diterima di dalam menghadapi hubungan antarpribadi.
  • Empati (empathy), Empati adalah kemampuan seseorang untuk mengetahui apa yang sedang dialami orang lain pada suatu saat tertentu, dari sudut pandang orang lain itu, melalui kacamata orang lain itu.
  • Dukungan (supportiveness), Situasi yang terbuka untuk mendukung komunikasi berlangsung efektif. Hubungan interpersonal yang efektif adalah hubungan di mana terdapat sikap mendukung. 
  • Rasa Positif (positiveness), Seseorang harus memiliki perasaan positif terhadap dirinya, mendorong orang lain lebih aktif berpartisipasi, dan menciptakan situasi komunikasi kondusif untuk interaksi yang efektif.
  • Kesetaraan (equality), Komunikasi antarpribadi akan lebih efektif bila suasananya setara. Artinya, ada pengakuan secara diam-diam bahwa kedua belah pihak menghargai, berguna, dan mempunyai sesuatu yang penting untuk disumbangkan. 
Melalui kelima aspek di atas (keterbukaan, empati, dukungan, rasa positif, dan kesetaraan), maka komunikasi interpersonal yang efektif akan diperoleh. Pada keluarga broken home, kelima aspek tersebut cenderung diabaikan sehingga terciptalah masalah-masalah baru. Oleh karena itu, untuk menanganinya keluarga broken home harus menumbuhkan kembali kelima aspek di atas. Di mana seluruh anggota keluarga harus terbuka antara satu sama lain dalam hal apapun. Dalam hal ini peran orang tua sangat penting guna mendidik anak-anaknya agar memiliki sifat ekstrovert kepada kedua orang tuanya. Selain itu, rasa empati dan saling peduli, saling mendukung, berpositive thinking, serta menyetarakan atau membuat semua anggota keluarga merasa diperlakukan secara adil, juga sangat dibutuhkan dalam memperbaiki komunikasi di keluarga broken home.
Apabila konflik yang terjadi pada keluarga broken home sudah memanas sehingga komunikasi efektif sulit dilakukan, maka keluarga tersebut membutuhkan orang lain yang berilmu sebagai penengah. Dalam hal ini, keluarga broken home dapat menghubungi seorang psikolog atau konselor keluarga untuk melakukan konseling keluarga. Konseling Keluarga sendiri merupakan suatu upaya yang secara signifikan dapat membantu anggota keluarga dalam memecahkan masalah komunikasi di dalam sistem keluarga. Pada cara ini, konselor keluarga memimpin diskusi keluarga untuk menemukan solusi terbaik atas masalah yang dialami keluarga tersebut. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Dr. Sofyan S. Willis, beliau menjelaskan bahwa peranan konselor keluarga dalam konseling keluarga ialah mengatur alur atau lalu lintas pembicaraan agar mencapai tujuan. Adapun tujuan tersebut yaitu: Pertama, komunikasi antar keluarga kembali lancar, konflik dan sikap bermusuhan telah sirna. Kedua, jika ada seorang anggota keluarga bermasalah yang mengganggu seluruh sistem keluarga, maka individu yang bermasalah tersebut kembali normal yaitu mampu beradaptasi dalam keluarga, dan sistem keluarga kembali normal. Dengan demikian, konseling keluarga dapat dijadikan sebagai sarana efektif untuk memperbaiki komunikasi pada keluarga broken home



 Diah Fatimatuzzahra (15010115140206) | Fakultas Psikologi | Universitas Diponegoro
 *Ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Sosial (2015)
 

Categories

Follow me on Facebook

Follow me on Tumblr

Writing is the most fun you can have by yourself. - Terry Pratchett

Powered by Blogger.
Adsense Indonesia

About Author

Hamba Tuhan yang sedang belajar menulis.

Video of Day | Click on the link below to download the video!

Popular Posts